Pantau - Perserikatan Bangsa-Bangsa mendesak Rusia dan Ukraina untuk bekerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional atau IAEA guna memastikan keamanan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporozhye di tengah aktivitas militer yang berlangsung.
Juru bicara PBB Stephane Dujarric pada Rabu 25 Februari 2026 menyatakan seruan tersebut disampaikan demi kepentingan semua pihak.
Dujarric mengatakan, "Dan kami mendorong Federasi Rusia dan Ukraina untuk bekerja sama secara erat dengan IAEA guna memastikan keamanan pembangkit listrik Zaporozhye demi kepentingan semua orang," kata Dujarric kepada wartawan.
Ia menambahkan sejak awal konflik Ukraina, PBB telah menyatakan keprihatinan terhadap keamanan ZNPP dan pembangkit listrik tenaga nuklir lainnya.
Sebelumnya dalam Konferensi Perlucutan Senjata, perwakilan tetap Rusia untuk PBB di Jenewa Gennady Gatilov mengatakan penembakan yang disengaja oleh Kiev terhadap ZNPP berisiko menyebabkan bencana nuklir.
Gatilov menyebut tindakan tersebut juga dapat berdampak pada negara-negara yang memberikan bantuan militer kepada Ukraina.
Kepala Rosatom Alexey Likhachev menyebut Rusia dan IAEA sedang berdiskusi mengenai jangka waktu dan syarat untuk menetapkan gencatan senjata lokal guna melaksanakan perbaikan di ZNPP.
IAEA menyatakan jalur cadangan ZNPP Ferrosplavnaya-1 dimatikan pada 10 Februari yang kemungkinan disebabkan aktivitas militer di dekatnya.
ZNPP terletak di tepi kiri Sungai Dnepr atau Dnipro dekat kota Energodar atau Enerhodar.
Pembangkit tersebut merupakan pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di Eropa berdasarkan jumlah unit dan kapasitas terpasang.
ZNPP memiliki enam unit dengan kapasitas masing-masing 1 gigawatt dan saat ini berada dalam kondisi dihentikan operasinya sementara atau cold shutdown.
Pada Oktober 2022, pembangkit listrik tenaga nuklir tersebut berada di bawah kendali Rusia dan sejak saat itu rutin menjadi target serangan Ukraina.




