Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini kembali mengalami penguatan. Rupiah melanjutkan tren penguatan terhadap dolar AS sejak pagi tadi.
Mengutip data Bloomberg, Kamis, 26 Februari 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp16.759 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat 41 poin atau setara 0,24 persen dari posisi Rp16.800 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sementara itu, data Yahoo Finance justru menunjukkan rupiah berada di zona merah pada posisi Rp16.750 per USD. Rupiah menguat 58 poin atau setara 0,35 persen dari Rp16.808 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp16.758 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat dari perdagangan sebelumnya di level Rp16.813 per USD.
Baca Juga :
Rupiah Pagi Ini Naik 0,22% ke Rp16.762(Ilustrasi. Foto: Dok MI) Gejolak tarif Trump
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen pasar dimana Amerika Serikat (AS) mulai memberlakukan tarif impor global sementara sebesar 10 persen pada Selasa, dengan pemerintahan Trump berupaya meningkatkan tarif tersebut menjadi 15 persen, sebuah langkah yang telah memicu ketidakpastian atas perdagangan global dan inflasi.
"Tindakan tarif ini menyusul putusan Mahkamah Agung AS pekan lalu yang membatalkan bea masuk besar-besaran yang sebelumnya diberlakukan berdasarkan kekuasaan darurat, mendorong Washington untuk memperkenalkan kembali tarif berdasarkan otoritas hukum alternatif," jelas Ibrahim.
Ketegangan geopolitik juga tetap menjadi fokus, Wakil Menteri Luar Negeri Iran menyatakan Teheran siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan dengan AS. Kedua pihak akan mengadakan putaran ketiga pembicaraan pada hari Kamis di Jenewa di tengah meningkatnya ketegangan atas potensi bentrokan militer antara Washington dan Teheran.
Namun, ekspektasi suku bunga AS akan tetap tinggi. Presiden Federal Reserve Boston Susan Collins mengatakan suku bunga kemungkinan akan tetap tidak berubah untuk beberapa waktu karena data ekonomi terbaru menunjukkan perbaikan di pasar tenaga kerja, sementara risiko inflasi tetap ada, menurut Bloomberg.
Ketua Federal Reserve Chicago Austin Goolsbee menolak ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter, dengan alasan suku bunga harus tetap tidak berubah karena inflasi masih di atas mandat dua persen Fed. Ketua Federal Reserve Atlanta Raphael Bostic menggemakan sikap tersebut, menggarisbawahi perlunya menjaga inflasi tetap menjadi fokus utama.




