Awan Perang AS–Iran Menggumpal, Zhongnanhai Mainkan “Strategi Dua Tangan”

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Situasi antara Amerika Serikat dan Iran meningkat tajam. Sejumlah media internasional menilai konflik AS–Iran mungkin telah memasuki titik kritis. Di tengah ancaman perang yang kian nyata, Beijing secara terbuka menyerukan “dialog dan pengekangan diri”. Namun para pengamat menilai, pernyataan publik Partai Komunis Tiongkok tidak sepenuhnya sejalan dengan kalkulasi strategis sebenarnya.

Menurut laporan media, Amerika Serikat telah mengerahkan sedikitnya dua kelompok tempur kapal induk beserta kekuatan udara besar ke Timur Tengah—dinilai sebagai salah satu pengerahan militer terbesar sejak Perang Irak. 

Pada saat yang sama, pemerintah AS memerintahkan seluruh personel non-esensial untuk meninggalkan Kedutaan Besar AS di Beirut. Sementara itu, Iran menggelar latihan militer dan secara terbuka menyatakan telah siap berperang.

Kedua pihak berada di ambang bentrokan.

Seperti biasa, Beijing menyerukan “perdamaian” dan “komunikasi”. Pernyataan terbaru Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyebutkan: “Kami berharap semua pihak menyelesaikan perbedaan melalui dialog dan bersama-sama menjaga perdamaian serta stabilitas kawasan.”

Namun, perhitungan Beijing tampak jauh lebih kompleks daripada pernyataan resminya.

Peneliti Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Taiwan, Shen Mingshi, menganalisis bahwa Beijing sebenarnya tidak menginginkan rekonsiliasi sejati antara AS dan Iran. Kepentingan intinya adalah mempertahankan “Iran yang tidak runtuh”.

“Mempertahankan Iran yang kuat untuk menahan pengaruh Amerika Serikat di Timur Tengah adalah yang paling menguntungkan bagi Beijing. Baik terhadap Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, bahkan Hamas terhadap Israel, Iran memiliki pengaruh. Karena itu, (PKT) akan mendukung rezim Iran secara diplomatik dan ekonomi,” katanya. 

Wakil profesor Departemen Diplomasi dan Hubungan Internasional Universitas Tamkang, Zheng Qinmo, menunjukkan bahwa Iran merupakan simpul penting dalam strategi global Xi Jinping.

Zheng Qinmo mengatakan: “Tujuan utamanya adalah menarik sumber daya strategis Barat agar terkonsentrasi di Timur Tengah, sehingga PKT bisa menjalankan ambisi hegemoninya secara global. Jika rezim teokrasi Iran runtuh, Beijing akan kehilangan pijakan geopolitik penting di Timur Tengah.”

Yang lebih krusial adalah energi. Iran memiliki cadangan minyak terbukti terbesar ketiga di dunia.

Zheng Qinmo menambahkan: “Jika rezim Iran runtuh dan Amerika Serikat mengambil alih kendali ekspor minyak Iran, maka pengaruh AS dalam politik energi global bisa melampaui 80 persen. Ini akan sangat melemahkan kemampuan PKT untuk melancarkan perang atau agresi di berbagai kawasan dunia.”

Selain itu, menurut Zheng, proyek yang didorong AS dan Eropa, yakni “Koridor Ekonomi India–Timur Tengah–Eropa”, bisa dipercepat, yang selanjutnya akan melemahkan inisiatif Belt and Road Initiative Beijing.

Zheng Qinmo berkata: “Yang terpenting, Timur Tengah yang perlahan bergerak menuju kebebasan, kemakmuran, dan keterbukaan sama sekali tidak sesuai dengan kepentingan PKT. Ini akan sangat mengurangi kemampuannya memanipulasi konflik etnis di kawasan. Bagi ambisi PKT untuk memanfaatkan kekacauan dan mendominasi dunia, ini merupakan pukulan besar.”

Dalam situasi seperti ini, Beijing menerapkan apa yang disebut Shen Mingshi sebagai “strategi dua tangan”.

Shen Mingshi menjelaskan: “Beijing tidak berani secara terbuka memprovokasi Amerika Serikat. Di hadapan AS, mereka mengatakan tidak berpihak pada Iran dan menyerukan perdamaian; tetapi di balik layar, mereka memberikan dukungan ekonomi dan diplomatik kepada Iran agar rezimnya tidak runtuh.”

Lalu, apakah PKT benar-benar mampu menengahi krisis Iran?

Zheng Qinmo menilai, persoalannya bukan pada kemauan, melainkan pada ketidakmampuan.

Ia menganalisis bahwa krisis Iran bersumber dari keruntuhan ekonomi struktural di bawah sistem otoriter. Inflasi yang tak terkendali dan penindasan politik jangka panjang memperparah konflik sosial dan memicu perebutan pengaruh kekuatan besar. 

Rusia terjerat perang Rusia–Ukraina dan tak mampu mengalihkan perhatian; Amerika Serikat dan Israel hampir pasti mendominasi situasi kawasan. Bahkan jika PKT ingin campur tangan, ia dibatasi oleh perlambatan ekonomi dan tekanan politik internalnya sendiri.

Zheng Qinmo mengatakan: “Sistem otoriter seperti ini pasti berujung pada keruntuhan sosial-ekonomi. Bagi PKT saat ini, di tengah geopolitik Timur Tengah dan ketika Rusia pada dasarnya tak mampu campur tangan, mencoba sendirian melawan Amerika Serikat adalah seperti melempar telur ke batu.”

Karena itu, Zheng menilai Beijing hanya bisa bermain di tepi sanksi internasional, mengibarkan panji “perdamaian” dan “kemanusiaan” untuk memberi dukungan ganda—sipil dan militer—kepada Iran.

Para pengamat menunjukkan bahwa pola “secara terbuka mendorong rekonsiliasi, diam-diam membiarkan eskalasi” ini terlihat serupa—dari Iran, perang Rusia–Ukraina, hingga isu Semenanjung Korea.

Sejumlah pejabat Barat pernah menyebut PKT sebagai salah satu “pendorong kunci” perang Rusia–Ukraina. Menteri Luar Negeri Jerman juga secara terbuka mengkritik Beijing karena mendukung mesin perang Rusia.

Zheng Qinmo menyimpulkan bahwa PKT tengah berupaya mendorong revolusi otoritarianisme secara global. Bahkan jika situasi Iran berubah, Beijing tidak akan berhenti menciptakan kekacauan strategis di kawasan lain. Sifat rezim seperti ini menentukan bahwa PKT tidak mungkin menjadi pendorong sejati bagi perdamaian. (Hui)

Sumber : NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Tiba di Abu Dhabi, Akan Bertemu Presiden MBZ
• 15 jam lalurctiplus.com
thumb
Harga Emas Menyala Lagi, Ini Ramalan Kapan Tembus US$ 6.000
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Jepang Tertarik Inovasi Taman Numerasi di Indonesia
• 2 jam lalutvrinews.com
thumb
AHU: Orang tua alih status kewarganegaraan anak sepihak langgar hak
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Mudik Gratis Pemprov DKI Jakarta Resmi Dibuka! Wajib Verifikasi Ulang, Ini Syarat Lengkapnya
• 12 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.