Tanah, Tubuh, dan Trauma: Ereveld Leuwigajah sebagai Monumen Kemanusiaan

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Ereveld Leuwigajah di Cimahi Selatan bukan sekadar kompleks pemakaman perang. Ia adalah ruang ingatan kolektif yang menyimpan jejak kolonialisme, kekerasan struktural, dan penderitaan manusia lintas identitas. Di balik letaknya yang tersembunyi di tengah permukiman padat, Ereveld justru menjadi ruang terbuka bagi refleksi sejarah bangsa. Di tempat ini, sejarah tidak hadir sebagai narasi buku pelajaran, melainkan sebagai realitas material: tanah, batu nisan, dan tubuh manusia.

Ereveld mengubah kolonialisme dari konsep abstrak menjadi pengalaman konkret. Ia menghadirkan sejarah sebagai sesuatu yang bisa disentuh, dilihat, dan direnungkan. Barisan nisan bukan hanya penanda kematian, tetapi teks sosial yang memuat narasi kekuasaan, penindasan, dan kemanusiaan. Setiap makam menjadi arsip bisu yang menyimpan kisah tentang perang, kerja paksa, penyakit, kelaparan, dan kekerasan sistemik.

Dalam ruang ini, kolonialisme berhenti menjadi wacana ideologis. Ia menjelma sebagai trauma biologis dan sosial. Tubuh manusia menjadi bukti sejarah. Kematian bukan sekadar peristiwa individual, melainkan bagian dari sistem politik global. Ereveld Leuwigajah, dengan demikian, bukan hanya situs sejarah, tetapi monumen kemanusiaan; ruang etis yang memaksa kita membaca masa lalu bukan dari sudut kemenangan, melainkan dari luka.

Tanah sebagai Arsip Kekuasaan

Kompleks Ereveld Leuwigajah berdiri di atas lahan sekitar tiga hektare dengan lebih dari 5.200 jenazah dimakamkan secara teratur. Mereka berasal dari berbagai latar belakang: tentara KNIL, tawanan perang, warga sipil, romusha, serta anak-anak. Identitas etnis dan sosial mereka beragam yaitu Belanda, Indonesia, Ambon, Maluku, Batak, Sunda. Ini menunjukkan bahwa kolonialisme selalu bersifat lintas identitas dan tidak pernah sederhana.

Dalam satu ruang yang sama, korban penjajah dan yang dijajah berbaring berdampingan. Tanah Ereveld menjadi arsip kekuasaan yang memuat paradoks sejarah: penindas dan yang ditindas disatukan oleh kematian. Ini menunjukkan bahwa kolonialisme bukan hanya sistem ekonomi dan politik, tetapi sistem pengelolaan hidup dan mati. Tubuh manusia menjadi bagian dari logika kekuasaan kolonial.

Keindahan lanskap Ereveld yakni barisan nisan simetris, rumput hijau, latar perbukitan, menciptakan estetika yang tenang. Namun, keindahan ini justru menyembunyikan luka kolektif. Di balik ketertiban visual, tersimpan sejarah kekerasan struktural. Estetika tidak menghapus trauma, tetapi memperhalus cara penderitaan tampil di ruang publik. Ereveld menjadi metafora kolonialisme itu sendiri: rapi di permukaan, brutal di dalam struktur.

Tubuh sebagai Bukti Sejarah

Salah satu blok khusus Ereveld diperuntukkan bagi anak-anak. Sekitar lima ratus makam kecil berdiri sunyi. Blok ini merupakan simbol paling telanjang dari kekerasan sejarah. Anak-anak tidak memilih perang, tidak memilih kolonialisme, dan tidak memiliki posisi dalam konflik politik global. Mereka hanya lahir dalam sistem yang salah. Di sini, kolonialisme tampil sebagai tragedi biologis: penghancuran tubuh, keluarga, dan masa depan generasi.

Tragedi tenggelamnya kapal Junyo Maru pada 18 September 1944 menjadi salah satu simbol kekerasan itu. Ribuan tawanan perang dan romusha tewas akibat torpedo dalam konteks Perang Dunia II. Monumen Junyo Maru di Ereveld menghadirkan tragedi global itu dalam ruang lokal. Indonesia menjadi panggung geopolitik internasional, sementara tubuh rakyat menjadi korban konflik global.

Tubuh manusia di Ereveld bukan sekadar jasad, tetapi bukti sejarah. Mereka adalah arsip biologis kolonialisme. Dalam perspektif ini, sejarah tidak lagi berupa peristiwa dan tanggal, tetapi statistik kematian massal. Ereveld memperlihatkan bahwa kolonialisme adalah sistem produksi kematian, bukan sekadar sistem administrasi kekuasaan.

Trauma, Ingatan, dan Monumen Kemanusiaan

Sejarawan Benedict Anderson dalam Imagined Communities menjelaskan bahwa bangsa dibentuk oleh ingatan kolektif. Makam perang adalah bagian dari mekanisme pembentukan memori itu. Ereveld Leuwigajah berfungsi sebagai arsip ingatan sosial yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Tanpa ruang simbolik seperti ini, sejarah mudah berubah menjadi mitos kosong.

Anthony Reid dalam Southeast Asia in the Age of Commerce menegaskan bahwa kolonialisme bekerja melalui kekerasan dan struktur sosial. Ereveld menjadi bukti konkret tesis tersebut. Kematian bukan peristiwa acak, tetapi bagian dari sistem politik. Sejarah tidak lagi abstrak, melainkan hadir sebagai akumulasi jasad manusia.

M.C. Ricklefs dalam A History of Modern Indonesia mengingatkan bahaya narasi tunggal sejarah. Ereveld justru menghadirkan sejarah yang polifonik: korban Belanda dan Indonesia, tentara dan warga sipil, penjajah dan yang dijajah. Semua hadir dalam satu ruang. Ini memaksa pembacaan sejarah yang kritis, reflektif, dan manusiawi.

Pengelolaan kompleks ini oleh Oorlogsgravenstichting sejak 1949 menciptakan paradoks pascakolonial: ruang kolonial tetap eksis dalam negara merdeka. Namun maknanya berubah. Dari simbol dominasi menjadi ruang edukasi. Dari legitimasi kekuasaan menjadi monumen refleksi.

Dalam konteks ini, Ereveld Leuwigajah bukan monumen kolonial, tetapi monumen kemanusiaan. Ia memantulkan wajah sejarah yang nyata: luka, kehilangan, dan sunyi. Ia mengajarkan bahwa kemerdekaan lahir bukan hanya dari heroisme, tetapi dari penderitaan panjang. Sejarah bukan sekadar cerita kemenangan, tetapi juga cerita tubuh yang hancur dan trauma yang diwariskan.

Daftar Pustaka

Anderson, B. (1983). Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. London: Verso.

Reid, A. (1988). Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450–1680. New Haven: Yale University Press.

Ricklefs, M. C. (2008). A History of Modern Indonesia since c.1200. Stanford: Stanford University Press.

Kompas. (2019, 18 September). "Makam Perang Belanda di Cimahi". Harian Kompas.

Oorlogsgravenstichting. (2020). Dutch War Graves Foundation Annual Report. Den Haag: Oorlogsgravenstichting.

Cribb, R. (2000). Historical Atlas of Indonesia. Honolulu: University of Hawai‘i Press.

Friend, T. (2003). Indonesian Destinies. Cambridge, MA: Harvard University Press.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
LAZ Hadji Kalla Fokus Entaskan Kemiskinan Ekstrem pada 2026
• 5 jam laluterkini.id
thumb
Cimory (CMRY) Cetak Laba Bersih Rp2,03 Triliun Sepanjang 2025, Tumbuh 33,80 Persen
• 1 jam laluidxchannel.com
thumb
Kronologi Penangkapan Bandar Narkoba Ko Erwin yang Coba Kabur ke Malaysia
• 6 menit laluliputan6.com
thumb
KPK Wanti-wanti Pejabat Tidak Minta THR Saat Lebaran, Bisa Kena Gratifikasi
• 6 jam lalubisnis.com
thumb
Purbaya Didorong Terapkan Tarif Cukai Khusus Rokok, Begini Skemanya
• 1 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.