Gaikindo Sebut Sejumlah Pabrikan Mobil RI Sudah Siap Tenggak Bioetanol

bisnis.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengungkapkan kesiapan produsen kendaraan di dalam negeri untuk menenggak bahan bakar nabati jenis bioetanol.

Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara mengatakan, kajian mengenai bioetanol di industri otomotif sejatinya sudah dimulai sejak 2 dekade lalu sehingga saat ini sejumlah pabrikan mobil anggota Gaikindo sudah kompatibel dengan etanol E10.

"Dari industri, pembahasan bioetanol sebenarnya sudah sejak 2006. Lalu, pada 2009, anggota-anggota Gaikindo sudah melakukan kajian. Jadi, untuk campuran 10% itu tidak ada masalah. Problemnya sekarang, bahan bakarnya ada atau tidak?” ujar Kukuh dalam Bisnis Indonesia Forum pada Rabu (25/2/2026).

Pasalnya, kesiapan produsen otomotif dalam negeri menjadi faktor krusial jelang target mandatori pencampuran etanol 10% (E10) pada bahan bakar minyak (BBM) bensin pada tahun depan.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan mandatory E10 dimulai pada 2027, dengan kebutuhan etanol sekitar 1,4 juta ton. Saat ini, pemerintah tengah mempersiapkan pasokan bahan baku hingga mekanismenya.

Kebutuhan etanol berbasis bahan baku nabati, seperti singkong, jagung, hingga tebu, memerlukan proses penanaman terlebih dahulu sebelum diolah di pabrik etanol. Seluruh rangkaian tersebut diperkirakan memakan waktu sekitar 1,5 hingga 2 tahun hingga siap diproduksi menjadi bahan bakar.

Baca Juga

  • Pengusaha AS Bidik Ekspor 1 Miliar Galon Etanol ke RI
  • RI Buka Opsi Impor Etanol dari AS untuk Kebutuhan Mandatory E10
  • Bahlil Pastikan Kewajiban Bensin Campur Etanol Paling Lambat Mulai 2028

Salah satu pabrikan mobil yang siap menggunakan bahan bakar bioetanol adalah Toyota. Pabrikan asal Jepang tersebut memiliki teknologi flexible fuel vehicle (FFV), yakni mesin yang dirancang mampu mengonsumsi campuran etanol mulai dari 5% (E5) hingga 100% (E100), menyesuaikan komposisi bahan bakar yang digunakan.

Pada dasarnya, sejumlah model kendaraan modern telah kompatibel dengan bahan bakar campuran E10. Beberapa pabrikan yang juga menyatakan produknya mendukung E10, antara lain Daihatsu, Suzuki, Mitsubishi, hingga Chery.

Adapun, FFV mirip dengan kendaraan konvensional berbasis BBM (internal combustion engine/ICE). Namun, yang membedakan adalah sistem bahan bakar yang dapat menggunakan etanol dan pengaturan sistem penggerak yang berbeda.

Perlu diketahui, bioetanol merupakan bahan bakar alternatif dari nabati seperti tebu, singkong, atau jagung yang dapat dicampur dengan bensin dalam kendaraan bermotor. Sejumlah negara pun telah mengembangkan bioetanol, seperti Amerika Serikat (AS), Brasil, hingga Eropa.  

Polemik di Masyarakat

Kendati demikian, Kukuh menyoroti bahan bakar bioetanol sempat memicu polemik di tengah masyarakat, terutama terkait kekhawatiran akan dampaknya terhadap mesin kendaraan. Oleh karena itu, Gaikindo mendorong adanya edukasi yang komprehensif agar publik memperoleh pemahaman yang utuh mengenai penggunaan campuran etanol.

“Masyarakat perlu diberikan penyuluhan bahwa ini tidak bermasalah. Kemarin sempat ramai anggapan bahwa etanol itu buruk. Saya sangat khawatir karena sejak cukup lama kami telah melakukan kajian dan hasilnya menunjukkan bahwa E10 pun sudah tidak ada masalah," jelas Kukuh.

Alhasil, Gaikindo menyatakan dukungannya terhadap implementasi bahan bakar bioetanol karena dinilai berpotensi menciptakan efek pengganda (multiplier effect), tidak hanya bagi industri otomotif, tetapi juga pada sektor hulu, mulai dari petani tebu hingga singkong sebagai penyedia bahan baku.

Senada, Ketua Umum Asosiasi Produsen Spiritus dan Etanol Indonesia (Apsendo) Izmirta Rachman menegaskan publik perlu menyikapi isu terkait bahan bakar bioetanol tersebut secara rasional. 

Menurutnya, persoalan utama bukan pada kendaraannya, melainkan pada upaya menekan emisi. Karena itu, masyarakat didorong untuk berpikir positif dalam mendukung setiap kebijakan yang bertujuan mengurangi emisi.

“Dari sisi produsen, isu kualitas ini sudah menjadi ranah yang tidak perlu diperdebatkan karena kualitas etanol Indonesia sudah memenuhi standar nasional dan internasional,” pungkas Izmirta.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
President Prabowo Receives F-16 Escort, Royal Welcome in Jordan
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Prabowo Bakal Resmikan Ratusan Ribu Unit Rumah Subsidi di Jateng dan Jatim
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Garuda Mau Beli 50 Boeing dari AS, Pengamat Nilai Skema-Pendanaan Harus Jelas
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Video: Thr Wajib Cair H-7 Lebaran, Pemerintah Siapkan Posko Pengaduan!
• 5 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Menhub Dorong Masjid Setiap Jalur Mudik Jadi Rest Area Alternatif
• 23 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.