Kemajuan zaman membuat pergaulan di tengah dunia semakin cair. Batas-batas negara semakin lentur dalam percaturan tersebut. Orang semakin mudah bekerja lintas negara dan ragam budaya pun berseliweran lewat layar digital.
Dalam situasi tersebut, muncul kembali pertanyaan, masihkah identitas nasional dipertahankan? Atau, sebaliknya, menjadi semakin cair mengikuti lenturnya pergaulan global?
Menariknya, dapat dilihat bahwa, sekalipun bentuknya berubah, masyarakat di tiap negara masih menyisakan ruang merayakan kebanggaan terhadap negaranya.
Akan tetapi, bentuknya telah berubah. Bukan lagi narasi heroik tentang perang dan kejayaan ekonomi, melainkan pengalaman sehari-hari yang terasa dekat.
Artinya identitas sosial yang menopang rasa bangga kini dirasakan mulai dari karakter warga, budaya, hingga cara orang hidup bersama.
Rasa bangga terhadap negara coba diukur oleh Pew Research Center lewat survei terhadap 30.000 responden di 25 negara. Dengan pertanyaan, ”Apa yang membuatmu bangga dengan negaramu?” Para responden berbicara banyak tentang orang dan kemajemukan, ekonomi dan pemerintahan, serta budaya dan gaya hidup.
Indonesia menjadi salah satu negara yang disurvei. Hasilnya, orang Indonesia paling bangga (30 persen) dengan kemajemukan dan multikulturalismenya. Orang Indonesia menggarisbawahi keragaman suku, bahasa daerah, ras, serta agama yang mencirikannya dari negara lain.
Menjadi tidak mengherankan ketika 15 persen responden dari Indonesia bangga akan melimpahnya seni dan beragamnya kebudayaan di Indonesia. Sementara itu, 21 persen responden mengaku bangga menjadi orang Indonesia karena orang-orang yang tinggal di dalamnya, termasuk bagaimana masyarakat bisa hidup dalam harmoni.
Selanjutnya, 14 persen responden Indonesia mengaku bangga dengan kekayaan alamnya. Angka ini menjadi yang paling tinggi dibandingkan hasil dari negara lain dalam isu yang sama. Penekanan diberikan terhadap tanah yang subur untuk pertanian hingga perkebunan.
“Indonesia memiliki banyak keberagaman, terutama keberagaman budaya. Negara ini juga memiliki banyak hasil pertanian dari berbagai daerah seperti cengkeh, pala, kayu manis, dan kelapa sawit,” ujar salah seorang responden dikutip dari pewreseach.org (17/2/2026).
Selain itu, tak ketinggalan, sisi ekonomi menjadi alasan sebagian orang Indonesia untuk merasa bangga. Sisi ini, dengan perkembangan ekonomi yang cenderung tumbuh, menjadi alasan kebanggan bagi 17 persen responden dari Indonesia.
Berkaca dari data di atas, tampak bahwa rasa bangga sebagai orang Indonesia muncul dari pengalaman nyata yang dirasakan sehari-hari. Orang Indonesia menitikberatkan kebanggaan pada orang, kebudayaan, dan cara mereka hidup.
Kendati sisi ekonomi tetap diperhatikan, namun pengalaman hidup sehari-harilah yang menjadi kunci utama. Membandingkan fenomena Indonesia dengan negara maju seperti Amerika, nyatanya, ada kecenderungan yang mirip.
Kebanggaan orang AS terhadap negaranya bukan dititikberatkan pada sisi ekonomi. Kondisi ekonomi negara hanya menyumbang proporsi rasa bangga 11 persen saja di Amerika serikat. Sementara 22 persen kebanggaan responden AS bertumpu pada kebebasan dan hak-hak sipil yang terjamin di negaranya.
Senada dengan itu, penekanan pada pengalaman hidup sehari-hari juga ditekankan oleh warga yang tinggal di Inggris Raya.
Orang Indonesia menitikberatkan kebanggaan pada orang, kebudayaan, dan cara mereka hidup.
Sebanyak 25 persen, sekaligus yang tertinggi, kebanggaan orang Inggris terhadap negaranya bersumber dari baik dan jujurnya orang-orang Inggris.
Di sejumlah negara lain seperti Kanada, Australia, dan Brasil, kebanggaan nasional pun banyak bertumpu pada gambaran masyarakat yang ramah dan saling mendukung. Warga memandang negaranya sebagai ruang hidup yang memungkinkan relasi sosial dapat berjalan hangat.
Karenanya, dapat dilihat bahwa karakter masyarakat dan pengalaman keseharianlah yang lebih sering muncul dominan ketimbang indikator makro seperti ekonomi maupun geopolitik.
Dengan begitu, nasionalisme modern cenderung bersifat relasional yang dibangun dari cara para warga negara merasakan cara hidup komunitasnya.
Dalam konteks ini, kebanggaan terhadap negara pun dapat dilihat tidak lagi berdiri di atas abstraksi negara-bangsa (nation-state), melainkan pengalaman nyata interaksi sesama warga.
Artinya ada pergeseran identitas nasional yang awalnya dari simbol-simbol keagungan negara menuju pengalaman sehari-hari warga.
Kembali pada fenomena Indonesia, temuan kebanggan utama yang bersandar pada keberagaman menunjukkan identitas nasional yang dibangun bukan melalui homogenisasi, namun pengelolaan perbedaan.
Sebagaimana telah lazim didengar imagined community ala Benedict Anderson, sebagai proyek kebangsaan, sejak awal Indonesia disusun atas mosaik etnisitas, bahasa, dan agama.
Penekanan pada harmoni sosial pun memperlihatkan dimensi moral dalam nasionalisme. Etos kolektivitas dipandang sebagai fondasi hidup yang patut dirayakan berdasar nilai gotong royong, rasa kebersamaan, hingga hidup yang rukun.
Artinya, meskipun tidak lepas dari realita konflik, orang Indonesia membanggakan kehidupan harnomi sebagai gambaran tentang bagaimana masyarakat ingin melihat dirinya sendiri. Di sinilah nasionalisme dibangun atas nilai-nilai tradisional yang diwariskan.
Jika rasa bangga ingin dijaga, negara harus hadir dalam pengalaman hidup sehari-hari warganya.
Kendati begitu, kebanggaan terhadap perkembangan ekonomi pun menunjukkan dimensi baru, yakni nasionalisme yang berbasis masa depan.
Jika kebanggaan pada multikulturalisme dan harmoni berakar pada tradisi masa lalu, kebanggan terhadap pembangunan ekonomi mencerminkan sisi modernitas.
Kombinasi kedunya dapat disebut sebagai nasionalisme yang “hibrid, yakni tradisional sekaligus progresif. Akan tetapi, bukan sifatnya yang terutama melainkan titik penekanannya pada pengalaman sehari-hari.
Dengan demikian, jika rasa bangga ingin dijaga, negara harus hadir dalam pengalaman hidup sehari-hari warganya. Dalam pengalaman tersebut, warga negara ingin kepastian hidup yang harmonis dengan kebijakan-kebijakan yang berfokus pada manusia. (LITBANG KOMPAS).




