Ringgit Malaysia Makin Kuat Terhadap Dolar AS, Bagaimana Nasib Rupiah?

viva.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Mata uang Malaysia, ringgit, menunjukkan performa impresif terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan didorong kombinasi data ekonomi domestik yang solid serta prospek perlambatan ekonomi AS yang melemahkan daya tarik dolar.

Ringgit menguat ke posisi 3.8835–3.9065 per dolar AS saat pembukaan perdagangan pukul 08.00 waktu setempat, Senin, 23 Februari 2026. Lonjakan berhasil membuat ringgit menembus level tertinggi dalam delapan tahun terakhir. 

Baca Juga :
IHSG Rebound Didukung Sektor Industri dan Komoditas, Cek 3 Saham Top Gainers di Jajaran LQ45
Rupiah Melemah usai Pemerintah Tarik Utang Baru Rp 127,3 Triliun di Januari 2026

Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd, Afzanizam Abdul Rashid, menjelaskan naiknya nilai tukar rupiah terhadap ringgit terjadi bersamaan dengan melemahnya sejumlah indikator ekonomi AS, termasuk perlambatan pertumbuhan dan sentimen bisnis. Penguatan mata uang Negeri Jiran sekaligus menandai meningkatnya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Malaysia di tengah ketidakpastian global.

“Data produk domestik bruto kuartal IV 2025 tercatat melambat di 1,4 persen, sementara inflasi tetap di atas target dua persen, disertai melemahnya sentimen konsumen dan pelaku usaha,” ujarnya dikutip dari FreeMalayasiaToday pada Rabu, 25 Februari 2026.

Ringgit Malaysia
Photo :
  • The Star

Selain faktor ekonomi, dinamika kebijakan perdagangan AS juga memengaruhi pergerakan mata uang global, termasuk ringgit. Ketidakpastian meningkat setelah Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa Presiden Donald Trump tidak memiliki kewenangan konstitusional untuk menerapkan tarif global secara luas melalui Undang-Undang International Emergency Economic Powers Act (IEEPA).

Meski demikian, Trump tetap bersikukuh untuk menaikkan tarif impor global menjadi 15 persen dari sebelumnya 10 persen dengan menggunakan dasar hukum lain. Langkah ini memicu kekhawatiran baru di pasar keuangan global.

“Presiden Trump tetap bersikeras menerapkan tarif menggunakan undang-undang lain. Pada saat yang sama, beberapa mitra dagang mengindikasikan akan menghentikan proses ratifikasi perjanjian perdagangan dengan AS,” kata Afzanizam.

Di kawasan Asia Tenggara, penguatan ringgit juga terlihat terhadap sejumlah mata uang regional, termasuk rupiah Indonesia. Ringgit tercatat menguat ke kisaran 229,9–231,4 per rupiah dibandingkan sebelumnya di level 230,8–231,3.

Ringgit juga menunjukkan penguatan terhadap dolar Singapura menjadi 3,0712-3,0899 dari 3,0724-3,0774. Namun, ringgit melemah terhadap baht Thailand menjadi 12,5201-12,6024 dari 12,4952-12,5216.
 
Pada perdagangan hari yang sama, Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Rupiah ditransaksikan di Rp 16.849 per dolar AS di perdagangan spot. Posisi itu menguat 39 poin atau 0,23 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.888 per dolar AS.

Baca Juga :
Bursa Asia Melonjak Tajam Ikuti Reli Wall Street, Sentimen AI dan Geopolitik Gerakkan Pasar Global
IHSG Dibuka Menghijau namun Dibayangi Koreksi Imbas Ketidakpastian Tarif Trump
Harga Emas Hari Ini 24 Februari 2026: Emas Antam Kinclong Naik Rp 40 Ribu per Gram, Produk Global Terjun Bebas

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hendra Basir Tegas Bantah Tuduhan Pelecehan dan Kekerasan Fisik Terhadap 8 Atlet Usai Dinonaktifkan Sebagai Pelatih Panjat Tebing Indonesia
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Menteri Rini Tegaskan tidak Semua ASN Bisa Jadi Komcad
• 12 jam lalujpnn.com
thumb
China Respons "Kekacauan" Tarif Trump, Blak-blakan Sebut Begini
• 19 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Initp, Ini Syarat Magang Kemendiktisaintek 2026, Terbuka untuk Semua Jurusan!
• 23 jam lalumedcom.id
thumb
Mendagri Ajak Kepala Daerah Manfaatkan Program 3 Juta Rumah
• 1 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.