Pencurian Koper Wisatawan Thailand di Bromo, Cukup Sekali Jangan Terjadi Lagi

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Hilangnya koper dan tas milik wisatawan asal Thailand saat mengunjungi Gunung Bromo di Probolinggo, Jawa Timur, pada Minggu (15/2/2026), menarik perhatian publik. Polisi meringkus tiga tersangka. Cukup sekali, jangan terjadi lagi.

Korban adalah MKJ (54), wisatawan asal Thailand. Dia kehilangan tiga tas dan tiga koper. Pencurian terjadi di area parkir pintu masuk Desa Wonotoro yang berbatasan dengan Desa Ngadisari di Kecamatan Sukapura, Probolinggo. Kerugian korban tercatat hingga Rp 108.368.200.

Satuan Reserse Kriminal Polres Probolinggo kemudian menangkap tiga tersangka. Mereka adalah AR (34) selaku eksekutor, dalang aksi bernama ES (46), dan NF (45) yang mengetahui rencana itu sekaligus membantu menghilangkan barang bukti.

Kepala Polres Probolinggo Ajun Komisaris Besar M Wahyudin Latif, Selasa (24/2/2026), mengungkapkan, AR ditangkap 21 Februari di Kedopok, Probolinggo. Dari sana, polisi meringkus ES dan istrinya, NF. Mereka ditangkap di Kota Probolinggo.

Latif menjelaskan, MKJ tiba di Bandara Juanda, Sidoarjo, pada 14 Februari 2026. Dari sana, korban langsung menuju Lumajang. Pada Minggu (15/2/2026) dini hari, korban dan teman-teman sampai di Ngadisari, untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Bromo.

Begitu sampai di Pendopo Ngadisari, korban bersama rombongan berganti kendaraan jip. Sedangkan tasnya ditinggal di dalam mobil hiace. Saat itulah, AR beraksi. Dia merusak kunci pintu Hiace dan membawa pergi barang-barang milik korban.

Meski terjadi dengan cepat, pencurian ini sukses mencoreng wajah Bromo sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia. Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) Rudijanta Tjahja Nugraha menyesalkan kasus ini.

Meski pencurian terjadi di luar kawasan taman nasional, dampaknya potensial berimbas terhadap kunjungan wisata. Terlepas dari itu, dia mengapresiasi kinerja polisi yang cepat menyelesaikan kasus tersebut sehingga pelaku tertangkap.

“Meski di luar kawasan taman nasional, pariwisata itu tidak bisa berdiri sendiri, antara destinasi dan pendukungnya. Tentu kami menyesalkan kejadian yang telah mencoreng citra pariwisata di Bromo ini,” ucap Rudijanta melalui sambungan telepon, Kamis (26/2/2026).

Baca JugaKasada dan "Hong Ulun Basuki Langgeng", Menang Atas Pandemi

Ke depan, Rudijanta mengimbau, semua pelaku wisata bertanggung jawab menjaga iklim wisata. Tujuannya, agar potensi yang ada bisa memberikan manfaat besar, baik konservasi maupun perekonomian.

Sejauh ini, Bromo dikunjungi ratusan ribu wisatawan setiap tahunnya. Data tahun lalu pengunjung Bromo meningkat pesat dari 550.000 di tahun 2024 menjadi hampir 900.000 di tahun 2025. Sebanyak 10 persen diantaranya adalah wisatawan mancanegara.

Hal itu, lanjut dia, menjadikan Bromo sebagai mesin penggerak ekonomi yang besar bagi kawasan di sekitarnya. Rudijanta mencontohkan, sebagai gambaran, jip yang masuk ke Bromo tercatat hampir 200.000 unit di tahun 2025. Jika dikalikan biaya sewa Rp 500.000-Rp 1,2 juta per kendaraahasilnya jelas menggiurkan.

“Jika harga sewa terendah, Rp 500.000 dikalikan 200.000 unit saja sudah Rp 100 miliar uang yang bergerak di sekitar Bromo dari jip. Belum dari penginapan, restoran, dan sebagainya. Maka hal itu akan kontraproduktif jika citra Bromo menjadi jelek kemudian berimbas pada penurunan jumlah pengunjung,” tuturnya.

Selanjutnya, Rudijanta berharap pengunjung juga bisa lebih hati-hati ketika meninggalkan atau menyimpan barang berharga. Sebisa mungkin, mereka mengurangi risiko yang tidak diinginkan. Pihaknya telah intens berkomunikasi dengan pelaku wisata agar tercipta iklim wisata yang lebih baik lagi ke depan.

Dihubungi terpisah, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Pramuwisata Indonesia (DPD HPI) Jatim, Sujai Asmed, menilai pelaku telah merusak citra pariwisata Bromo yang sudah go internasional. Pihaknya pun menyayangkan terjadinya kasus ini.  

Baca JugaSaat Bromo Tak Sekadar Menawarkan Pemandangan, tetapi Juga Cerita Hidup

DPD HPI Jatim beranggotakan 430 orang tersebar di 17 dewan pimpinan cabang. Tugas mereka mendampingi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

“Tugas pokok kami berpegang teguh pada Sapta Pesona dan Kode Etik Pramuwisata. Kami legal turis guide. Jadi SOP (standar operasional prosedur) saat di lapangan selalu degan sopir. Sopir akan stand by di mobil,” katanya.

Menurut Sujai, Bromo merupakan salah satu dari segitiga emas destinasi wisata di Jatim, selain air terjun Tumpak Sewu Lumajang dan Kawah Ijen Banyuwangi. Selama ini, tamu asing paling banyak China, Malaysia, dan Eropa.

Ada juga sedikit wisatawan dari Thailand. Namun, belakangan wisatawan dari Negeri Gajah Putih itu meningkat seiring banyaknya influencer asal China yang datang ke tiga lokasi wisata di atas.

Setelah kasus pencurian ini, menurut Sujai pihaknya mengimbau kepada seluruh anggota untuk meningkatkan kewaspadaan. Ada beberapa langkah preventif, di antaranya menyeleksi secara ketat pengemudi atau vendor. Pastikan bekerja sama dengan pengemudi yang memiliki rekam jejak bersih dan terverifikasi di komunitas resmi.

“Bromo ini ibarat kue empuk bagi pelaku wisata. Sehingga banyak yang ingin mendapatkan kue ini sehingga kadang tidak mengindahkan legalitasnya, standar pelayanan, kenyamanan wisatawan. Yang penting programnya deal, paketnya laku tanpa melihat kualitas di lapangan,” tuturnya.

Baca JugaWulan Kapitu, Kaldera Tengger Bersih dari Kendaraan Bermotor

Selain itu, anggota HPI diimbau memastikan unit kendaraan tidak ditinggalkan dalam keadaan kosong di area publik, meskipun pintu sudah dikunci. Parkir di lokasi yang legal dan terpantau CCTV. Ini tak hanya di Bromo tetapi juga di destinasi wisata yang lain.

Selain itu integritas profesi, bagaimana saling memantau dan melaporkan jika ada indikasi tindakan mencurigakan atau ada oknum yang dapat mencoreng citra pariwisata di Jatim. Keamanan wisatawan menjadi tanggung jawab bersama, termasuk pramuwisata.

“Perkuat koordinasi dengan pihak berwenang dan pihak terkait agar Bromo kembali jadi destinasi yang aman dan nyaman bagi semua,” katanya.

Yang perlu diwaspadai adalah jika kejadian serupa terjadi berulang, karena itu bisa memicu persepsi bahwa pengawasan lemah dan risiko tinggi

Sementara itu, Tourismologist Universitas Brawijaya Malang Faidlal Rahman mengatakan, pencurian barang milik wisatawan, secara persepsi, sangat mungkin mencoreng obyek wisata.

Dalam industri pariwisata, isu keamanan adalah faktor sensitif. Wisatawan, khususnya mancanegara, sangat memperhatikan rasa aman sebelum memutuskan berkunjung.

Satu kasus saja bisa cepat menyebar melalui media sosial dan membentuk opini negatif. Namun, apakah itu langsung merusak citra Bromo secara permanen?

Menurut Faidlal tidak selalu akan begitu. Reputasi destinasi yang sudah kuat seperti Bromo memiliki daya tahan, asalkan responsnya cepat, transparan, dan tegas. Yang lebih berbahaya bukan peristiwanya semata, tetapi jika penanganannya lambat atau terkesan diabaikan.

 

Terkait dampak kasus ini terhadap kunjungan wisata ke depan, menurut Faidlal tergantung pada manajemen krisis. Dalam jangka pendek, bisa saja muncul kekhawatiran, terutama dari wisatawan yang mengandalkan ulasan daring. Agen perjalanan luar negeri juga biasanya sensitif terhadap isu keamanan.

Namun, jika kasus tersebut bersifat insidental dan tidak berulang, dampaknya biasanya hanya sementara. Wisata alam seperti Bromo memiliki daya tarik yang kuat dan pasar yang relatif loyal.

“Yang perlu diwaspadai adalah jika kejadian serupa terjadi berulang, karena itu bisa memicu persepsi bahwa pengawasan lemah dan risiko tinggi,” katanya.

Baca JugaDi Tengger, Toleran sampai Kuburan

Menurut dia ada beberapa langkah penting yang perlu dilakukan pengelola dalam sebuah kesatuan ekosistem wisata dengan lingkungan sekitar, yakni penguatan sistem keamanan, seperti meningkatkan patroli, menambah CCTV di titik rawan, serta memperjelas prosedur pengaduan wisatawan.

Koordinasi lintas pihak, pengelola, aparat keamanan, pelaku usaha jip, homestay, hingga pemandu wisata juga harus dilibatkan dalam sistem pengawasan bersama.

Selain itu standar pelayanan dan kode etik pelaku wisata mesti dijaga. Penting ada komitmen bersama bahwa keamanan wisatawan adalah tanggung jawab kolektif. Respons cepat dan terbuka, jika ada kasus segera tangani dan sampaikan secara resmi bahwa tindakan telah dilakukan.

“Dalam konteks destinasi berbasis alam seperti Bromo, keamanan bukan hanya soal fisik, tetapi juga rasa aman psikologis,” ucapnya.

Untuk kembali memulihkan kepercayaan publik, tidak cukup hanya dengan pernyataan, tetapi harus terlihat dalam tindakan nyata. Beberapa strategi yang bisa dilakukan ialah transparansi penanganan kasus, publik perlu tahu bahwa pelaku ditindak dan sistem diperbaiki. Kampanye positif berbasis pengalaman wisatawan, dorong wisatawan yang tetap merasa aman untuk membagikan pengalamannya.

Testimoni pelaku industri dan komunitas lokal juga penting. Faidlal meengatakan, masyarakat sekitar mesti menunjukan tidak mentoleransi tindakan kriminal. Peningkatan standar keamanan sebagai nilai jual baru, misalnya dengan menyampaikan bahwa destinasi kini memiliki sistem pengamanan yang lebih baik.

“Intinya, kepercayaan dalam pariwisata dibangun dari konsistensi. Jika dalam beberapa bulan ke depan tidak ada kasus serupa dan pengelolaan terlihat lebih profesional, maka kepercayaan publik akan kembali secara alami,” katanya.

Faidlal melihat peristiwa ini sebagai pengingat bahwa destinasi kelas dunia tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam. Tata kelola, keamanan, dan kesiapan menghadapi krisis adalah bagian dari daya saing destinasi itu sendiri. Jika dikelola dengan baik, peristiwa ini justru bisa menjadi momentum untuk memperkuat sistem dan meningkatkan kualitas pengelolaan wisata Bromo ke depan.

Baca JugaPenjaga Tradisi Tengger di Lereng Bromo


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Masih Bocil, Putri Kim Jong Un Diangkat Jadi Dirjen Rudal Korea Utara
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Jadwal Imsakiyah Medan Hari Ini 26 Februari 2026, Lengkap dengan Niat Puasa
• 19 jam lalurctiplus.com
thumb
Perkuat Sinergitas, Polda Jatim Gelar Buka Puasa Bersama Insan Pers 
• 7 jam lalutvrinews.com
thumb
Tanpa Bojan Hodak, Persib Siap Pertahankan Tren Positif di Kandang Saat Hadapi Madura United
• 6 jam lalubola.com
thumb
Sumedang Fokus Ubah Pola Pikir Warga untuk Entaskan Kemiskinan Ekstrem
• 4 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.