Bisnis.com, BANDUNG— Pemerintah Kabupaten Sumedang mengintensifkan strategi penanggulangan kemiskinan melalui pendekatan terpadu lintas perangkat daerah.
Wakil Bupati Sumedang M. Fajar Aldila menegaskan untuk menyelesaikan permasalahan itu, akar persoalan harus tersentuh, termasuk perubahan pola pikir masyarakat. Ia menemukan ketergantungan pada bantuan sosial di beberapa wilayah pelosok.
"Pengentasan kemiskinan tidak akan benar-benar tuntas kalau kita tidak menyelesaikan sampai ke akarnya. Bantuan itu sifatnya sementara, tetapi keberdayaan harus selamanya. Mindset menunggu bantuan ini harus kita ubah," katanya, Kamis (26/2/2026).
Baca Juga
- Pemkab Sumedang Bakal Pantau Harga Pangan Secara Berkala Jaga Stabilitas Ekonomi
- Sumedang Siap jadi Percontohan Nasional Rantai Pasok Program MBG
- Ini Capaian Pemkab Sumedang di 2025, Meski Hadapi Segudang Tantangan
Di sisi lain, Wabup Fajar menekankan pendekatan persuasif serta empati dalam mendampingi masyarakat. Ini bertujuan agar mereka berani keluar dari zona kemiskinan.
Selanjutnya, ia meminta seluruh perangkat daerah untuk tidak hanya fokus pada angka statistik. Perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat menjadi prioritas.
Sementara itu, validasi data juga menjadi perhatian utama bagi pemerintah daerah. Ia mengingatkan bahwa kesalahan sasaran bisa terjadi jika data tidak akurat.
"Verifikasi dan validasi harus benar-benar dilakukan. Pastikan bantuan APBD tepat sasaran dan diterima masyarakat yang benar benar berhak," ujarnya.
Ia juga mendorong adanya pendampingan intensif bagi keluarga miskin, terutama dalam menghadapi era digital. Pendampingan tersebut meliputi pelatihan usaha hingga pemanfaatan teknologi untuk pemasaran online.
Selain itu, dalam sektor pendidikan, Fajar menilai peningkatan rata-rata lama sekolah menjadi salah satu kunci utama menekan angka kemiskinan secara berkelanjutan. Pendidikan yang memadai akan membantu keluarga keluar dari kemiskinan.
"Kalau pendidikan meningkat, saya yakin kemiskinan pasti turun. Anak-anak yang mendapatkan pendidikan yang cukup akan membantu keluarganya keluar dari kemiskinan," katanya.
Di sisi lain, ia juga menyoroti persoalan pengangguran di wilayah industri. Banyak pabrik, namun tingkat pengangguran tetap tinggi.
Oleh karena itu, kompetensi tenaga kerja lokal harus ditingkatkan melalui pelatihan keterampilan agar mampu bersaing.
"Pabrik ada di Sumedang, tenaga kerjanya harus orang Sumedang. Kita siapkan pelatihannya dulu sesuai kebutuhan perusahaan," tegasnya.
Meski di tengah keterbatasan fiskal daerah, Fajar meminta seluruh perangkat daerah memastikan program berdampak nyata. Semua intervensi harus benar-benar menurunkan kemiskinan ekstrem.
Ia pun mengajak seluruh jajaran bekerja dengan keikhlasan serta empati dalam melayani masyarakat.
"Pengentasan kemiskinan harus dilakukan secara kolektif dan komprehensif. Kita semua adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita kerjakan hari ini," ungkapnya.




