REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Beberapa negara meminta warganya untuk meninggalkan Iran, dan mulai menarik anggota keluarga diplomat dan pegawai non-esensial dari beberapa lokasi di Timur Tengah.
Selain itu mereka juga menyarankan warganya untuk menunda perjalanan ke wilayah tersebut, sebagai antisipasi serangan Amerika Serikat terhadap Teheran.
Baca Juga
Hari Ini Ratusan Abad Silam, 5 Peristiwa Terjadi: Larangan Puasa Portugal Hingga Ibnu Majah Wafat
Jangan Samakan Sukses Serangan AS ke Venezuela dengan Iran, Mengapa? Ini 5 Perbedaannya
Indikator Perang Sangat Kuat, AS tak Juga Serang Iran? Ini 1 Penyebabnya Menurut Eks Elite Pentagon
Peringatan terus bermunculan, sementara perhatian tertuju ke Jenewa pada Kamis (26/2/2026), tempat putaran ketiga pembicaraan antara Washington dan Teheran untuk membahas kesepakatan nuklir akan digelar.
Putaran baru negosiasi ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menuduh Teheran dalam sidang di depan Kongres, Rabu dini hari, berusaha memiliki senjata nuklir. Dia juga menuduh Iran mengembangkan rudal balistik yang mampu mencapai Amerika.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Trump mengatakan bahwa dia tidak akan membiarkan penyokong terorisme terbesar di dunia ini memiliki senjata nuklir, sementara Teheran menegaskan haknya untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai.
Hal ini terjadi bersamaan dengan pengerahan pasukan militer besar-besaran oleh Amerika Serikat di wilayah Teluk dan Timur Tengah, serta ancaman berulang untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran jika upaya diplomatik gagal.
Dalam situasi ini, sejumlah negara secara berturut-turut mengeluarkan pengumuman mengenai warganya di wilayah tersebut, di antaranya:
Amerika Serikat
Washington mengumumkan pengurangan kehadiran diplomatiknya di Lebanon, serta penarikan pegawai non-esensial dan anggota keluarga mereka.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)