Menang Tipis atas PSM, Bernardo Tavares Tak Larut Euforia: Persib Bandung Sudah Menunggu

harianfajar
4 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, SURABAYA — Sorak ribuan Bonek di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Rabu malam, 25 Februari 2026, belum sepenuhnya reda ketika para pemain Persebaya Surabaya berjalan menuju ruang ganti. Skor 1-0 atas PSM Makassar terpampang di papan pertandingan—angka sederhana yang menyimpan makna jauh lebih besar dari sekadar kemenangan kandang.

Bagi Persebaya, tiga poin ini bukan hanya hasil pertandingan. Ia adalah napas baru setelah periode performa yang naik-turun.

Namun di tengah atmosfer kemenangan, pelatih Bernardo Tavares justru memilih bersikap dingin. Tidak ada selebrasi berlebihan. Tidak ada pernyataan bombastis. Fokusnya langsung bergeser ke pertandingan berikutnya: Persib Bandung.

Liga, baginya, tidak memberi ruang untuk berlama-lama menikmati kemenangan.

Gol yang Mengubah Atmosfer

Pertandingan berjalan hati-hati sejak awal. Kedua tim tampak saling membaca, menjaga jarak, dan menutup ruang. Bola lebih sering berputar di lini tengah, seolah menunggu satu momen yang mampu memecah kebuntuan.

Momen itu datang pada menit ke-26.

Gali Freitas menerima bola di luar kotak penalti. Dengan satu gerakan mengecoh pemain bertahan, ia membuka ruang kecil—cukup untuk melepaskan tembakan placing keras. Bola meluncur deras ke sudut gawang tanpa mampu dijangkau Reza Arya.

Gol itu tidak hanya mengubah skor. Ia mengubah energi stadion.

Gelora Bung Tomo yang semula tegang mendadak meledak. Ribuan Bonek berdiri, meneriakkan harapan baru. Persebaya yang sebelumnya bermain sabar mendadak menemukan ritmenya.

Dalam sepak bola, kadang satu momen individu mampu mendefinisikan seluruh pertandingan. Malam itu, momen tersebut milik Gali Freitas.

Disiplin yang Menjadi Fondasi

Keunggulan satu gol tidak membuat Persebaya bermain terbuka. Justru sebaliknya, mereka memilih mengontrol ritme pertandingan dengan disiplin struktur permainan.

PSM Makassar mencoba merespons melalui serangan dari sektor sayap. Intensitas meningkat terutama pada babak kedua ketika tim tamu mulai menekan lebih agresif.

Namun lini belakang Persebaya tampil solid.

Risto Mitrevski menjadi jangkar pertahanan, memastikan setiap upaya lawan terhenti sebelum berkembang menjadi ancaman nyata. Organisasi permainan terlihat rapi—jarak antar lini terjaga, transisi bertahan berjalan cepat, dan komunikasi antar pemain berlangsung efektif.

Persebaya memang tidak mencetak banyak gol, tetapi mereka menunjukkan sesuatu yang sering menentukan dalam kompetisi panjang: kemampuan mempertahankan keunggulan.

Beberapa peluang tambahan sebenarnya sempat hadir. Francisco Rivera hampir menggandakan skor sebelum jeda, sementara Bruno Moreira mendapatkan kesempatan emas melalui serangan balik cepat. Namun penyelesaian akhir masih menjadi pekerjaan rumah.

Kemenangan ini terasa seperti apa yang sering disebut dalam sepak bola modern sebagai ugly win—tidak spektakuler, tetapi sangat penting.

Tiga Poin dan Stabilitas Mental

Tambahan tiga poin menjaga Persebaya tetap berada di peringkat kelima klasemen Super League 2025/2026 dengan koleksi 38 poin. Posisi yang belum aman, tetapi cukup untuk menjaga mereka tetap dalam jalur persaingan papan atas.

Lebih dari posisi klasemen, kemenangan ini membawa dampak psikologis.

Beberapa laga sebelumnya memperlihatkan inkonsistensi permainan Green Force. Dominasi tidak selalu berujung kemenangan. Tekanan mulai muncul, baik dari publik maupun internal tim.

Laga melawan PSM menjadi titik balik kecil—sebuah pengingat bahwa kemenangan tidak selalu harus datang dengan skor besar.

Dalam liga panjang, efisiensi sering lebih berharga daripada keindahan permainan.

Bernardo Tavares dan Fokus Tanpa Euforia

Menariknya, Bernardo Tavares tidak membiarkan timnya larut dalam suasana kemenangan. Baginya, pertandingan melawan PSM hanyalah satu tahap dalam perjalanan musim yang masih panjang.

Persib Bandung sudah menunggu.

Lawan berikutnya itu menghadirkan tantangan berbeda: intensitas tinggi, tekanan besar, dan kualitas individu yang mampu menghukum kesalahan sekecil apa pun.

Sikap Tavares mencerminkan filosofi pelatih yang memahami ritme kompetisi. Momentum bukan dibangun dari satu kemenangan, melainkan dari konsistensi berulang.

Ia tahu satu fakta sederhana: kemenangan hari ini bisa kehilangan arti jika gagal dijaga pada pertandingan berikutnya.

Pelajaran dari Kemenangan Tipis

Pertandingan melawan PSM memberi gambaran jelas tentang identitas Persebaya musim ini. Mereka bukan tim yang selalu dominan secara mencolok, tetapi mulai menunjukkan keseimbangan antara bertahan dan menyerang.

Masalah efektivitas di depan gawang masih ada. Dominasi penguasaan bola belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi produktivitas gol. Namun fondasi permainan terlihat semakin matang.

Dan dalam kompetisi panjang, kematangan sering menjadi pembeda antara tim pesaing dan tim penonton.

Kini sorotan beralih pada satu pertanyaan besar: apakah kemenangan ini awal dari konsistensi, atau hanya jeda singkat dalam grafik performa yang fluktuatif?

Jawabannya akan mulai terlihat ketika Persebaya menghadapi Persib Bandung—laga yang tidak hanya menguji kualitas teknis, tetapi juga ketahanan mental.

Karena di liga, kemenangan sejati bukan ketika berhasil menang sekali.

Melainkan ketika mampu terus menang setelahnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Investor Asing Net Buy Rp 2,7 T: Borong BBRI dan BBCA, Lepas BUMI
• 11 jam lalukatadata.co.id
thumb
IHSG Dibuka Menguat ke 8.351, Simak Proyeksi dan Rekomendasi Saham Hari Ini
• 10 jam lalumedcom.id
thumb
Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Mampu Tampung hingga 6 Helikopter
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Asmindo perkuat kemitraan eksportir kayu AS pasca putusan tarif MA
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Dua Terdakwa Pembunuhan WN Spanyol Divonis 18 Tahun Penjara
• 21 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.