Pelatih Panjat Tebing Indonesia, Hendra Basir, buka suara soal dugaan pelecehan. Hendra dinonaktifkan oleh Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) karena dugaan kasus tersebut.
Hendra menerangkan, hingga Surat Keputusan (SK) dari federasi terkait penonaktifan sebagai pelatih kepala keluar, ia belum pernah diberi ruang untuk klarifikasi. Ia mengaku sama sekali tidak pernah melakukan hal tidak senonoh kepada atlet putri.
Adapun tindakan mencium kening atau ubun-ubun dan memeluk atlet putri adalah caranya memotivasi atlet yang sedang drop saat pertandingan maupun latihan. Ia menegaskan itu bukan dalam konteks ingin melecehkan.
"Tetapi itu 'kan dalam konteks memberikan semangat kepada mereka kalau sedang menangis atau mentalnya drop, jadi ya pasti saya peluk dan diakhirnya mencium keningnya, layaknya kebiasaan yang saya lakukan kepada anak saya kalau habis shalat atau mau berangkat sekolah," ujar Hendra dikutip dari Antara.
Menurut Hendra, psikolog tim menyatakan tindakannya telah melecehkan atlet putri. Padahal selama 12 tahun, ia tidak pernah sekali pun perilaku itu diperingatkan sebagai tindakan pelecehan, meski sudah diketahui psikolog. Adapun salah satu dari tiga atlet putri yang melapor, bahkan juga telah meminta maaf kepada Hendra dengan disaksikan sejumlah atlet lainnya pada pertengahan Januari lalu.
"Jadi menurut saya, ini memang terkonsep untuk memojokkan, begitu pun ya tidak apa-apa, saya terima penonaktifan sebagai pelatih kepala itu, meski sampai saat ini tidak ada undangan federasi kepada saya untuk mengklarifikasi informasi yang beredar," lanjut Hendra.
Pelaporan delapan atlet itu dilakukan pada 28 Januari 2026 kepada Ketua Umum PP FPTI Yenny Wahid. Kini, Sekretaris Umum PP FPTI, Wahyu Pristiawan Buntoro, mengungkapkan federasi telah membentuk tim pencari fakta (TPF) terkait penonaktifan pelatih tersebut, akibat dugaan tindakan pelecehan seksual dan kekerasan fisik kepada atlet.





