Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu, menilai Indonesia saat ini berada dalam posisi paradoks karena kekayaan sumber daya alam yang dimiliki tak hanya jadi kekuatan, tapi juga kelemahan ekonomi.
“Saya pikir Indonesia ini sekaligus diberkahi dan dikutuk karena kita kaya sumber daya, dan hal ini sudah berlangsung selama puluhan tahun bukan? Ekonomi kita selalu mampu tumbuh karena kita memiliki sumber daya, tetapi begitu harga turun, kita tampak menghadapi krisis,” kata Mari Elka Pangestu dalam gelaran The New Calculus for Growth Markets: Scaling Innovation & Entrepreneurship in Southeast Asia di Nur Corner S28, Jakarta Selatan, Kamis (26/2).
Mari menjelaskan, kondisi perekonomian Indonesia yang fluktuatif mendorong lahirnya berbagai reformasi serta deregulasi untuk mengurangi ketergantungan pada sektor tersebut.
“Sehingga kita bisa mulai melakukan diversifikasi dari ketergantungan pada sumber daya. Menurut saya, kita masih berada dalam situasi itu sekarang. Saat ini sekitar 60 persen ekspor kita serta penerimaan pajak sebenarnya masih berasal dari sektor berbasis sumber daya. Karena itu selalu ada kesadaran bahwa kita perlu melakukan diversifikasi,” lanjut Mari.
Sektor Jasa dan Ekonomi Kreatif Punya Potensi untuk DikembangkanSelain itu, ia menilai sektor jasa memiliki potensi besar karena telah menyumbang sekitar 50 hingga 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sekaligus menjadi penyerap tenaga kerja utama, meskipun saat ini masih didominasi jasa bernilai tambah rendah seperti konstruksi, ritel, dan perhotelan.
“Pertanyaannya, bagaimana kita bisa naik ke level jasa bernilai tinggi, yang sebagian besar berada di ekonomi kreatif seperti desain, riset dan pengembangan, serta pariwisata tentu saja. Menurut saya, inilah sektor-sektor potensial untuk kita kembangkan,” tutur Mari.
Ia menambahkan, kebijakan pemerintah dan dukungan berbagai pihak diperlukan untuk menciptakan ekosistem yang kondusif dalam aspek kreativitas, mulai dari pendidikan, pengembangan talenta, hingga perlindungan hak kekayaan intelektual.
Mari pun mencontohkan industri film yang kini mulai berkembang karena lembaga keuangan sudah memiliki metode penilaian baru untuk menilai potensi ekonomi sektor kreatif, sehingga pembiayaan menjadi lebih memungkinkan.
“Jadi menurut saya kita memang sedang membuat kemajuan, tetapi masih banyak hal yang bisa diperbaiki untuk memastikan kita dapat mendorong kreativitas dan inovasi, karena saya rasa itulah cara pertumbuhan yang lebih berkelanjutan,” lanjutnya.
Terakhir, ia menilai perusahaan berbasis sumber daya seperti batu bara, minyak, dan gas sebenarnya menyadari sektor mereka yang akan mengalami penurunan, sehingga mulai melakukan transformasi dan diversifikasi usaha.
“Karena itu mereka juga mulai bermigrasi, berubah, dan melakukan diversifikasi. Namun pertanyaannya, apakah itu terjadi cukup cepat, dan apakah hilirisasi bisa menjadi jawabannya, menurut saya itulah pertanyaan besar lainnya bagi kita,” sebut Mari.
Sekilas Tentang MIT Kuo Sharper Center Indonesia Series 2026MIT Kuo Sharper Center menghadirkan diskusi yang membahas pendekatan baru dalam menyelaraskan kebijakan, modal, dan kapabilitas guna memperkuat ekosistem inovasi. Diskusi ini bertajuk The New Calculus for Growth Markets: Scaling Innovation Entrepreneurship in Southeast Asia.
Lewat diskusi ini, narasumber yaitu Executive Director MIT Kuo Sharper Center Dina H. Sherif, Sandiaga Uno, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu, dan Presiden Direktur PT Iforte Solusi Infotek Peter Djatmiko membahas posisi Indonesia sebagai salah satu motor pertumbuhan dalam mendorong transformasi digital dan pengembangan industri di Asia Tenggara.





