Penulis: Alfin
TVRINews, Jakarta.
Industri perunggasan Indonesia memasuki fase baru setelah perusahaan pakan asal Belanda, De Heus Animal Nutrition, resmi mengakuisisi CJ Feed & Care dari Korea Selatan. Nilai transaksi mencapai 2.109 miliar won atau sekitar Rp24 triliun dan mencakup 17 pabrik pakan di lima negara, termasuk Indonesia.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Singgih Januratmoko, menilai langkah ini menjadi momentum penting bagi pemerintah untuk memastikan industri dalam negeri tetap berdaya saing.
“Yang perlu dicermati adalah bagaimana De Heus tidak hanya membeli pabrik, tetapi juga membeli teknologi dan jaringan. CJ Feed & Care dikenal memiliki pengalaman lebih dari 50 tahun di bidang nutrisi hewan, ditambah penguasaan teknologi formulasi pakan canggih, bioteknologi, dan sistem manajemen peternakan berbasis digital,” terang Singgih, dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis, 26 Februari 2026.
Akuisisi dijadwalkan rampung pertengahan 2026. De Heus tidak hanya mengambil alih fasilitas produksi, tetapi juga teknologi, sistem manajemen, serta jaringan distribusi yang telah dibangun lebih dari 50 tahun oleh CJ Feed & Care.
Perusahaan keluarga yang berdiri sejak 1911 itu kini mengoperasikan lebih dari 90 lokasi produksi di 20 negara. Dengan masuknya aset CJ di Indonesia, De Heus langsung memiliki infrastruktur matang tanpa harus membangun dari awal.
CEO Royal De Heus, Gabor Fluit, menyatakan kombinasi keahlian nutrisi hewan dan manajemen peternakan dengan kekuatan lokal CJ akan menciptakan nilai tambah bagi pelanggan dan mitra.
Menurut Singgih Kita harus jujur mengakui bahwa industri perunggasan nasional masih menghadapi pekerjaan rumah yang serius. Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) mencatat sepanjang 2025 terjadi kelebihan pasokan Day Old Chicken (DOC). Produksi mencapai 3,5 miliar ekor, sedangkan kebutuhan nasional sekitar 3,2 miliar ekor. Kelebihan ini memicu fluktuasi harga yang merugikan peternak.
Masuknya pemain global dengan modal besar dan teknologi efisien berpotensi memperketat persaingan. Biaya produksi pakan dapat ditekan lebih rendah, sehingga peternak yang tidak mampu beradaptasi berisiko tersisih.
Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Sugeng Wahyudi, mengingatkan persaingan tidak seimbang bisa terjadi jika efisiensi produksi dalam negeri masih kalah dibanding produsen besar luar negeri.
Menurut Singgih Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. De Heus membawa pendekatan terintegrasi, mulai dari pakan, pendampingan teknis, genetik unggul, hingga solusi pembiayaan. Model ekosistem seperti ini sulit disaingi pelaku usaha kecil dan menengah yang hanya menjual pakan eceran.
Namun, di sisi lain, ia melihat peluang pembenahan industri. Persaingan yang lebih terbuka dapat memacu peningkatan kualitas dan efisiensi. Ujarnya
Pemerintah telah menaikkan kuota impor Grand Parent Stock (GPS) dari 578 ribu ekor menjadi 800 ribu ekor pada 2026 guna mengantisipasi lonjakan kebutuhan protein, termasuk untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
PT Janu Putra Sejahtera Tbk memanfaatkan kebijakan ini dengan meningkatkan impor indukan dari Amerika Serikat dan Selandia Baru.
Menurut Singgih Kenaikan kuota GPS ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi menjamin ketersediaan bibit unggul. Di sisi lain, tanpa perencanaan matang, kondisi ini berpotensi memperparah oversupply dua hingga tiga tahun mendatang. GOPAN mengingatkan dampak impor GPS baru terasa setelah dua tahun saat bibit berkembang menjadi ayam siap potong. Ujar singgih
Menurut singgih Di sinilah pentingnya peran negara. Pemerintah tidak boleh tinggal diam membiarkan industri lokal "dihabisi" oleh pemain global. Namun, keberpihakan yang dimaksud bukan proteksionisme buta. Keberpihakan yang cerdas adalah menciptakan lapangan bermain yang setara atau level playing field sambil memperkuat daya saing lokal.
Ia memaparkan tiga langkah penting.
Pertama, pembenahan data dan tata kelola industri guna mengatasi fluktuasi harga livebird dan oversupply DOC yang berulang setiap tahun. Kebijakan pengurangan populasi DOC dan penetapan Harga Pokok Produksi (HPP) perlu ditegakkan konsisten.
Kedua, memperluas akses peternak kecil terhadap teknologi dan pembiayaan, terutama untuk memenuhi kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis. Tanpa kesiapan produksi dalam negeri, peluang impor karkas ayam terbuka lebar.
Ketiga, pemerintah daerah perlu menjadikan industri perunggasan sebagai sektor strategis. Di Jakarta, Gubernur Pramono Anung tengah menyusun Rencana Pembangunan Industri Provinsi (RPIP) 2026–2046 yang menitikberatkan industri bernilai tambah dan penguatan industri kecil menengah. Langkah serupa dinilai perlu diterapkan di daerah sentra peternakan.
Selain itu, pengawasan persaingan usaha harus diperketat. Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) diminta aktif memantau potensi praktik monopoli atau predator pricing pascamerger.
Menurut singgih Akuisisi De Heus terhadap CJ Feed & Care adalah warning keras bagi industri perunggasan nasional. Globalisasi industri pangan sudah di depan mata. Tidak ada lagi istilah pemain lokal yang aman dari gangguan pemain asing.
Ia menegaskan industri nasional masih memiliki keunggulan berupa pemahaman karakter peternak lokal, jaringan distribusi yang terbangun puluhan tahun, serta loyalitas pelanggan. Modal sosial ini dinilai penting untuk bertahan.
Menurut Singgih Merger De Heus-CJ adalah ujian sesungguhnya bagi ketahanan industri peternakan Indonesia. Yang harus dilakukan adalah memperkuat fondasi dari hulu pembibitan, efisiensi pakan, hingga tata niaga yang adil.
Pemerintah harus hadir sebagai wasit yang adil sekaligus pelatih yang memperkuat tim nasional. Pelaku usaha diminta beradaptasi cepat agar Indonesia dapat memanfaatkan kehadiran pemain global sebagai pemacu inovasi dan memperkuat posisi sebagai basis produksi protein hewani di Asia Tenggara.
Editor: Redaksi TVRINews





