Pada hari kedua Tahun Baru Imlek, belasan jet tempur militer Amerika Serikat dalam satu formasi secara tidak biasa terbang ke Laut Kuning, mendekati zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) Partai Komunis Tiongkok (PKT), memicu ketegangan dan saling berhadapan antara pesawat AS dan Tiongkok. Sejumlah analis menilai, lokasi kejadian yang relatif dekat dengan Beijing mengindikasikan langkah tekanan maksimal dari pihak AS terhadap PKT.
EtIndonesia. Pada 24 Februari, juru bicara Kementerian Luar Negeri PKT Mao Ning menanggapi pertanyaan media terkait insiden saling berhadapan pada 18 Februari, dengan menyatakan bahwa militer Tiongkok telah “memantau dan merespons sepanjang waktu” aktivitas pesawat militer AS. Pernyataan tersebut kembali memicu perhatian publik terhadap insiden ini.
Sebelumnya, media Korea Selatan mengutip sumber militer setempat yang melaporkan bahwa pada 18 Februari (hari kedua Tahun Baru Imlek Tiongkok), lebih dari sepuluh jet tempur F-16 milik pasukan AS yang ditempatkan di Korea Selatan lepas landas dari Pangkalan Udara Osan di Kota Pyeongtaek, Provinsi Gyeonggi.
Pesawat-pesawat tersebut melakukan latihan tunggal di wilayah udara internasional di atas Laut Kuning, dan sempat memasuki area di antara KADIZ (Zona Identifikasi Pertahanan Udara Korea Selatan) dan CADIZ (zona identifikasi versi PKT), yakni wilayah yang tidak tumpang tindih antara kedua zona tersebut.
Ketika jet tempur AS mendekati zona identifikasi PKT, Angkatan Udara Tiongkok juga mengerahkan pesawat tempur. Kedua pihak sempat berhadapan, namun tidak ada pesawat yang memasuki zona identifikasi pihak lawan. Ketegangan ini berlangsung dari 18 Februari hingga 19 Februari dini hari.
Media Korea Selatan menyebutkan bahwa latihan tunggal pasukan AS di dekat zona identifikasi PKT tergolong jarang, dan maksud untuk menekan Beijing dinilai sangat jelas.
Media Partai PKT, Global Times, pada 20 Februari mengutip analisis pakar militer Song Zhongping yang menyatakan bahwa berdasarkan informasi dari Korea Selatan dan Tiongkok, aktivitas kali ini berlangsung di perairan barat Semenanjung Korea, yakni wilayah Laut Kuning, tempat masing-masing pihak menetapkan zona identifikasi pertahanan udara.
Ia menjelaskan bahwa sebelumnya pasukan AS jarang melakukan aktivitas militer di wilayah tersebut. Biasanya, tujuan kegiatan semacam ini ada dua: pertama, pengintaian dan pemantauan jarak dekat; kedua, memberikan tekanan strategis untuk mempertahankan efek deterensi militer.
Pembawa acara dan komentator politik Jiang Feng juga menyoroti dalam program medianya bahwa belasan jet tempur AS kali ini mendekati kawasan inti Tiongkok. Jika rudal diluncurkan, katanya, hanya butuh beberapa menit untuk mencapai Beijing. Hal ini jelas merupakan “tekanan maksimal” terhadap PKT dengan efek intimidasi yang kuat. Ia memperkirakan Zhongnanhai akan sangat terkejut, sehingga memicu respons tegang pesawat AS–Tiongkok.
PKT pada 2013 telah menetapkan dan mengumumkan Zona Identifikasi Pertahanan Udara Laut Tiongkok Timur, namun karena cakupannya terlalu luas dan tumpang tindih dengan zona milik Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan, kebijakan tersebut menuai banyak protes. Hingga kini, PKT belum secara terbuka mengumumkan penetapan zona identifikasi pertahanan udara di Laut Kuning maupun Laut Tiongkok Selatan.
Berbatasan langsung dengan Laut Kuning, Laut Bohai merupakan perairan internal Tiongkok. Jika benar seperti yang disebut Global Times bahwa PKT telah menetapkan zona identifikasi di wilayah Laut Kuning di sisi barat Semenanjung Korea, maka area udara yang tidak tumpang tindih antara zona Korea Selatan dan Tiongkok di atas Laut Kuning kemungkinan merupakan “garis terdepan” bagi jet tempur AS untuk mendekati Beijing.
Menurut praktik umum, setiap pesawat yang memasuki zona identifikasi pertahanan udara suatu negara wajib melapor terlebih dahulu kepada otoritas negara terkait. (Hui)





