JAKARTA, KOMPAS — Penggunaan kecerdasan artifisial makin luas, tak terkecuali pada bidang kedokteran. Perkembangan teknologi terkini memungkinkan diagnosis dan deteksi kanker dengan bantuan kecerdasan buatan. Selain lebih cepat, teknologi ini membuat diagnosis lebih akurat.
Dokter spesialis patologi anatomi Rumah Sakit Siloam Lippo Village yang juga pengajar di Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan, Patricia Diana Prasetiyo, mengatakan, kecerdasan buatan kini digunakan untuk membantu proses diagnosis kanker payudara.
Proses diagnosis ini terutama untuk kanker payudara dengan status HER2. Dengan bantuan kecerdasan artifisial atau AI, maka klasifikasi HER2 jenis low dan ultralow menjadi lebih akurat.
Kecerdasan artifisial kini telah digunakan untuk membantu proses diagnosis kanker payudara, khususnya kanker payudara dengan status HER2.
”Batas antara HER2 low, ultra low, dan benar-benar null (negatif) itu sangat halus dan sangat tipis. Ternyata dengan AI, pasien yang tadinya disebutkan hasilnya null bisa didapatkan tidak semuanya null. Jadi, AI membantu meningkatkan akurasi diagnosisnya,” tuturnya di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Dengan begitu, Patricia menuturkan, peluang pasien untuk bisa mendapatkan terapi yang lebih tepat menjadi lebih besar. Sebab, pasien yang terdiagnosis dengan status null tidak bisa mendapatkan terapi.
Manfaat kecerdasan buatan untuk diagnosis kanker payudara telah ditunjukkan dari data yang dipaparkan American Society of Clinical Oncology (ASCO) pada tahun 2025. Disebutkan bahwa akurasi AI untuk mendiagnosis kasus kanker payudara HER2 mencapai 91,1 persen.
Selain itu, jumlah kasus kanker HER2 ultra low dengan bantuan AI naik 40 persen. Kesepakatan antartenaga laboratorium yang membaca hasil pemeriksaan pun naik dari 65,6 persen menjadi 80,6 persen. Hal itu menunjukkan AI mampu memberikan pola yang lebih konsisten dalam proses interpretasi data.
Meski begitu, Patricia menegaskan, kecerdasan buatan hanya membantu proses pembacaan hasil pemeriksaan pasien. Dokter patologi tetap memvalidasi hingga akhirnya merilis hasil akhir analisis data yang didapatkan.
”Dokter patologi dapat memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu membuat diagnosis yang lebih cepat dan lebih tepat. AI membantu mengidentifikasi kanker menjadi lebih personal sesuai kebutuhan tiap pasien,” kata Patricia.
Manfaat kecerdasan artifisial tersebut juga disampaikan oleh dokter spesialis radiologi RS Siloam, Dewi Tantra. Kecerdasan buatan dapat meningkatkan akurasi dalam skrining kanker paru untuk menginterpretasi hasil pencitraan rontgen dada dan CT scan.
“AI berperan sebagai alat bantu, sebagai second reader untuk menandai area paru yang mencurigakan. Misalnya, ada banyak nodul atau kelainan. AI akan membantu memberikan gambaran supaya radiolog bisa lebih cepat melihat adanya kelainan tersebut,” ujarnya.
Dewi menambahkan, kecerdasan artifisial akan membantu mempercepat alur kerja dan waktu pelaporan. Dengan begitu, pasien bisa lebih cepat mendapatkan pemeriksaan lanjutan.
Ia menyebutkan, sensitivitas kecerdasan artifisial dalam mengklasifikasi hasil rotgen dada (CVR) normal dan abnormal mencapai 87,9 persen. Sementara tingkat spesifitas mencapai 82,9 persen.
“AI pada rontgen dada membantu proses triase dengan mengidentifikasi pemeriksaan yang kemungkinan normal. Dengan demikian, dokter radiologi dapat lebih fokus menilai rontgen yang menunjukkan kelainan dan menentukan langkah lanjutan yang tepat,” ucap Dewi.
Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis hematologi onkologi medik MRCCC Siloam Hospital Semanggi, Jeffry Beta Tenggara, menambahkan, kecerdasan artifisial merupakan keniscayaan dalam perkembangan kedokteran saat ini. Kecerdasan artifisial makin memungkinkan layanan kesehatan yang personal dan presisi.
Kecerdasan artifisial pun dapat menjadi panduan bagi dokter sehingga dokter bisa lebih percaya diri dalam membuat diagnosis bagi pasien. Meski begitu, kecerdasan buatan tidak bisa menggantikan peran dokter.
“AI tidak akan menggantikan dokter. Namun dokter yang tidak menggunakan AI akan kalah dengan dokter yang memakai AI. Ke depan AI akan terus berkembang, bahkan makin lama kian pintar. AI akan membantu proses skrining lebih cepat dan lebih akurat,” kata Jeffry.





