JAKARTA, KOMPAS.com – Meja kerja tak lagi selalu berada di dalam kantor. Di berbagai sudut Jakarta, laptop terbuka, secangkir kopi, dan earphone terpasang kini menjadi pemandangan lazim di kafe hingga minimarket.
Fenomena work from anywhere (WFA) membuat batas antara ruang publik dan ruang kerja semakin kabur, sekaligus menandai perubahan budaya kerja pekerja urban.
Dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah pandemi mereda dan pola kerja semakin lentur, kafe dan minimarket bertransformasi menjadi ruang kerja alternatif.
Baca juga: WFA Kian Jamak, Kerja di Kafe Cermin Pergeseran Budaya Pekerja Urban
Bagi sebagian orang, bekerja di luar rumah bukan lagi sekadar selingan untuk mengusir bosan, melainkan bagian dari rutinitas dan strategi menjaga produktivitas.
Ada yang datang demi suasana, ada pula yang mengejar fokus. Sebagian bahkan menghitung biaya nongkrong sebagai investasi produktivitas. Di tengah perubahan itu, ruang-ruang publik menjelma menjadi “kantor kedua” yang fleksibel dan lebih personal.
Lima kali seminggu WFADafa (27), seorang content writer freelance, termasuk pekerja kreatif yang menjadikan kafe sebagai bagian dari sistem kerjanya. Ia mulai sering berpindah tempat sejak pembatasan pandemi longgar dan aktivitas luar ruang kembali memungkinkan.
Berbulan-bulan bekerja dari kamar kos membuat ritme hariannya terasa monoton. Ia mengaku produktivitasnya menurun karena banyak distraksi dan kurangnya suasana pendukung.
Untuk menyiasati kejenuhan itu, Dafa mencoba bekerja dari kafe.
“Saat itu sudah benar-benar merasa jenuh kerja terus di kamar kos," kata Dafa saat ditemui di kawasan Tebet, Rabu (25/2/2026).
Keputusan tersebut membawa dampak yang tak ia duga. Apa yang awalnya sekadar percobaan justru menjadi titik balik dalam cara ia mengelola fokus dan waktu.
Baca juga: Kafe di Jaksel Ini Tak Hanya Rekrut Barista Down Syndrome, tapi Juga Dwarfisme
“Tapi ternyata efeknya besar ke mood kerja saya. Dari yang tadinya gampang terdistraksi, di luar rumah saya justru merasa lebih terdorong untuk menyelesaikan pekerjaan," ujar dia.
Seiring waktu, kebiasaan itu berubah menjadi pola konsisten. Bekerja di kafe bukan lagi sekadar alternatif sesekali, melainkan bagian dari sistem kerjanya sebagai freelancer.
“Nah sejak saat itu, kerja di kafe bukan lagi sekadar selingan, tapi jadi bagian dari rutinitas lah," katanya.
Sebagai pekerja lepas, frekuensi bekerja di luar rumah bergantung pada beban proyek. Saat pekerjaan menumpuk, ia memilih lebih sering keluar demi menjaga konsistensi.
“Kalau sedang banyak proyek, saya bisa keluar 4 sampai 5 kali dalam seminggu. Tapi kalau lagi santai, mungkin cuman 2–3 kali saja," katanya.
Menurut Dafa, lingkungan rumah menyimpan terlalu banyak godaan, di antaranya kasur yang terlalu dekat, notifikasi ponsel, hingga rasa malas yang datang tanpa disadari. Sebaliknya, di ruang publik ia merasakan dorongan untuk lebih disiplin.
“Di kafe, saya merasa ada “tekanan” yang membuat saya lebih disiplin. Rasanya sayang kalau sudah keluar uang tapi enggak benar-benar kerja. Selain itu, ambience suara orang ngobrol justru membantu saya fokus," ujarnya.
Baca juga: Warga Bentangkan Spanduk Tolak Kafe Karaoke Diduga Tempat Prostitusi di Jakbar
Soal biaya, Dafa menyadari bekerja dari kafe jelas lebih mahal dibanding dari rumah. Namun, ia memaknainya sebagai investasi produktivitas.



