Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Jakarta
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, telah melakukan dialog strategis dengan 84 akademisi diaspora Indonesia di Australia yang tergabung dalam Indonesian Academics Research Network Australia (IARNA). Di mana, pada pertemuan tersebut difokuskan untuk memperkuat kolaborasi riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia antara Indonesia dan Australia.
Menteri Brian menegaskan, bahwa Diaspora Indonesia adalah mitra strategis yang bisa menjembatani Indonesia dengan jaringan akademik dan industri global.
“Peran mereka sangat penting untuk mempercepat inovasi dan transformasi pendidikan tinggi di tanah air,” ungkapnya kutip Kamis, 26 Februari 2026.
Pada kesempatan tersebut, beberapa topik utama yang dibahas antara lain hilirisasi mineral strategis dan rare earth bersama industri Australia, penguatan ketahanan pangan berbasis penelitian, pengembangan produk kosmetik dari biodiversitas lokal, pengelolaan sampah dengan pendekatan teknologi dan sosial budaya, serta penguatan kerja sama industri-kampus termasuk BUMN.
Selain itu, dialog juga mengeksplorasi peluang kerja sama konkret, seperti mekanisasi pertanian untuk meningkatkan produktivitas padi, pengembangan critical minerals seperti nikel dan lithium untuk kendaraan listrik, riset biomedis dan kesehatan, kolaborasi maritim, hingga pemanfaatan teknologi drone.
“Kita ingin riset dan pendidikan tinggi tidak hanya menghasilkan teori, tetapi memberikan solusi nyata bagi masyarakat dan industri. Diaspora bisa menjadi katalis untuk mewujudkan hal ini,” kata dia.
Dikesempatan lain, Duta Besar Indonesia untuk Australia, Siswo Pramono, menyoroti momentum pasca IA-CEPA untuk memperluas kolaborasi kedua negara.
“Pelibatan diaspora akademik menjadi salah satu kunci agar kerja sama pendidikan tinggi dan riset bisa lebih berdampak,” ujarnya.
Sebagai bagian dari strategi Diktisaintek Berdampak, Kemdiktisaintek menyiapkan skema melibatkan diaspora sebagai visiting professor, research coach, atau kolaborator riset di perguruan tinggi Indonesia.
Skema ini bertujuan membimbing peneliti muda, menghasilkan publikasi bersama, serta mendorong inovasi riset terapan.
Para akademisi diaspora memberikan masukan mengenai keseimbangan antara riset dasar, riset terapan, dan pengembangan produk.
“Setiap masukan dari forum ini akan kami tindaklanjuti untuk memperkuat kebijakan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi ke depan,” imbuhnya
Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya untuk memperluas kemitraan internasional, memperkuat hilirisasi riset, dan memastikan program pendidikan tinggi serta pengembangan sains berdampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Editor: Redaktur TVRINews





