Bisnis.com, JAKARTA — Harga pangan tetap menjadi salah satu tekanan biaya yang paling berkelanjutan dan membebani bagi rumah tangga di seluruh dunia.
Pada tahun 2026, tagihan belanja bahan makanan diproyeksikan akan meningkat tajam di beberapa negara, sementara tetap relatif stabil di negara lain.
Menurut perkiraan baru dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), inflasi pangan akan sangat bervariasi di 160 negara pada tahun 2026, mulai dari lonjakan dua digit di beberapa negara hingga penurunan harga yang signifikan di negara lain.
Peta ini mengurutkan 160 negara berdasarkan proyeksi perubahan harga pangan tahunan, menyoroti di mana rumah tangga kemungkinan akan menghadapi kenaikan paling tajam pada tahun 2026.
Saat ini, tekanan inflasi tetap paling kuat di negara-negara berkembang dan negara-negara yang bergantung pada impor.
Inflasi pangan dipengaruhi oleh pergerakan mata uang, harga komoditas, gangguan perdagangan, dan kondisi pasokan domestik. Negara-negara yang mengalami depresiasi mata uang atau ketidakstabilan ekonomi yang berkelanjutan cenderung mengalami peningkatan biaya pangan yang lebih tajam.
Baca Juga
- 660 SPPG di Sumsel Berpotensi Picu Inflasi, KPPG Keluarkan Aturan Belanja
- BI Sulsel Wanti-Wanti Lonjakan Inflasi selama Kuartal I/2026
Di puncak peringkat adalah Iran, di mana harga pangan diperkirakan akan naik 55,9% dari tahun ke tahun. Depresiasi mata uang Iran dan tekanan inflasi yang berkepanjangan telah mendorong inflasi pangan ke tingkat ekstrem dalam beberapa tahun terakhir. Perkiraan tahun 2026 menunjukkan bahwa tekanan tersebut mungkin akan berlanjut.
Beberapa negara ekonomi Afrika Sub-Sahara, termasuk Nigeria (17,1%), Angola (14,8%), Zambia (10,8%), dan Ethiopia (10,1%), juga termasuk di antara yang tertinggi. Di banyak negara ini, inflasi pangan terkait erat dengan volatilitas mata uang, ketergantungan impor, dan gangguan sisi penawaran.
Meskipun rata-rata global diproyeksikan inflasi pangan naik sebesar 3,2%, rincian regional menunjukkan perbedaan yang mencolok dalam bagaimana harga pangan diperkirakan akan berkembang pada tahun 2026.
Kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara menonjol, dengan kenaikan hampir tiga kali lipat rata-rata global.
Amerika Utara berada di tengah-tengah, dengan harga pangan diproyeksikan naik 4,3%. Di AS, harga diperkirakan akan meningkat 2,7%, sementara di Kanada, harga bisa naik lebih dari dua kali lipat.
Sementara itu, sebagian besar kawasan Asia-Pasifik diproyeksikan mengalami pertumbuhan harga pangan yang relatif moderat.
Berikut 10 negara dengan lonjakan harga pangan tertinggi pada 2026 menurut PBB:- Iran: 55,9%
- Uni Emirat Arab: 33,2%
- Turki: 25,1%
- Haiti: 24,1%
- Malawi: 21,2%
- Nigeria: 17,1%
- Libanon: 14,9%
- Angola: 14,8%
- Kazakstan: 12,7%
- Zambia: 10,8%
Meskipun inflasi pangan global diperkirakan akan turun menjadi satu digit pada tahun 2026, gambaran regional menunjukkan cerita yang jauh lebih tidak merata.
Bagi jutaan rumah tangga di negara-negara dengan inflasi tinggi, tagihan belanja bahan makanan mungkin tetap menjadi salah satu tekanan ekonomi yang paling berkelanjutan di tahun mendatang.





