FAJAR, SURABAYA — Malam di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, seharusnya hanya menjadi cerita tentang kemenangan tipis Persebaya Surabaya atas PSM Makassar. Skor 1-0 memang memastikan tiga poin penting bagi tuan rumah dalam lanjutan Super League 2025/2026. Namun setelah peluit panjang berbunyi, sorotan justru bergeser dari papan skor menuju ruang konferensi pers.
Di sana, seorang pelatih berbicara bukan sekadar sebagai rival, melainkan sebagai seseorang yang sedang bertemu kembali dengan masa lalunya.
Namanya Bernardo Tavares.
Ia datang sebagai pelatih Persebaya, tetapi sebagian hatinya masih tertinggal di Makassar.
Antara Profesionalisme dan Kenangan
Tavares tidak mencoba menyembunyikan emosinya. Ketika ditanya soal pertandingan melawan mantan klub yang pernah ia tangani lebih dari tiga musim, nada bicaranya berubah lebih pelan—nyaris reflektif.
Baginya, PSM bukan sekadar lawan.
“Itu klub terakhir saya. Saya ingin mendoakan semoga sukses untuk PSM di pertandingan berikutnya,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sarat makna. Selama tiga setengah musim bersama PSM, Tavares bukan hanya membangun tim, tetapi juga membentuk relasi personal dengan pemain, staf, dan suporter. Banyak pemain yang kini masih mengenakan jersey merah merupakan pilihannya sendiri.
Ia mengenal mereka bukan hanya sebagai atlet, tetapi sebagai individu yang tumbuh bersama dalam tekanan kompetisi.
“Kami bersama selama tiga tahun, dalam suka dan duka. Kami seperti keluarga,” katanya.
Dalam dunia sepak bola profesional yang bergerak cepat dan sering melupakan masa lalu, pengakuan seperti ini terasa langka.
Hormat untuk Masa Lalu, Fokus untuk Masa Kini
Meski nostalgia terasa kuat, Tavares tetap menegaskan batas yang jelas antara kenangan dan tanggung jawab profesional.
Kini ia adalah pelatih Persebaya.
Dan kemenangan menjadi kewajiban.
Di lapangan, tidak ada ruang untuk sentimentalitas. Persebaya membutuhkan poin untuk menjaga peluang di papan atas klasemen, sementara PSM sedang berjuang menjauh dari zona berbahaya.
Peran pelatih menuntut keputusan rasional, bahkan ketika lawannya adalah tim yang pernah ia bangun sendiri.
Namun setelah pertandingan selesai, sisi manusia kembali muncul.
Tavares menyampaikan pesan khusus kepada suporter PSM—sesuatu yang jarang dilakukan pelatih kepada pendukung tim lawan.
Ia meminta mereka tetap datang ke stadion dan mendukung tim.
“Dukung tim kalian. Jangan menyerah, karena mereka membutuhkan dukungan,” katanya.
Pesan itu terdengar seperti nasihat seorang mantan anggota keluarga yang masih peduli dari kejauhan.
Dua Klub, Dua Arah Musim
Kemenangan tersebut membawa Persebaya bertahan di posisi kelima klasemen sementara dengan 38 poin. Momentum mulai kembali setelah periode hasil kurang stabil.
Sebaliknya, PSM Makassar masih tertahan di peringkat ke-13 dengan 23 poin—posisi yang memaksa mereka segera menemukan kembali identitas permainan.
Ironisnya, sebagian fondasi kejayaan PSM beberapa musim lalu justru dibangun oleh sosok yang kini berdiri di bangku lawan.
Sepak bola memang penuh paradoks.
Pelatih yang pernah membawa kebanggaan kini harus menjadi penghalang. Tim yang dulu ia rayakan kini harus ia kalahkan.
Sepak Bola dan Hubungan yang Tak Pernah Benar-benar Putus
Pertandingan mungkin selesai dalam 90 menit. Klasemen akan berubah setiap pekan. Pemain datang dan pergi.
Namun hubungan yang terbentuk dalam perjalanan panjang tidak mudah hilang.
Ucapan Tavares malam itu menunjukkan satu hal: dalam sepak bola, rivalitas bisa berlangsung di lapangan, tetapi rasa hormat tetap hidup di luar garis permainan.
PSM mungkin kini sedang melalui masa sulit. Persebaya sedang mengejar ambisi baru.
Tetapi bagi Bernardo Tavares, satu kenyataan tetap sama.
Makassar bukan sekadar tempat ia pernah bekerja.
Melainkan rumah lama yang kenangannya belum benar-benar usai.





