Setiap Peristiwa dalam Lensa Jurnalis

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Ketika 13 tenaga kerja perempuan asal Jawa Barat diselamatkan dari dugaan praktik perdagangan orang di Sikka, Nusa Tenggara Timur, publik tentu terkejut. Bagaimana mungkin praktik trafficking masih terjadi? Bukankah negara telah memiliki perangkat hukum dan sistem pengawasan?

Namun pertanyaan yang lebih mendasar adalah: Apakah semua orang melihat peristiwa ini dengan cara yang sama?

Sebagian melihatnya sebagai kabar heroik penyelamatan korban oleh negara. Sebagian lain melihatnya sebagai kegagalan sistem perlindungan tenaga kerja. Ada pula yang melihatnya sebagai tragedi kemanusiaan yang berulang. Di sinilah letak perbedaan antara sekadar menyaksikan peristiwa dan memaknai realitas.

Dalam kerja jurnalistik, peristiwa tidak berhenti pada “apa yang terjadi”. Ia harus dijawab dengan “mengapa bisa terjadi” dan “apa dampaknya bagi publik”. Fakta adalah fondasi, tetapi konteks adalah penopangnya. Tanpa konteks, berita menjadi dangkal tanpa verifikasi ia menjadi berbahaya.

Kasus ini memuat elemen nilai berita yang kuat: dampak, konflik, dan kepentingan publik. meminjam pemikiran Owen Spencer-Thomas, sebuah isu, peristiwa, informasi, atau cerita itu bisa dikategorikan sebagai berita apabila ia memiliki nilai berita atau elemen-elemen berita ini di dalamnya.

Dampaknya nyata 13 warga negara berada dalam posisi rentan. Konfliknya jelas ada dugaan perekrutan dengan tipu daya dan eksploitasi. Kepentingan publiknya besar perlindungan tenaga kerja adalah mandat konstitusional negara.

Ujian Profesionalisme Jurnalis Dimulai

Objektivitas kerap disalahpahami sebagai netralitas pasif: memberi porsi yang sama kepada semua pihak tanpa mempertimbangkan validitas informasi. Padahal dalam tradisi jurnalistik modern, objektivitas adalah disiplin verifikasi. Ia menuntut ketelitian, keberanian memilah fakta dari disinformasi, serta ketegasan menempatkan kebenaran di atas keseimbangan semu.

Memberi ruang yang sama kepada fakta dan manipulasi bukanlah keadilan; itu adalah false balance. Sebagaimana pernah ditegaskan oleh Jakob Oetama, objektivitas absolut tidak pernah ada. Yang ada adalah upaya terus-menerus untuk mendekati kebenaran melalui integritas dan tanggung jawab profesional. Artinya, jurnalis memang manusia dengan latar belakang nilai dan pengalaman, tetapi ia tidak boleh membiarkan opini pribadi mengganggu proses verifikasi.

Dalam konteks kasus ini, jurnalis tidak boleh terjebak pada sensasionalisme judul dramatis, diksi hiperbolik, atau eksploitasi emosi korban. Tugas utama bukan memancing klik, melainkan menghadirkan pemahaman.

Peran jurnalis lebih dari sekadar penyampai kabar. Ia adalah penjaga memori kolektif. Jika peristiwa seperti ini tidak dicatat dengan akurat dan proporsional, ia bisa dilupakan. Lebih berbahaya lagi, ia bisa dipelintir atau direduksi menjadi sekadar insiden sesaat tanpa refleksi sistemik.

Perdagangan orang bukan hanya persoalan kriminalitas, melainkan persoalan struktur kemiskinan, ketimpangan informasi, lemahnya pengawasan, dan celah regulasi. Jika pemberitaan berhenti pada penyelamatan semata, publik kehilangan gambaran utuh tentang akar persoalan.

Framing Seorang Jurnalis

Di titik ini framing menjadi krusial. Framing bukan manipulasi, ia adalah pilihan sadar tentang sudut pandang yang relevan bagi kepentingan publik. Apakah berita diletakkan sebagai kisah heroisme, sebagai alarm sistemik, atau sebagai evaluasi kebijakan? Pilihan itu menentukan bagaimana publik memahami realitas.

Karena itu, setiap peristiwa dalam lensa jurnalis sejatinya adalah tanggung jawab moral. Berita yang baik tidak hanya menginformasikan, tetapi juga mencerdaskan. Ia tidak sekadar menggugah emosi, tetapi membangun kesadaran.

Di tangan jurnalis yang berintegritas, peristiwa bukan hanya kejadian. Ia menjadi pelajaran bersama tentang negara, tentang kemanusiaan, dan tentang kewajiban kita menjaga kebenaran.

Dan di situlah jurnalisme menemukan maknanya.

------------------------------------------------

Penulis adalah jurnalis. Alumnus program Jurnalism Course Thomson Foundation, University of Derby, dan The Open University (UK). Anggota Hostwriter (Jaringan jurnalis lintas negara)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Industri Pers Bisa Terdampak Kesepakatan RI-AS, Ini Pemicunya
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
Stasiun Transmisi TVRI Liwa Desak PDAM Limau Kunci Segera Perbaiki Pipa Rusak
• 1 jam lalutvrinews.com
thumb
Alasan OJK Gandeng Inggris Perkuat Ketahanan Pembiayaan Perbankan terhadap Risiko Iklim
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Hasil Pertemuan Prabowo & Abdullah II: BoP hingga Solusi Dua Negara
• 21 jam lalubisnis.com
thumb
Debt Collector Tikam Advokat di Tangerang, Anggota Komisi III DPR Dorong Gugatan Class Action
• 23 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.