Liputan6.com, Jakarta - Kabupaten Rejang Lebong di Provinsi Bengkulu dikenal dengan daerah berhawa sejuk, juga memiliki bentang alam perbukitan yang subur di kawasan Bukit Barisan. Kondisi itu menjadikannya sebagai lumbung sayuran di di Sumatera Bagian Selatan.
Topografi Rejang Lebong lebih didominasi dataran tinggi, lembah, serta aliran sungai yang terhubung dengan sejumlah daerah aliran sungai penting.
Advertisement
Suhu di sana relatif lebih dingin dibanding wilayah pesisir, hal itu membuat kawasannya cocok untuk mengembangkan budidaya hortikultura seperti tomat, kol, cabai, dan aneka sayuran daun, termasuk perkebunan kopi maupun teh.
Dari lahan-lahan pertanian di kaki perbukitan itu pula pasokan sayur didistribusikan ke berbagai wilayah, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar di Provinsi Bengkulu, tetapi juga menjangkau sebagian wilayah Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi. Rejang Lebong pun dikenal sebagai sentra produksi hortikultura regional yang menopang pasokan lintas provinsi.
Namun, di balik produktivitas tersebut, petani tak luput dari situasi fluktuasi harga yang tidak menentu. Saat panen raya tiba dan produksi melimpah, harga di tingkat petani bisa berpotensi anjlok hingga tak lagi sebanding dengan biaya tanam dan distribusi.
Hal tersebut pernah terjadi pada 2021 hingga 2022. Ketika itu situasi memunculkan persoalan baru berupa lonjakan limbah sayuran dalam jumlah besar. Tumpukan tomat busuk bahkan sempat menutup satu ruas jalan di daerah tersebut setelah petani membuangnya akibat harga yang anjlok, sebagian lainnya juga dibuang ke area terbuka jurang yang ada di sekitar wilayah itu.
Volume limbah organik yang melimpah ternyata juga menimbulkan kekhawatiran pencemaran lingkungan. Keresahan atas persoalan kuantitas sampah sayuran yang tak tertangani itu ternyata mendorong sejumlah anak muda dalam komunitas Rumpun Hijau Indonesia mencari jalan keluar yang solutif.
Mereka melihat limbah panen bukan semata sebagai sisa produksi, melainkan potensi bahan baku energi yang selama ini terabaikan.
Berbekal latar belakang akademis sarjana di bidang teknik elektro, komunitas tersebut menggagas pembangunan pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBG) berbasis limbah sayuran dengan memanfaatkan proses fermentasi dan kompresi gas.




