BRI Bidik Pertumbuhan Kredit 7-9 Persen pada 2026

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menargetkan pertumbuhan kredit pada tahun 2026 dalam kisaran 7-9 persen, setelah mencetak double digit pada tahun 2025.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, mengatakan perusahaan akan tetap menjaga pertumbuhan kredit utamanya dari segmen UMKM, dalam hal ini melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).

"Kalau kita lihat guidance ya kredit itu mungkin kita akan bergerak pertumbuhan masih single digit antara 7-9 persen. Jadi kita memang sangat selektif memilih sektor-sektor yang berkualitas yang tentunya bisa memberikan yield yang bagus tapi di sisi lain juga tidak membawa kualitas aset yang buruk bagi BRI," ungkapnya saat konferensi pers, Kamis (26/2).

Hery menjelaskan, selain dari segmen UMKM, BRI juga memaksimalkan kredit dari segmen komersial dan korporasi yang bisa membantu meningkatkan kualitas kredit perusahaan.

"Pertumbuhan kredit berguna atau underlying-nya atau payroll loan itu sangat mungkin di-drive oleh kemampuan corporate banking dan commercial banking memberikan lead yang berkualitas kepada konsumer dan juga kepada teman-teman yang di cabang," jelasnya.

Di sisi lain, Hery juga menjelaskan bahwa BRI juga akan selalu memperbaiki rasio non performing loan (NPL). Salah satunya dengan memanfaatkan peningkatan penagihan kredit kepada nasabah melalui berbagai saluran.

Selain itu, strategi perusahaan pada tahun ini adalah membangun sekaligus memperbaiki struktur pendanaan dengan memperbesar rasio dana murah (CASA). Pada tahun lalu, CASA perusahaan mencapai 71 persen.

"Rasio ini di-drive oleh tabungan dan giro. Drivernya adalah dari transaction banking. Jadi nanti tugas kita di BRI, engine transaction banking yang kita miliki saat ini seperti BRImo, QRIS, EDC, kemudian Kilola dan juga termasuk BriLink. Itu kita optimalkan sekuat mungkin dan sebaik mungkin," tutur

BRI juga terus menjadi penyalur utama KUR. Pada Januari sampai Desember 2025, realisasinya mencapai Rp 178,08 triliun kepada sekitar 3,8 juta debitur. Sektor pertanian menjadi kontributor utama dengan pembiayaan mencapai sebesar Rp 80,09 triliun atau setara dengan 44,97 persen dari keseluruhan KUR yang telah disalurkan BRI.

Selain KUR, Hery menyebutkan BRI juga menyelenggarakan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan atau FLPP. Perusahaan juga berpartisipasi dalam mendukung program 3 juta rumah dengan menyalurkan KPR subsidi sebesar Rp 16,16 triliun kepada lebih dari 118 ribu debitur di seluruh Indonesia hingga akhir tahun 2025.

"Untuk tahun ini BRI optimis untuk dapat menyalurkan pembiayaan FLPP sebesar 60 ribu unit rumah bersubsidi," ungkap Hery.

Sambut Positif Perpanjangan Tempo Dana SAL

Sementara itu, Direktur Keuangan BRI Farida Thamrin mengatakan perusahaan menyambut baik perpanjangan tempo penempatan dana pemerintah dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) di 5 bank BUMN.

Farida menyebutkan, penempatan dana SAL di BRI seharusnya jatuh tempo pada 13 Maret 2026. Total dana SAL yang diterima perusahaan mencapai Rp 80 triliun.

"Kita sangat gembira sekali, karena kemarin ada informasi dari Kementerian Keuangan, bahwa untuk penempatan dana pemerintah SAL, yang akan jatuh tempo kalau di BRI itu di tanggal 13 Maret 2026, ini akan diperpanjang," jelasnya.

Menurutnya, dengan perpanjangan tempo tersebut, BRI menjadi semakin yakin bahwa stabilitas likuditas dari perbankan akan sangat terjaga. Dengan terjaganya stabilitas likuditasnya, maka transmisi kebijakan fiskal ke sektor rill juga akan semakin terjaga.

"Sebetulnya dana SAL keseluruhan, yang kita terima itu totalnya ada Rp 80 triliun, yang Rp 55 triliun itu menjadi bagian dari yang Rp 200 triliun secara keseluruhan Himbara, tapi kita pernah dapat juga yang fase kedua Rp 25 triliun tetapi itu lebih ke short term dan itu memang karena hanya short term jadi tidak diperpanjang," tutur Farida.

Dari keseluruhan dana SAL tersebut, Farida memastikan BRI sudah membentuk pinjaman kepada debitur dari berbagai segmen, mayoritas sebesar 50 persen kepada UMKM, kemudian sisanya kepada consumer, dan korporasi. Sementara sektornya meliputi pertanian, kehutanan, perikanan, dan beberapa sektor lain yang mendukung pertumbuhan perekonomian nasional.

"Kita sangat optimis bahwa pertumbuhan kredit perbankan ke depannya akan mendapat dampak positif. Selain itu juga, kredit perbankan perlu kita cermati juga bahwa ini sangat ditentukan oleh kualitas dari permintaan atau suplainya, dan kesiapan dari sektor rillnya itu sendiri," tandas Farida.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dave Yakin RI Mampu Jaga Stabilitas Pembangunan Nasional dalam Ketidakpastian Global
• 10 jam laluviva.co.id
thumb
Terungkapnya Sindikat Perdagangan Bayi Modus Adopsi
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Harga Emas Antam (ANTM) Rebound Rp16 Ribu per Gram
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Baru Debut di Ajax, Maarten Paes Langsung Dikritik
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Rekor Kandang Persib: 100% Kemenangan, Hanya Sekali Kebobolan
• 3 jam lalucelebesmedia.id
Berhasil disimpan.