Setelah Remuk dari Persija, Kini Kalah Lawan Persebaya Surabaya: Kualitas Permainan PSM Makassar Turun ke Level Liga 2?

harianfajar
6 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR — Peluit panjang di Stadion Gelora Bung Tomo, Rabu malam, 25 Februari 2026, tidak hanya menandai kekalahan PSM Makassar dari Persebaya Surabaya. Ia juga seperti menegaskan satu pertanyaan yang mulai ramai dibicarakan publik sepak bola: apa yang sebenarnya terjadi dengan permainan Juku Eja?

Kekalahan 0-1 lewat gol Paulo Gali Freitas pada menit ke-27 menjadi hasil negatif ketiga secara beruntun bagi PSM. Sebuah rangkaian hasil yang membuat klub juara Liga 1 musim 2022/2023 itu kini tertahan di papan bawah klasemen Super League 2025/2026.

Lebih mengkhawatirkan dari sekadar skor adalah cara mereka kalah.

PSM tampak kehilangan identitas permainan—sesuatu yang dulu menjadi ciri khas tim ini: disiplin, agresif, dan efisien dalam transisi.

Kini, yang terlihat justru sebaliknya.

Tim yang Sulit Menang

Dalam beberapa pekan terakhir, kemenangan menjadi barang langka bagi PSM Makassar. Satu-satunya hasil positif datang saat menghadapi PSBS Biak. Di luar itu, performa tim cenderung stagnan, bahkan menurun.

Kekalahan dari Persija Jakarta sebelumnya sempat dianggap sebagai hasil yang masih bisa dimaklumi karena faktor kualitas lawan. Namun tumbang lagi dari Persebaya memperlihatkan pola yang lebih dalam: PSM kesulitan mengontrol pertandingan, lambat membangun serangan, dan sering kehilangan momentum.

Di Surabaya, Persebaya tampil lebih hidup sejak menit awal. Intensitas tinggi langsung ditekan oleh anak asuh Bernardo Tavares—pelatih yang justru pernah membentuk fondasi kejayaan PSM beberapa musim lalu.

Ironisnya, filosofi permainan yang dulu identik dengan PSM kini justru terlihat pada tim lawan.

Gol yang Menggambarkan Masalah

Gol tunggal Paulo Gali Freitas lahir dari skema sederhana namun efektif: transisi cepat dan penyelesaian klinis. Sebuah pola yang dahulu menjadi senjata utama Juku Eja.

PSM sebenarnya tidak sepenuhnya pasif. Beberapa peluang tercipta melalui Gledson Paixao dan Luka Cumic. Namun persoalan lama kembali muncul—penyelesaian akhir yang tumpul.

Serangan kerap berhenti di sepertiga akhir lapangan. Kreativitas minim, keputusan lambat, dan koordinasi antarlini terlihat belum menyatu.

Jika bukan karena penampilan solid kiper Reza Arya Pratama, skor bisa saja lebih besar.

Krisis Identitas Permainan

Yang paling terasa dari PSM saat ini bukan hanya kekalahan, melainkan hilangnya karakter bermain.

Pada era sebelumnya, PSM dikenal sebagai tim dengan struktur jelas: pertahanan rapat, pressing disiplin, dan serangan balik cepat. Kini permainan mereka terlihat reaktif—lebih banyak merespons lawan daripada mengendalikan ritme.

Pergantian pelatih dan proses adaptasi taktik memang membutuhkan waktu. Namun kompetisi tidak memberi ruang panjang untuk eksperimen.

Tomas Trucha menghadapi tantangan besar: membangun ulang kepercayaan diri tim di tengah tekanan hasil buruk.

Masalahnya, sepak bola modern tidak hanya bergantung pada taktik, tetapi juga momentum psikologis. Dan saat ini, momentum itu tampak tidak berpihak pada PSM.

Statistik yang Tidak Berbohong

Secara posisi klasemen, situasi mulai mengkhawatirkan. PSM kini berada di peringkat ke-13, hanya lima poin di atas zona degradasi.

Tiga kekalahan beruntun membuat jarak dengan papan bawah semakin tipis. Jika tren ini berlanjut, ancaman degradasi bukan lagi sekadar wacana.

Bandingkan dengan Persebaya yang justru bangkit dari dua kekalahan sebelumnya. Kemenangan di Gelora Bung Tomo membawa mereka naik ke posisi lima dan kembali membuka peluang bersaing di papan atas.

Perbedaan kedua tim bukan hanya soal kualitas individu, tetapi stabilitas mental dan kejelasan sistem permainan.

Turun Level?

Sebagian suporter mulai melontarkan kritik keras: kualitas permainan PSM disebut-sebut menyerupai tim Liga 2. Pernyataan ini tentu terdengar ekstrem, tetapi lahir dari kekecewaan terhadap performa tim yang jauh dari ekspektasi.

Secara materi pemain, PSM jelas bukan tim level bawah. Namun dalam sepak bola, kualitas tidak hanya ditentukan nama pemain, melainkan bagaimana mereka bermain sebagai satu kesatuan.

Dan di titik inilah PSM tampak kehilangan arah.

Serangan kurang tajam, lini tengah tidak dominan, sementara pertahanan sering kehilangan fokus pada momen krusial.

Ujian Berikutnya

PSM tidak punya banyak waktu untuk merenung. Mereka akan menghadapi Persita Tangerang pada laga berikutnya—pertandingan yang berpotensi menjadi titik balik atau justru memperdalam krisis.

Bagi Tomas Trucha, laga itu bukan sekadar perebutan tiga poin, melainkan kesempatan membuktikan bahwa timnya masih layak bersaing di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Karena jika performa tidak segera membaik, pertanyaan yang kini terdengar sebagai kritik emosional bisa berubah menjadi kenyataan pahit: sebuah tim besar yang perlahan kehilangan levelnya sendiri.

Dan dalam sepak bola, jatuhnya sebuah identitas sering kali lebih berbahaya daripada sekadar kekalahan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
3 Zodiak Ini Disebut Perlu Berhati-hati di Bulan Maret 2026
• 19 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Ketua Banggar DPR Said Abdullah Anggap Impor 105 Ribu Mobil Pikap dari India Merugikan Ekonomi Nasional
• 9 jam lalujpnn.com
thumb
Siap-Siap Borong! Pemprov DKI Sebar Bazar UMKM hingga ke Kecamatan
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Iuran BPJS Naik, Menkes Ungkap Kelas Masyarakat yang Disasar
• 17 jam lalujpnn.com
thumb
Pelatih nilai PSM kurang maksimalkan peluang
• 2 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.