Rinciannya, jenjang SMP/MTs sebanyak 76,46 persen siswa mengalami gejala ansietas ringan, 7,89 persen terindikasi ansietas berat, 15,23 persen gejala depresi ringan, dan 7,42 persen terindikasi depresi berat.
Pada jenjang SD/MI, dari 80.724 peserta, sebanyak 43.390 siswa (53,75 persen) terindikasi masalah kesehatan jiwa yang didominasi gejala ansietas ringan dan depresi ringan.
Sementara itu, di jenjang SMA/MA tercatat 25,79 persen siswa terindikasi masalah serupa, dan di SLB mencapai 48,51 persen.
Psikolog dari Fakultas Psikologi UGM, Diana Setyawati, menyoroti kerentanan generasi Alpha terhadap tekanan psikologis. Menurutnya, generasi Alpha lahir dan tumbuh di era digital, di mana teknologi berkembang pesat dalam mengakses berbagai informasi.
“Dunia maya memberikan insecurity yang sangat besar. Anak-anak semakin banyak tahu banyak hal, sayangnya beberapa informasi yang didapatkan justru membuat insecurity semakin tinggi,” ujar Diana dikutip dari laman ugm.ac.id, Rabu, 25 Februari 2026.
Diana menjelaskan generasi saat ini tumbuh dengan nilai-nilai yang dibentuk oleh algoritma media sosial, bukan lagi dari keluarga. Media sosial sekarang didominasi oleh hal-hal instan, hedonisme, pamer kekayaan, pamer gaya hidup orang terkaya.
Baca Juga :
Remaja Sering Stres Malam Hari? Coba Tips Ini Biar Nggak Kepikiran Terus"Jika keluarga tidak menanamkan nilai dari rumah, maka fungsi keluarga itu akan diambil alih oleh apa yang mereka lihat di dunia maya,” ujar akademisi itu.
Menurutnya, upaya pencegahan harus dimulai dari keluarga dengan pemahaman orang tua tentang kesehatan mental. Dia menjelaskan anak dengan kesehatan mental yang baik mampu mengenali potensi diri, memiliki tujuan hidup, mampu mengelola stress sehari-hari, produktif, serta bermanfaat bagi orang lain.
“Saya pikir orang tua perlu memahami ciri-ciri kesehatan mental bagi anak, sehingga ketika melihat anak menunjukkan perubahan perilaku, mereka memahami apa yang terjadi dan bagaimana cara memberikan pertolongan,” ucap dia.
Dia mengingatkan persoalan kesehatan mental generasi muda merupakan tanggung jawab bersama secara holistik. Pemerintah harus memberikan pendidikan dan edukasi skill berkeluarga.
Sekolah harus melakukan pendekatan School-Based Mental Health. Keluarga mesti dikuatkan agar mampu menjadi punggung kesehatan mental anak-anak.
“Pelayanan kesehatan juga harus siap ketika kesadaran masyarakat mulai meningkat,” tegas dia.
Diana juga menekankan sebaiknya sedini mungkin sistem kesehatan mental harus dibangun melalui promosi dan prevensi kesehatan secara holistik. Sehingga generasi muda dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dengan kesehatan emosional.
“Kita harus membangun sistem kesehatan mental yang kuat. Promosi dan prevensi secara holistik harus dilakukan. Jangan sampai generasi kita tumbuh dengan kerentanan yang tidak tertangani,” ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)





