Rombongan Safari Ramadan DPP Partai NasDem mengunjungi Pondok Pesantren (Ponpes) Amanatul Ummah, Mojokerto. Pimpinan rombongan, Saan Mustopa berpesan kepada para santri agar tak berhenti menjalani pendidikan sebab ilmu tak pernah ada habisnya.
Rombongan DPP Partai NasDem menyapa ratusan santri di Masjid Besar KH Abdul Chalim, Desa Kembangbelor, Pacet, Mojokerto sore tadi. Sebelum itu, mereka menunaikan salat asar berjamaah dipimpin Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim.
Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai NasDem, Saan Mustopa mengatakan, silaturahminya kali ini dalam rangka safari Ramadan keliling Jawa. Hingga hari keenam safari Ramadan, Ponpes Amanatul Ummah menjadi pesantren ke-8 yang ia kunjungi bersama rombongan dari DPP Partai NasDem.
"Terima kasih, khususnya kepada Pak Kiai kami bisa silaturahmi dengan seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Amanatul Ummah. Sebuah penghormatan bagi kami keluarga besar Partai NasDem," kata Saan di hadapan para santri, Kamis (26/2/2026).
Politisi yang kini menjabat Wakil Ketua DPR RI ini menjelaskan, silaturahmi ke pesantren dalam safari Ramadan sesuai pesan Ketum Partai NasDem Surya Paloh. Sebab silaturahmi ini wujud penghormatan dan apresiasi terhadap kontribusi dan jasa pesantren dan para kiai kepada bangsa dan negara.
"Kalau kita baca sejarah, peran para kiai dan santri dalam melawan penjajah sangat besar. Bukan hanya fisik, harta, pikiran, bahkan nyawa mereka korbankan untuk kemerdekaan bangsa ini. Di pesantren diajarkan cinta tanah air, nasionalisme kita dibentuk," jelasnya.
Selain itu, lanjut Saan, silaturahmi ke pesantren menjadi pengingat bagi politisi agar menjaga politik tetap mulia. Yaitu politik untuk membangun kemaslahatan dan kemanfaatan dengan melakukan berbagai perubahan ke arah yang lebih baik, serta untuk meningkatkan kesejahteraan, memerangi kebodohan dan kemiskinan.
"Supaya tujuan mulia ini dilakukan dengan cara yang baik dan benar, maka partai dan para politisi harus sering-sering silaturahmi dan dialog dengan para kiai dan keluarga pesantren untuk mengontrol, mengingatkan agar kesucian politik tetap terjaga. Karena pesantren ini tempat orang-orang yang baik," ujarnya.
Sedangkan kepada para santri Ponpes Amanatul Ummah, Saan berpesan agar mereka tak pernah berhenti menjalani pendidikan. Ia menegaskan, keterbatasan bukanlah halangan. Saan pun mengisahkan masa kecilnya yang menempuh pendidikan SD tanpa sepatu dan seragam. Ia harus rela lebih dari 11 tahun menggembala kambing.
"Jangan pernah berhenti terus menjalani pendidikan sampai yang tertinggi, sampai kita siap berkompetisi dalam kehidupan yang sesungguhnya. Karena ilmu tidak ada habisnya, dengan ilmu kita bisa menjadi apapun. Kedua, tentang kesucian hati, semua disasarkan pada niat yang baik. Karena dengan niat yang baik, orang punya harapan," tandasnya
(prf/ega)





