Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) menilai Surat Berharga Negara (SBN) tetap menjadi instrumen atraktif oleh industri dana pensiun karena kecocokannya dengan profil risiko yang dicari serta imbal hasil yang optimal
Humas Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Syarifudin Yunus mengatakan bahwa sejauh ini, dana pensiun tetap membeli SBN karena kebutuhan asset–liability matching (ALM) jangka panjang. Syarif menyebut, SBN masih menjadi instrumen paling cocok untuk yield lebih menarik dan menjaga kewajiban pembayaran manfaat pensiun ke depan sesuai regulasi yang ada.
Menurutnya, bagi dana pensiun, keseimbangan antara risiko dan imbal hasil dalam konteks kewajiban jangka panjang kepada peserta menjadi pertimbangan utama. Dengan karakteristik tersebut, SBN masih dinilai mampu memberikan stabilitas portofolio.
"Bagi dana pensiun, keputusan investasi bukan hanya soal sentimen rating, tetapi soal keseimbangan risiko," katanya kepada Bisnis, dikutip pada Kamis (26/2/2026)
Syarifudin menuturkan, dalam jangka menengah prospek SBN bagi dana pensiun masih cukup baik, selama tetap mengacu pada prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang efektif.
Dia menambahkan, peluang peningkatan kepemilikan SBN oleh dana pensiun masih terbuka, terutama apabila aset kelolaan atau asset under management (AUM) industri terus bertumbuh dan kebutuhan ALM jangka panjang tetap terjaga.
Baca Juga
- Sebanyak 90% Pekerja Tanggung Beban Ganda, Kesiapan Pensiun Kian Tertekan
- Riset Sun Life: Mayoritas Masyarakat RI Tetap Pilih Bekerja Usai Pensiun
“SBN tetap oke selama dapat memenuhi kewajiban pembayaran manfaat pensiun kepada peserta,” katanya.
Di sisi lain, ADPI memandang SBN masih akan menjadi instrumen inti atau core dalam portofolio dana pensiun, dengan porsi sekitar 50%—60% yang disesuaikan dengan profil risiko masing-masing lembaga.
Adapun, diversifikasi ke instrumen alternatif tetap dilakukan secara bertahap sebagai bagian dari pengelolaan risiko. Salah satunya melalui obligasi korporasi berkualitas, sepanjang sesuai regulasi dan tetap menjunjung prinsip kehati-hatian.
“Alternatif pasti ada sebagai bagian dari diversifikasi. Namun, SBN masih menjadi tulang punggung investasi dana pensiun,” ujar Syarifudin.
Data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat, Asuransi dan dana pensiun telah menghimpun SBN hingga Rp1.325,48 triliun hingga 18 Februari 2026, naik dari Rp1.290,67 triliun pada 2025.





