Grid.ID - Di balik perannya sebagai ibu dari tiga anak dan sosok publik figur, Fairuz A Rafiq menjalani satu peran paling berat sekaligus paling bermakna dalam hidupnya yaitu merawat sang ibu yang mengidap Alzheimer. Fairuz menceritakan kondisi ibunya yang telah bertahun-tahun berjuang melawan penyakit tersebut.
Fairuz mengungkapkan bahwa Alzheimer menjadi diagnosis yang berat untuk diterima, terlebih karena penyakit ini tidak bisa disembuhkan secara medis.
"Mama sudah didiagnosa Alzheimer dan itu penyakit yang menurut dokter tidak bisa sembuh,” ujar Fairuz di kawasan Jakarta Selatan pada Selasa (24/2/2026).
Seiring waktu, kondisi fisik sang ibu juga semakin terbatas. Aktivitas yang dulu tampak sederhana kini menjadi hal yang sulit dilakukan.
"Sekarang Mama sudah enggak bisa ke mana-mana lagi. Jalan harus dibantu, duduk juga enggak bisa lama,” tuturnya.
Keterbatasan tersebut membuat Fairuz kerap dilanda rasa rindu akan masa lalu, saat ia masih bisa menghabiskan waktu di luar rumah bersama sang ibu. Ia tak menampik, ada perasaan sedih yang muncul ketika melihat orang lain masih bisa menggandeng orang tuanya berjalan-jalan.
"Kadang suka hati, ‘Ya Allah pengen banget bisa kayak gitu lagi’,” ungkap Fairuz jujur.
Namun alih-alih larut dalam kesedihan, Fairuz memilih untuk menerima takdir dengan lapang dada. Fokus hidupnya kini tertuju pada satu hal: membahagiakan sang ibu dengan cara apa pun yang masih bisa ia lakukan.
"Sekarang cuma nyenengin Mama aja. Mau makan apa, pengen apa, itu aku prioritasin,” katanya.
Baginya, kebahagiaan sang ibu tidak harus datang dari hal besar. Senyuman kecil, perhatian sederhana, dan kehadiran keluarga sudah menjadi sumber kebahagiaan tersendiri. Fairuz berusaha memastikan sang ibu merasa dicintai dan diperhatikan setiap hari, meski kondisi kesehatannya terus menurun.
Perjuangan tersebut tidak ia jalani sendirian. Suaminya, Sony Septian, juga turut berperan aktif, termasuk melibatkan anak-anak mereka untuk memberikan hiburan kepada sang nenek.
"Eijaz nyanyi, Faaz ngajiin neninya. Insyaallah jadi obat buat Neni,” ujar Sony.
Kehadiran cucu-cucu menjadi penghibur tersendiri bagi sang nenek. Tawa anak-anak, lantunan ayat suci, dan nyanyian sederhana diyakini mampu menghadirkan kebahagiaan, meski hanya sesaat. Fairuz pun sengaja melibatkan anak-anaknya agar mereka belajar tentang empati dan kasih sayang sejak dini.
Bagi Fairuz, kondisi sang ibu justru menjadi sarana pembelajaran hidup yang sangat berharga untuk anak-anaknya.
"Aku ngajarin bahwa kasih sayang itu enggak boleh putus sampai kapanpun,” ucapnya.
Ia ingin anak-anaknya memahami bahwa cinta kepada orang tua tidak berhenti oleh usia, sakit, atau kondisi apa pun. Merawat orang tua, menurut Fairuz, adalah bentuk kasih sayang yang harus terus dijaga hingga kapan pun.
Dengan penuh keikhlasan, Fairuz menutup kisahnya dengan menyerahkan segalanya pada kehendak Tuhan.
"Qadarullah, Allah yang paling tahu mana yang terbaik. Tugas kita cuma berdoa dan membahagiakan orang tua yang masih ada,” pungkasnya. (*)
Artikel Asli




