Jika Kamu Masih Hidup, Ingatlah Bahwa Ibu Mencintaimu

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Ini adalah salah satu kisah paling mengharukan dari gempa bumi yang baru-baru ini terjadi di Tiongkok daratan.

Saat tim penyelamat menemukan dirinya, dia sudah meninggal dunia. Dia tewas tertimpa bangunan yang runtuh. Dari celah-celah puing, terlihat posisi tubuhnya saat meninggal: kedua lututnya berlutut, bagian atas tubuhnya membungkuk ke depan, kedua tangannya bertumpu ke tanah menopang tubuhnya. Posisi itu mirip seperti orang zaman dahulu yang sedang melakukan sembah sujud. Namun tubuhnya telah berubah bentuk karena tertindih reruntuhan, tampak memilukan dan sedikit menggetarkan hati.

Petugas penyelamat menyelusupkan tangan melalui celah puing-puing untuk memastikan kondisinya. Dia memang sudah tiada. Mereka berteriak beberapa kali ke arah dalam reruntuhan, memukul-mukul batu bata dengan linggis, berharap ada jawaban. Namun tak ada satu pun suara balasan.

Ketika tim mulai bergerak menuju bangunan berikutnya, ketua tim penyelamat tiba-tiba berbalik dan berlari kembali sambil berteriak: “Cepat ke sini!”

Dia kembali ke tubuh wanita itu dan dengan susah payah memasukkan tangannya ke bawah tubuh sang ibu, meraba-raba sesuatu. 

Beberapa detik kemudian dia berteriak lantang: “Ada seseorang! Ada bayi! Masih hidup!”

Dengan usaha penuh kehati-hatian, para penyelamat membersihkan puing-puing yang menutupi tubuh sang ibu. Di bawah tubuhnya, terbaring seorang bayi kecil yang dibungkus selimut merah bermotif bunga kuning. Usianya kira-kira tiga atau empat bulan. Karena tubuh ibunya melindunginya sepenuhnya, bayi itu tidak mengalami luka sedikit pun.

Saat digendong keluar, bayi itu masih tertidur lelap. Wajahnya yang tenang dan polos membuat semua orang yang berada di lokasi merasakan kehangatan yang luar biasa di tengah suasana duka.

Dokter yang ikut dalam tim segera membuka selimut untuk melakukan pemeriksaan. Saat itulah dia menemukan sebuah ponsel yang terselip di dalam selimut bayi. Secara refleks dia melihat layar ponsel tersebut.

Di sana tertulis sebuah pesan yang sudah disiapkan:“Anakku tersayang, jika kamu masih hidup, ingatlah bahwa Ibu mencintaimu.”

Dokter yang sudah terbiasa menyaksikan perpisahan hidup dan mati pun tak mampu menahan air mata pada saat itu. Ponsel itu kemudian diteruskan dari tangan ke tangan. Setiap orang yang membaca pesan tersebut tak kuasa menahan tangis.

Ketika seorang teman menceritakan kisah ini kepadaku, aku—seorang pria—menangis. Rekan-rekan kerjaku pun ikut menangis.

Renungan

Cinta orangtua adalah bentuk pengorbanan paling tulus di dunia. Mereka rela menanggung penderitaan sendiri demi memastikan anaknya selamat. Hanya dengan satu kalimat singkat, sang ibu telah menyampaikan cinta dan ketidakrelaannya berpisah yang begitu dalam.

Kelak ketika sang anak tumbuh dewasa dan membaca kisah ini, dia pasti akan merasakan seolah-olah ibunya selalu berada di sisinya—menjaga dan mencintainya tanpa batas.(jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anggota DPR Minta Kenaikan Iuran BPJS Dilakukan Transparan: Solusi Harus Berpihak pada Rakyat
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Populer, 120 daerah sangat kotor-kasus guru rangkap jabatan dihentikan
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Gloskin Sabet Penghargaan Excellence in Aesthetic Medical Services 2026
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Diaspora Indonesia Sambut Kedatangan Prabowo di Abu Dhabi
• 13 jam laluidxchannel.com
thumb
Garuda Bakal Beli 50 Pesawat Boeing, Danantara Beberkan Potensi Pendanaan
• 3 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.