Iran di Bawah Bayang-Bayang Perang: Konsolidasi Kekuatan dan Daya Tahan Strategi

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Artikel ini terinspirasi dari laporan The New York Times berjudul "Inside Iran’s Preparations for War and Plans for Survival oleh Farnaz Fassihi", terbit 22 Februari 2026.

Ketika ketegangan antara Teheran dan Washington kembali meningkat, perhatian dunia tertuju pada bagaimana Iran mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konflik terbuka.

Laporan The New York Times itu menggambarkan bagaimana Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, mempercayakan pengelolaan situasi krisis kepada Ali Larijani, figur senior keamanan nasional yang memiliki rekam jejak panjang dalam struktur kekuasaan Iran.

Namun, lebih dari sekadar dinamika elite, yang menarik adalah daya tahan strategis Iran—sebuah kombinasi antara kekuatan militer, jaringan regional, dan ketahanan domestik—yang membuat Amerika Serikat dan Israel tidak bisa bertindak gegabah.

Konsolidasi Internal dan Arsitektur Keamanan

Penunjukan Larijani menandakan penguatan pendekatan keamanan dalam tata kelola negara. Iran tidak hanya mengandalkan simbol politik, tetapi juga struktur pertahanan yang telah dibangun selama puluhan tahun, terutama melalui Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Institusi ini bukan sekadar militer konvensional; ia memiliki unit siber, intelijen, kemampuan rudal balistik, dan jaringan logistik lintas kawasan.

Di tengah ancaman dari pemerintahan Donald Trump, kepemimpinan Iran memprioritaskan skenario bertahan hidup rezim. Strateginya tidak hanya menghadapi serangan langsung, tetapi juga memastikan kesinambungan komando, perlindungan infrastruktur vital, serta kesiapan respons asimetris. Model ini membuat setiap potensi serangan terhadap Iran harus mempertimbangkan biaya politik dan militer yang sangat tinggi.

Presiden Masoud Pezeshkian mungkin tidak berada di garis depan keputusan strategis, tetapi struktur negara menunjukkan bahwa Iran memiliki mekanisme kolektif yang memungkinkan transisi peran tanpa menciptakan kekosongan kekuasaan. Stabilitas internal inilah yang sering kali diabaikan dalam analisis eksternal.

Kekuatan Militer dan Strategi Asimetris

Iran memahami bahwa ia tidak memiliki superioritas udara seperti Amerika Serikat atau Israel. Karena itu, doktrin pertahanannya bertumpu pada deterrence by punishment—kemampuan membalas secara luas dan tidak terduga. Arsenal rudal balistik dan drone jarak jauh Iran telah berkembang signifikan dalam satu dekade terakhir. Serangan presisi terhadap target strategis di kawasan menjadi salah satu kartu utama.

Selain itu, Iran memiliki jaringan pengaruh di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman. Jaringan ini memberi Teheran kedalaman strategis. Jika wilayahnya diserang, respons tidak harus berasal dari satu front. Risiko konflik multi-front inilah yang menjadi pertimbangan serius bagi Israel dan Amerika Serikat. Serangan terhadap Iran bisa memicu eskalasi regional yang melibatkan berbagai aktor non-negara dengan kemampuan tempur signifikan.

Selat Hormuz juga menjadi variabel penting. Sebagian besar distribusi energi global melewati jalur ini. Ketidakstabilan di kawasan Teluk akan langsung berdampak pada harga minyak dunia. Artinya, keputusan militer terhadap Iran tidak pernah berdiri dalam ruang hampa; ia terkait langsung dengan ekonomi global.

Kalkulasi Politik Global dan Efek Jera

Bagi Washington dan Tel Aviv, kalkulasi terhadap Iran bukan hanya bersifat militer, melainkan juga politik. Konflik besar di Timur Tengah dapat menguras sumber daya, memicu tekanan domestik, dan memperumit relasi internasional. Iran telah menunjukkan bahwa tekanan maksimum dan sanksi ekonomi tidak otomatis melumpuhkan negara tersebut. Sebaliknya, ancaman eksternal sering kali memicu solidaritas nasional.

Kekuatan Iran bukan semata pada persenjataan, melainkan pada daya tahannya menghadapi isolasi. Negara ini terbiasa beroperasi di bawah tekanan. Infrastruktur pertahanan bawah tanah, sistem komando berlapis, dan pengalaman panjang menghadapi sanksi membentuk mentalitas resilience state. Inilah yang membuat opsi militer terhadap Iran tidak pernah menjadi keputusan sederhana.

Israel pun memahami bahwa operasi terbatas berisiko berkembang menjadi konfrontasi luas. Dengan kemampuan rudal presisi dan potensi gangguan terhadap pusat-pusat strategis, Iran memiliki kapasitas menciptakan efek jera yang nyata. Konsekuensinya, setiap langkah ofensif harus mempertimbangkan kemungkinan balasan yang tidak proporsional.

Dalam lanskap geopolitik yang semakin terfragmentasi, Iran menempatkan dirinya sebagai aktor yang sulit diisolasi sepenuhnya. Hubungan dengan kekuatan global lain serta jejaring regional memperkuat posisi tawarnya.

Ketegangan boleh meningkat, retorika bisa mengeras, tetapi realitas strategis menunjukkan bahwa Iran memiliki cukup kekuatan untuk membuat lawan berpikir berulang kali sebelum menarik pelatuk.

Situasi ini menggambarkan sebuah paradoks: ancaman perang justru mempertegas kemampuan bertahan sebuah negara. Iran mungkin tidak mencari konfrontasi terbuka, tetapi ia memastikan bahwa siapa pun yang mempertimbangkannya akan menghadapi risiko yang sangat besar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kebutuhan Kawasan Komersial di Batam Meningkat, Pengembang Garap Ruko Berkonsep 3 in 1
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
Pertamina Patra Niaga Genjot Transaksi via Aplikasi Digital
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pria yang Klaim Anggota Polri Jadi Tersangka Penganiayaan Pegawai SPBU
• 12 jam lalutvrinews.com
thumb
Cara Memperbaiki Jadwal Tidur Menurut Ahli
• 5 jam lalubeautynesia.id
thumb
Raja Yordania Apresiasi Komitmen Prabowo Perjuangkan Solusi 2 Negara
• 22 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.