SDG Academy Indonesia Jadi Pusat Pembelajaran Keberlanjutan Nasional

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Dalam kurun empat tahun menuju tuntasnya target global tujuan pembangunan berkelanjutan, Indonesia memperkuat pembelajaran nasional keberlanjutan. Untuk itu, Platform SDG Academy Indonesia yang dibentuk pada tahun 2019 kini dijalankan di bawah kepemimpinan Bappenas.

Peluncuran SDG Academy Indonesia di bawah kepemimpinan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) dilakukan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional atau PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, di Jakarta, pada Rabu (25/2/2026).

Turut mendampingi antara lain Kepala Sekretaris SDGs Kementerian PPN/Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali; Head of Policy and Advocay Tanoto Foundation Eddy Hendry; Sekretaris Jenderal Indonesian Society of Sustainability Professionals Doty Damayanti; dan CEO KG Media Andy Budiman.

Menurut Pungkas, SDG Academy Indonesia diluncurkan pada 2019 melalui kolaborasi Bappenas, Tanoto Foundation, dan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) Indonesia. Akademi ini berperan memperkuat kapasitas pemerintah dan nonpemerintah melokalkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainability Development Goals/SDGs).

Baca JugaCapaian SDGs Indonesia Tembus 62 Persen, Jauh di Atas Rata-rata Global

Sejak 2025, SDG Academy Indonesia dikelola Bappenas. Pada tahun 2026, SDG Academy diluncurkan di bawah Bapennas. “Langkah ini menegaskan komitmen mempeluas jangkauan serta memastikan pengelolaan berkelanjutan, inklusif, dan selaras dengan prioritas pembangunan nasional,” tuturnya.

SDG Academy Indonesia  jadi pusat pembelajaran SDGs nasional inovatif, inklusif, dan berkelanjutan. Hal itu bertujuan memperkuat kapasitas pemerintah dan pihak terkait pembangunan melalui pembelajaran berbasis pengetahuan, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi strategis mempercepat pencapaian SDGs dan agenda pembangunan nasional.

Ada tiga program utama yakni program sertifikasi kepemimpinan SDGs selama tiga bulan.  Kini, sudah ada sekitar 250 pemimpin SDG bersertifikat. “ Peserta mendapat sertifikat kepemimpinan SDG. Nantinya dikembangkan untuk membuat pelatihan SDGs eksekutif tingkat internasional,” ucap Pungkas.

Kemudian, ada program pembelajaran daring/mobile learning program yang berlangsung sepanjang tahun dan dapat diikuti masyarakat. Program ini sudah diikuti lebih dari 26.000 peserta,  yang bisa mengakses 15 modul pembelajaran SDG.

Selanjutnya, ada platform berbagi pengetahuan SDGs untuk memperkuat berbagi pengetahuan dan praktik baik SDGs dalam satu platform nasional. “SDG Academy belum banyak dilakukan di negara lain. Dengan membentuk SDG Academy Indonesia, ada misi internasional dan pelokalan, menjangkau berbagai pihak yang belum tahu SDsG,” ujarnya.

Perkuat kolaborasi

Sementara Eddy mengatakan ketika didirikan pada 2019, Academy SDG Indonesia tak sekadar peluncuran platform pembelajaran, tapi juga untuk memperkuat fondasi pengetahuan, kapasitas, dan kolaborasi dengan lintas sektor dan lintas generasi.

“Pencapaian SDGs Indonesia sudah bagus, di atas rata-rata global dan Asia Pasifik. Capaian ini bukan sekadar angka, tetapi menjadi bukti komitmen politik, penguatan regulasi, dan keberhasilan integrasi agenda pembangunan berkelanjutan ke dalam perencanaan nasional,” kata Eddy.

Dikutip dari Kompas.id, berdasarkan Laporan SDGs 2025 yang dirilis PBB, dari 17 tujuan  SDGs yang diluncurkan pada 2015, hanya 18 persen yang dinilai berada di jalur tepat. Mayoritas target bergerak sangat lambat, bahkan beberapa menunjukkan tren penurunan.

Indonesia justru mencatat progres yang solid. Laporan Voluntary National Review (VNR) menunjukkan, Indonesia berhasil mencapai 62 persen target SDGs. Dari 244 indikator yang dievaluasi, sebanyak 152 indikator atau 62 persen telah tercapai.

Eddy mengatakan SDG Academy Indonesia di bawah Bappenas untuk memastikan tiap program terukur dan berdampak. Akademi ini menjadi pusat pembelajaran strategis  untuk meningkatkan kapasitas pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menerjemahkan keberlanjutan dalam perencanaan, penganggaran, dan implementasi kebijakan SDGs.

“Target menuju pencapaian SDGs 20230 dipercepat , sekaligus juga diseleraskan dengan visi Indonesia Emas 2045,” kata Eddy.

Menurut Doty Damayanti, dalam mencapai SDGs 2030, sumber daya manusia (SDM) menjadi krusial. Namun para profesional   terkait keberlanjutan melihat hal paling utama yakni masih ada kesenjangan pemahaman berbagai pihak tentang keberlanjutan.

“Ada ambisi terkait SDGs 2030 yang sisa empat tahun lagi dan pembangunan jangka panjang 2045. Namun pas bicara eksekusi, butuh peran SDM (sumber daya manusia). Di sini, muncul masalah kesenjangan terkait keterampilan, pemahaman, sampai implementasi,” ujarnya.

Baca JugaPembangunan Ramah Lingkungan Datangkan Manfaat Ekonomi

Terkait hal itu, dukungan Academy SDG Indonesia dapat dimanfaatkan untuk perubahan mindset karena SDG menyangkut generasi sekarang dan generasi ke depan. Selain itu,  perlu untuk upskilling dan re-skilling untuk mendukung ekonomi hijau (green economy). 

Di sesi gelar wicara yang dipandu VP Sustainability KG Media Wisnu Nugroho, aktris yang juga gender equality campaigner Hannah Al Rashid mengatakan sebenarnya di akar rumput, banyak perempuan aktif berperan mengimplementasikan SDGs. Para perempuan punya insting untuk menyebarkan informasi.

“Para perempuan ini bisa menjadi aset dalam emndukung SDGs. Namun, mereka juga menjadi kelompok yang rentan untuk tertinggal karena masalah gender atau relasi kuasa,” kata Hannah.

Sementara itu, Akmal Budiman, alumni SDG Academy Indonesia, mengatakan dirinya sebagai profesional keuangan mendapat manfaat saat mengikuti pembelajaran keberlanjutan melalui SDG Academy Indonesia. Dalam satu angkatan, ada berbagai profesi. Lalu mereka sepakat membuat proyek nyata  untuk menerapkan SDGS.

“Kami membantu para kepala sekolah dan guru , waktu itu tergabung dalam Balai Guru Penggerak, di berbagai daerah. Kebnayakan dari emreka belum paham sustainability, namuns ebenarnya secara praktik sudah emlakukan di skeolah. Misal ada yang mewajibkan anak-anak bawa botol minum, cuma tidak tahu itu bagian dari sustainability,” kata Akmal.

Bersamaan dengan peluncuran SDG Academy Indonesia di bawah Kementerian PPN/Bappenas, diumumkan pula pemenang lomba tulisan soal SDGs. Lomba penulisan dibagi dalam dua kelompok, yakni untuk kategori jurnalis dan esai.

Pemenang  di kelompok jurnalis juara 1 yakni Sevrinus Waja (NTTVIVA.co.id), juara 2 Lilik Darmawan (Media Indonesia), dan juara 3 Amalia Zahira (CNBC Indonesia). Adapun untuk penulisan esai, juara 1 diraih Ebel Vigrajuska Asri, juara 2  Amelya Indah fatma Rini, dan juara  3 Eksal Yoga Setiawan.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemda DIY Inventarisasi Aset, Hotel Mutiara Dikelola Pihak Ketiga 30 Tahun
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Jalin Silaturahmi, Warga di Kendari Jejer 100 Meja di Jalan Untuk Buka Bersama | SAPA SIANG
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Andritany usai Persija Tekuk Malut United: Jaga Asa di Jalur Juara
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Kurir Narkoba Antarkota Dibekuk Polres Bekasi Kota, 2 Kg Ganja Disita
• 18 jam laludetik.com
thumb
Yayasan Muslim Sinar Mas wakafkan Al Quran untuk pulau terluar
• 7 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.