Mi nyemek memang bukan menu baru. Tapi entah kenapa, sajian satu ini selalu punya tempat spesial di hati para pencinta mi instan. Kuahnya yang kental, teksturnya creamy, plus rasa gurih yang nempel di lidah bikin siapa pun susah menolak kelezatan mi yang satu ini.
Tapi pernah nggak sih kamu ngerasa, mi instan buatan sendiri kok rasanya beda banget sama yang dijual di warkop atau warmindo, ya? Padahal mereknya sama, bumbunya pun sama. Kok bisa mi buatan abang-abang rasanya lebih nendang?
Nah, rahasianya ternyata nggak cuma soal bumbu, salah satu penjual mi nyemek yang viral di Yogyakarta, Siti Artani, pemilik Mi Nyemekee, membagikan beberapa tips biar masak mi nyemek seenak jualannya.
Menurut Siti, kunci pertama ada di pemilihan jenis minya. “Yang enak mi goreng, kalau mi rebus dibikin nyemek terlalu asin,” katanya saat ditemui kumparanFOOD di festival Indomie Nyemek on The Block di Mall Gandaria City beberapa waktu lalu.
Selain itu, Siti bilang, rahasia berikutnya ada di aroma, ia selalu menambahkan bawang putih yang sudah digeprek, lalu ditumis sampai harum. Kalau sudah harum, langsung masukkan telur dan buat orak-arik di wajan yang sama.
“Telur itu bikin creamy, apalagi kalau pakainya telur bebek, lebih enak, lebih gurih,” tambahnya.
Setelah telur itu, baru tambahkan air secukupnya. Tunggu sampai mendidih, lalu masukkan mi dan sayuran seperti sawi. Kalau suka pedas, boleh juga tambahkan cabai, dan sedikit kecap manis.
Untuk waktu memasak, menurut Siti jangan sampai terlalu lama. “5-7 menitanlah. Jangan terlalu lama nanti jadi lodrok,” ujarnya sambil tertawa.
Uniknya, Siti masih menggunakan anglo (tungku arang) untuk memasak. “Kalau anglo, baru minyak kasih bawang gepuk udah harum. Harumnya beda,” katanya.
Berawal dari Usaha KeluargaSiti juga bercerita bahwa perjalanan usaha mi nyemek ini sebenarnya bermula dari usaha keluarga, tepatnya milik kakak iparnya. Sementara itu, Siti sendiri dulunya justru memiliki usaha buah.
Namun setelah sang bude meninggal, usaha mi tersebut sempat berhenti sekitar tiga sampai empat bulan karena tidak ada yang meneruskan. Meski begitu, pelanggan setia tetap berdatangan dan meminta agar warung kembali dibuka.
Melihat antusiasme tersebut, keluarga pun mulai berdiskusi hingga akhirnya, Siti dan suami memutuskan untuk mencoba meneruskan usaha tersebut.
“Bismillah, ibu sama bapak akhirnya nerusin usaha mi,” cerita anak Siti.
Di awal merintis kembali, penjualannya belum langsung ramai. Dalam sehari, mi yang terjual paling banyak hanya satu dus. Banyak yang bilang, “beda tangan beda rasa”, namun mereka tidak menyerah. Perlahan, mereka belajar menjaga cita rasa khas racikan sang bude, termasuk tetap menggunakan anglo agar aroma masakannya tetap autentik.
Seiring waktu, usaha tersebut mulai dikenal luas. Apalagi saat media sosial seperti Instagram dan Twitter sedang booming di sekitar 2014, mi nyemek ini sempat viral dengan cerita para pembeli yang rela antre untuk mencicipi seporsi mi nyemek buatan Bu Siti.
Jika dulu hanya laku satu dus sehari, kini Siti bisa menjual hingga 10 dus. Jam bukanya pun panjang, dari pukul 15.00 WIB hingga 03.00 WIB, bahkan saat bulan puasa bisa sampai menjelang sahur.




