Jakarta: Teror kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua dikecam. Sebab, mereka menyasar guru, tenaga kesehatan, hingga masyarakat sipil.
“Setiap bentuk kekerasan terhadap guru, tenaga kesehatan, dan warga sipil adalah teror kemanusiaan. Tindakan KKB ini tidak hanya melanggar nilai kemanusiaan, tetapi juga merusak harapan masa depan Papua,” kata Inisiator Papua Connection, Charles Kossay, dikutip dari Media Indonesia, Kamis, 26 Februari 2026.
Hal ini diungkap Charles, dalam kegiatan Dialog Kebangsaan dan Deklarasi Papua Connection di Jakarta, Rabu, 25 Februari 2026. Charles menegaskan perlindungan terhadap guru dan tenaga kesehatan merupakan isu kemanusiaan yang tidak dapat ditawar.
Baca Juga :KKB Kembali Berulah, Anggota TNI Gugur saat Bertugas di Papua Tengah
Menurutnya, kelompok tersebut berperan sebagai garda terdepan pelayanan publik di Papua. Sehingga keselamatan dan martabat mereka harus dijaga.
Ia juga menilai persoalan Papua tidak bisa dilihat secara terpisah, karena pembangunan, hak asasi manusia, dan keamanan merupakan isu yang saling berkaitan.
Charles turut menyatakan dukungan terhadap pembangunan Papua yang berkeadilan, inklusif, dan berperspektif hak asasi manusia. Ia menekankan bahwa pembangunan, termasuk Proyek Strategis Nasional (PSN), harus dijalankan secara partisipatif sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945.
Dialog Kebangsaan dan Deklarasi Papua Connection. Foto: Istimewa
“Papua membutuhkan pembangunan partisipatif, semangat Pasal 33 UUD 1945 mesti terealisasikan di Tanah Papua, saya yakin di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo hal itu bisa terlaksana, yang terpenting niat dan tujuannya harus benar-benar untuk kemajuan orang Papua," kata Charles.
Melalui deklarasi ini, Papua Connection menegaskan komitmennya untuk melindungi warga sipil. Sekaligus, memperkuat persatuan nasional.
"Papua adalah bagian sah dan tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menjaga Papua berarti menjaga masa depan Indonesia. Mari kita rawat Papua ini dengan nilai-nilai kemanusiaan dan perkuat persatuan nasional," pungkas Charles.




