Untung dan Rugi dalam Hidup Selalu Kembali ke Nol

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Di dunia ini, hampir semua hal selalu disertai pasangan: ada yang didapat, ada yang hilang.

Cinta memberi kebahagiaan, tetapi juga menghadirkan luka. Harta memberi kenikmatan, tetapi juga membawa kekhawatiran. Kesuksesan membuat kita bangga, namun ketika gagal, rasa sakitnya bisa terasa jauh lebih dalam.

Ketika kita mengharapkan sesuatu lalu mendapatkannya, itu adalah kebahagiaan. Namun saat kita kehilangannya, kesedihannya sering kali sebanding.

Jika mendapatkan sesuatu memberi kita delapan bagian kebahagiaan, maka kehilangan hal itu mungkin membawa delapan bagian kesedihan. Pada akhirnya, jumlahnya hampir sama.

Ada orang yang memperoleh kekayaan, tetapi kehilangan kesehatan, keluarga, atau cinta. Ada pula yang mungkin kehilangan tiga bagian kesuksesan dalam karier, namun mendapatkan tiga bagian kualitas hidup, kesehatan, atau kebebasan waktu.

Kadang terlihat tidak adil. Tetapi jika direnungkan, sebenarnya ada keseimbangan.

Banyak orang mengira orang kaya lebih bahagia. Itu belum tentu benar. Seorang yang sederhana mungkin bisa bahagia hanya dengan beberapa ratus rupiah. Namun ketika dia menjadi kaya, mungkin dia membutuhkan puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu untuk merasakan kebahagiaan yang sama.

Semakin berat selera, semakin sulit merasakan nikmatnya makanan. Semakin banyak uang, semakin kecil nilainya terasa. Saat sangat lapar, satu roti terasa luar biasa. Tetapi setelah makan lima roti, rasanya pun hambar.

Orang yang terlalu banyak uang takut dicuri. Rumah terlalu besar takut dibersihkan. Makan terlalu banyak takut gemuk. Makan terlalu enak takut sakit.

Lucunya, banyak orang kaya kini justru makan sayuran mentah, umbi-umbian, biji-bijian, minum jus gandum—makanan yang dulu dianggap sederhana atau bahkan makanan ternak.

Saya teringat sebuah kisah tentang seekor rubah.

Rubah itu melihat anggur yang ranum di dalam tembok. Ia ingin sekali memakannya. Setelah mencari jalan masuk, dia menemukan lubang kecil, tetapi tubuhnya terlalu besar untuk melewati lubang itu. Dia pun berpuasa enam hari hingga tubuhnya kurus, lalu berhasil masuk dan menikmati anggur dengan puas. Namun setelah kenyang, tubuhnya tak lagi muat keluar. Dia  pun kembali berpuasa enam hari agar kurus dan bisa keluar.

Jadi, bukankah pada akhirnya hasilnya sama saja?

Seekor tikus tanah yang hidup di saluran air minum air kotor. Seekor tikus tanah di tepi sungai besar minum air jernih. Namun seberapa banyak air yang bisa ditampung oleh perut kecil seekor tikus?  Minum terlalu banyak pun tak ada gunanya.

Bahkan jika kita memiliki seluruh dunia, kita tetap hanya makan tiga kali sehari dan tidur di satu tempat tidur.  Punya seratus ranjang pun tetap hanya bisa tidur di satu ranjang. Punya seribu pasang sepatu tetap hanya bisa memakai satu. Memesan seratus hidangan pun hanya bisa mengenyangkan satu perut.

Kita datang ke dunia ini untuk mengalami kehidupan. Mungkin ada perbedaan harta dan status, tetapi pengalaman bahagia dan menderita tidak mengenal kasta.

Orang kaya mungkin bahagianya lebih rumit. Orang miskin mungkin bahagianya lebih sederhana. Hanya itu perbedaannya.

Saat kamu bahagia, kesedihan mengintai di sudut lain. Saat kamu menderita, kebahagiaan sedang menunggu.

Pada akhirnya, ketika dihitung ulang, semua terasa seimbang. Yang kamu dapat dan yang kamu hilangkan, yang baik dan yang buruk—setelah dijumlah dan dikurang, hasilnya hampir sama.

Ada yang lebih dulu mendapatkan, ada yang lebih lambat. Ada yang lebih dulu kehilangan, ada yang belakangan.

Namun jumlah akhirnya tetap sama.

Ketika kematian tiba, semuanya menjadi setara. Tak ada lagi kaya atau miskin. Kematian adalah angka sepuluh yang mutlak.

Jika seseorang memperoleh sepuluh bagian kebahagiaan, maka dia juga akan kehilangan sepuluh bagian itu saat pergi.

Ini adil.

Ada yang mendapat tiga, ada yang mendapat tujuh. Yang mendapat tiga mungkin merasakan tujuh bagian sukacita karena kesederhanaan. Yang mendapat tujuh mungkin hanya merasakan tiga bagian kebahagiaan karena kompleksitasnya.

Yang lebih dulu mendapat mungkin lebih dulu kehilangan. Yang belum mendapat, mungkin tak perlu kehilangan.

Karena itu, hidup tak perlu terlalu diperhitungkan. Tidak perlu terlalu menghitung untung-rugi. Cukup jalani dan rasakan.

Renungan

Untung dan rugi dalam hidup tidak sesederhana angka.

Ada yang mendapat berkah dari musibah. Ada pula yang mendapat petaka dari keberhasilan.

Jika dilihat dari sudut pandang spiritual, tidak perlu terlalu larut dalam kegembiraan saat memperoleh sesuatu—karena pada waktunya ia akan pergi.

Tidak perlu terlalu hancur saat kehilangan—karena sejatinya itu memang bukan milik kita selamanya.

Harta, nama, jabatan—semuanya hanya titipan sementara.

Tentang kisah rubah dan anggur—memang pada akhirnya ia kembali ke keadaan semula.
Namun setidaknya ia pernah merasakan manisnya anggur. Dan kenangan itu akan selalu ada.

Awal dan akhir mungkin sama, tetapi pengalaman di antaranya adalah sesuatu yang nyata.

Mungkin pada akhirnya hidup kembali ke nol. Namun selama perjalanan menuju nol itu, kita bisa memilih untuk hidup dengan penuh rasa syukur dan cukup.

Karena yang terpenting bukanlah hasil akhirnya, melainkan bagaimana kita menikmati setiap momen sebelum angka itu kembali menjadi nol. (jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Nadiem Ungkap Fakta Persidangan Tak Ada Aliran Dana Rp809 Miliar
• 41 menit lalumetrotvnews.com
thumb
PGN masuk jajaran 500 Perusahaan Asia-Pasifik Terbaik versi TIME
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Transformasi komunikasi publik di era netizen ekspresif
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Indosat - Komdigi Luncurkan Aplikasi Sahabat AI, LLM Paling Indonesia
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Oknum Brimob M.S di PTDH Atas Kasus Penganiayaan Siswa di Maluku Hingga Tewas: ini penjelasan Polda Maluku
• 8 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.