Dari Krisis 98 ke Era Digital: Sisa-sisa Money Changer Trotoar Jakarta

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com – Di trotoar Jalan Kramat Kwitang, Jakarta Pusat, keberadaan money changer jalanan yang dulu menjamur kini hanya menyisakan segelintir orang.

Pada era krisis moneter 1998, kawasan ini dipenuhi sekitar 20 pelaku jasa penukaran mata uang asing yang duduk di trotoar, dengan papan pengumuman sederhana bertuliskan “Jual Beli Valas.”

Kini, hanya enam yang bertahan, termasuk Nana (58), yang masih setia menjalani profesi di atas ubin panas ibu kota.

“Dulu ramai sampai 20 orang, sekarang sepi,” ungkap Nana ketika ditemui Kompas.com, Rabu (25/2/2026), di warung kecilnya yang berfungsi ganda sebagai titik transaksi valas.

Di depan warung Nana, sebuah palang informasi penukaran valuta asing menjadi penanda bahwa transaksi keuangan bisa berlangsung tanpa perlu masuk ke kantor bank resmi.

Awal Mula

Nana mengingat jelas awal mula menjalani profesinya. Ia mulai belajar sejak krisis moneter 1998, ketika nilai rupiah anjlok dan masyarakat ramai menukar dolar.

“Belajar dari teman, diajarkan cara membedakan uang asli dan palsu. Mulai serius sekitar tahun 2000 sampai 2005,” kata dia.

Nana menjelaskan, krisis moneter menjadi momentum ketika banyak orang membawa dolar untuk ditukar, sehingga aktivitas money changer jalanan tumbuh pesat.

Saat itu, transaksi berlangsung padat. Jalanan dipenuhi orang-orang membawa pecahan dolar Amerika, Singapura, Ringgit, dan berbagai mata uang asing lainnya.

Nana mengingat, keuntungan diperoleh dari selisih nilai tukar dan perhitungan yang cermat.

“Kalau dapat transaksi besar, bisa sampai puluhan ribu rupiah dalam satu hari. Tapi kadang sepi, bisa tidak ada sama sekali,” ujar dia.

Baca juga: Potret Money Changer Jalanan di Kwitang, Bertahan di Tengah Sepinya Transaksi

Sistem Kerja dan Jenis Mata Uang

Dalam menjalankan profesinya, Nana bertindak sebagai perantara. Uang yang dianggap layak akan diserahkan ke “bos” atau penampung yang memiliki jaringan money changer lebih besar.

Transaksi dilakukan dengan cek teliti. Biasanya Nana mengirim foto lembaran uang ke bos terlebih dahulu. Jika disetujui, baru ia membayar.

Mata uang yang ditangani cukup beragam. Selain Dolar Amerika lama dan baru, Nana juga menukar Dolar Singapura, Ringgit Malaysia, Euro, Yuan, Dinar Kuwait, Riyal Oman, dan Dolar Australia.

Ia menekankan bahwa Dolar Singapura dan Dolar Amerika menjadi jenis yang paling sering ditukar.

“Yang datang mayoritas supir, pegawai, atau orang yang baru pulang dari luar negeri,” ujar Nana sembari memperlihatkan sejumlah mata uang asing kepada Kompas.com.

Salah satu tantangan terbesar bagi Nana adalah uang palsu. Ia menunjukkan lembaran Yuan palsu yang pernah didapat, dengan perbedaan tekstur kertas yang lebih licin, serat berbeda, benang pengaman tidak ada, dan tinta yang kurang tajam.

“Kalau sudah pengalaman, biasanya ketahuan. Saya cek benangnya, serinya, tintanya. Tidak pernah tertipu,” katanya sambil tersenyum.

Nana mengaku, pengalaman menjadi senjata utama untuk menghindari kerugian. Setiap lembaran diperiksa secara detail, sehingga risiko transaksi palsu bisa diminimalkan.

Meskipun informal, sistem ini sudah berlangsung puluhan tahun dan menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari Nana.

Tantangan Bertahan

Jika dibandingkan era 1998–2000, kondisi sekarang jauh berbeda. Nana menuturkan bahwa hari ini saja belum ada transaksi.

Dalam seminggu, terkadang hanya satu transaksi terjadi, dan keuntungan diperoleh dari selisih nilai tukar.

Ia pernah mendapat keuntungan antara Rp 50.000–60.000 dalam satu transaksi besar. Namun jika tidak ada transaksi, tidak ada pemasukan sama sekali.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Nana menjelaskan strategi bertahan yang dijalankan selama ini. Selain dari penukaran uang, ia juga berdagang kecil-kecilan untuk menutup kebutuhan harian.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menteri Perang Pete Hegseth Tegaskan Proyek Golden Dome untuk Tempatkan Senjata AS di Luar Angkasa
• 19 jam lalupantau.com
thumb
Alasan Bareskrim Ikut Usut Remaja Wanita Dibunuh Pacar di Malang
• 23 jam laludetik.com
thumb
Setelah MA AS Batalkan Tarif Trump
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Terungkap ASN BPK Penganiaya ART di Bogor yang Akhirnya Ditahan
• 17 jam laludetik.com
thumb
Bakrie Capital Resmi Genggam 6 Persen, Saham BIPI Terbang 20 Persen
• 9 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.