Laba Bersih Astra (ASII) Susut Jadi Rp 32,76 Triliun, Tertekan Pasar Mobil Lesu

katadata.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Raksasa otomotif PT Astra International Tbk (ASII) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 32,76 triliun sepanjang tahun lalu. Torehan ini menyusut 3,36% dibandingkan dengan laba bersih perseroan pada tahun sebelumnya Rp 33,9 triliun.

Presiden Direktur Astra Djony Bunarto Tjondro mengatakan penurunan laba terutama disebabkan oleh melemahnya harga batu bara dan lesunya pasar mobil baru. “Namun, kinerja bisnis Grup tetap resilien didukung oleh kontribusi yang baik dari bisnis-bisnis lainnya,” kata dia dalam keterangan pers dikutip Jumat (27/2).

Astra memperkirakan sentimen konsumen akan membaik, meskipun kondisi operasional di sejumlah lini usaha masih menantang. Perseroan menegaskan tetap berfokus pada keunggulan operasional dan disiplin dalam alokasi modal dengan memanfaatkan neraca yang kuat guna menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan.

Mengutip laporan keuangan ASII hingga periode 31 Desember 2025, pendapatan bersih tercatat turun 1,54% menjadi Rp 323,39 triliun dari Rp 328,48 triliun secara tahunan atau year on year (yoy).

Penurunan terutama berasal dari berkurangnya kontribusi bisnis jasa penambangan dan pertambangan batu bara serta penjualan mobil baru. Kinerja ini sebagian diimbangi oleh pertumbuhan pada bisnis pertambangan emas, jasa keuangan dan sepeda motor.

Menilik lebih lanjut, laba bersih ASII pada 2025 bersumber dari divisi otomotif dan mobilitas Rp 11,36 triliun, jasa keuangan Rp 8,95 triliun, alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi Rp 9,09 triliun, infrastruktur Rp 1,25 triliun, agribisnis Rp 1,17 triliun, properti Rp 719 miliar, dan teknologi informasi Rp 208 miliar. 

Nilai aset bersih per saham meningkat 8% menjadi Rp 5.692. Sementara itu, kas bersih di luar anak usaha jasa keuangan mencapai Rp 7,2 triliun, turun dari Rp 8 triliun pada 2024. Adapun utang bersih anak usaha jasa keuangan naik menjadi Rp 64,9 triliun dari sebelumnya Rp 60,2 triliun.

Pada awal 2026, Astra telah merampungkan program pembelian kembali saham atau buyback senilai Rp 2 triliun. Perseroan kemudian melanjutkan buyback tahap kedua yang selesai pada 25 Februari 2026 dengan nilai Rp 685 miliar. Manajemen menyebut langkah ini mencerminkan keyakinan terhadap prospek bisnis dan kemampuan menghasilkan arus kas berkelanjutan, sekaligus mendukung stabilitas pasar modal.

Selain itu, Astra menyelesaikan akuisisi 100% PT Arafura Surya Alam, perusahaan tambang emas yang berlokasi di Sulawesi Utara pada Februari 2026.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menhub Dudy: Jawa Barat Jadi Asal Pemudik Terbesar Lebaran 2026
• 23 jam lalutvrinews.com
thumb
Crystal Palace dan Fiorentina Amankan Tiket 16 Besar Liga Konferensi Eropa Usai Laga Dramatis
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Kemenkes Jelaskan Temuan 2 Kasus Campak WNA Australia yang Sempat ke RI
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Kasus Kekerasan di Kampus UIN Sultan Syarif Kasim Riau, Legislator Dorong Implementasi PPKPT
• 17 jam lalutvrinews.com
thumb
Dirjen AHU Pertanyakan Status WNA Anak Alumni LPDP yang Bikin Heboh di Medsos
• 15 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.