New York: Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), karena pendapatan Nvidia yang lebih baik dari perkiraan meningkatkan kepercayaan investor dan pasar menunggu rincian tarif terbaru AS atas impor barang asing.
Mengutip Xinhua, Kamis, 26 Februari 2026, indeks dolar, yang mengukur nilai dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,15 persen menjadi 97,7.
Pada penutupan perdagangan di New York, euro menguat menjadi USD1,1805 dari USD1,1779 pada sesi sebelumnya, dan poundsterling Inggris naik menjadi USD1,3551 dari USD1,3502 pada sesi sebelumnya.
Dolar AS dibeli seharga 156,44 yen Jepang, lebih tinggi dari 155,78 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS melemah menjadi 0,7729 franc Swiss dari 0,7735 franc Swiss.
Mata uang Negeri Paman Sam itu juga jatuh menjadi 1,3678 dolar Kanada dari 1,3704 dolar Kanada. Dolar AS turun menjadi 9,0219 krona Swedia dari 9,0449 krona Swedia.
Baca juga: Dolar AS Menguat Tipis Lawan 6 Mata Uang Utama Dunia
(Dolar AS. Foto: Freepik)
Pendapatan Nvidia di atas perkiraan pasar
Kepercayaan investor meningkat setelah perusahaan terkemuka di industri AI (kecerdasan buatan), Nvidia, memperkirakan pendapatan kuartal pertama di atas perkiraan pasar pada Rabu, memberikan dorongan baru bagi saham-saham di Wall Street, yang memperpanjang reli yang dipimpin oleh sektor teknologi hingga mencapai level tertinggi dalam dua minggu.
Namun, saham tersebut mengalami penurunan dalam perdagangan setelah jam kerja, dengan indeks berjangka ekuitas AS sedikit mengalami penurunan.
Di sisi lain ketidakpastian terus berlanjut mengenai bagaimana Presiden AS Donald Trump akan menanggapi putusan Mahkamah Agung pada 20 Februari yang membatalkan tarif daruratnya.
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan tarif AS untuk beberapa negara akan naik menjadi 15 persen atau lebih tinggi dari tarif baru yang diberlakukan sebesar 10 persen, tanpa menyebutkan mitra dagang tertentu atau memberikan detail lebih lanjut.
"Pidato kenegaraan Presiden Trump tahun 2026 berfokus pada ekonomi tetapi memberikan sedikit atau bahkan tidak ada informasi tentang inisiatif kebijakan baru," tulis analis dari Westpac.




