JAKARTA, KOMPAS.com - Menyusuri trotoar di sepanjang Jalan Kramat Kwitang menuju lampu merah Tugu Tani, Jakarta Pusat, pemandangan ibu kota tidak hanya dihiasi deretan gedung dan macet, tetapi juga penyedia jasa tukar mata uang asing informal.
Di trotoar yang panas, beberapa pria duduk menanti pelanggan dengan papan sederhana bertuliskan “Jual Beli Valas”, “Dollar Rusak”, atau simbol dolar yang dicat manual.
Kursi plastik biru, meja kecil, dan warung seadanya menjadi kantor mereka. Tak ada mesin penghitung uang otomatis atau alat pendeteksi uang palsu canggih. Hanya pengalaman, ketelitian, dan jaringan lama yang menjadi modal utama.
Berbeda dengan kantor penukaran resmi yang menerapkan prosedur ketat, para pelaku jasa di Kwitang menawarkan fleksibilitas.
Mereka menerima dolar lama, uang sedikit sobek, bahkan koin asing yang umumnya ditolak bank atau money changer besar. Bagi sebagian warga, kehadiran mereka menjadi solusi cepat tanpa birokrasi.
Bertahan dengan Sistem PerantaraDi sebuah warung kecil di tepi Jalan Kramat Kwitang, Rabu (25/2/2026), Nana (58) duduk di balik meja kayu sederhana. Di depan warungnya terpampang papan informasi penukaran valas.
“Saya belajar sekitar 1998. Diajarin teman cara bedain uang asli sama palsu. Mulai serius sekitar 2000 sampai 2005,” ujar Nana.
Menurutnya, krisis moneter 1998 menjadi titik awal ramainya transaksi. Banyak orang membawa dolar untuk ditukar karena nilai rupiah jatuh drastis.
Baca juga: Prabowo Saksikan Penandatanganan 11 MoU Senilai 38,4 Miliar Dolar AS di Business Summit US-ABC
Sistem kerjanya kini sebagai perantara. Jika ada orang menjual dolar, ia memeriksa kondisi fisik uang. Untuk nominal tertentu, ia menghubungi “bos”, penampung yang memiliki jaringan lebih besar.
“Kalau uangnya bagus, saya telepon bos dulu. Kirim foto. Kalau disetujui baru saya bayar,” kata dia.
Mata uang yang ia tangani beragam, mulai dari dolar Amerika, dolar Singapura, ringgit Malaysia, euro, yuan, hingga dinar Kuwait dan riyal Oman. Namun, yang paling sering menurutnya adalah dolar Singapura dan dolar Amerika.
Risiko uang palsu tetap ada. Nana menunjukkan contoh yuan palsu yang pernah ia dapat. Perbedaannya terlihat dari tekstur kertas yang lebih licin dan tidak adanya benang pengaman.
“Kalau sudah pengalaman, biasanya ketahuan. Saya cek serinya, benangnya, tintanya,” tutur Nana.
Meski demikian, lima tahun terakhir transaksi semakin sepi. Dalam sepekan, kadang hanya satu transaksi. Hari itu pun belum ada pembeli.
“Kalau ada ya alhamdulillah. Kalau nggak ada ya nggak ada,” ucap dia.





