Jakarta (ANTARA) - Psikolog Klinis Remaja dan Dewasa Nena Mawar Sari membagikan kiat bagi orang tua agar dapat meregulasi emosi dengan baik saat menghadapi anak, salah satunya dengan jeda dan menyadari kondisi emosi yang dirasakan.
"Biasanya dalam kondisi lapar, marah, kesepian kemudian kita merasa capek, emosi kita jadi mudah terpancing. Nah caranya adalah dengan berjeda dan tetap menyadari emosi kita itu bentuknya yang mana," katanya saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Jumat.
Menurutnya, kondisi emosi yang dirasakan orang tua bisa terjadi karena berbagai hal seperti lapar, marah, sendiri dan lelah atau hungry, angry, lonely, tired (HALT).
Baca juga: Psikolog: Uang kerap digunakan jadi alat regulasi emosi
Terlebih saat ini umat Islam tengah menjalankan ibadah puasa, kondisi ini kerap menyebabkan gula darah menurun sehingga lemas. "Kita harus menahan lah emosi, emosional kita, belum lagi sibuk masak dan energi kita habis," jelasnya lagi.
Dengan menyadari kondisi yang dialami, maka diharapkan untuk mengambil tindakan seperti jeda, agar tindakan impulsif yang berpotensi melakukan tindakan yang akan disesali dalam waktu mendatang tidak terjadi.
"Jadi nggak apa-apa untuk mengatakan mama sedang capek, bisa nggak kita ngobrolnya nanti atau misalnya lihat gambarnya ya pada saat sudah istirahat dan lain sebagainya sehingga kita bisa menghindari tindakan impulsif," katanya.
Baca juga: Jeda akses informasi bisa bantu kurangi kecemasan
Hal lain yang juga dibutuhkan oleh orang tua agar mendapatkan dukungan dalam mengasuh anak adalah dukungan emosional dan berbagi peran, sehingga tidak hanya ibu saja yang berperan dalam mengasuh anak.
Berdialog dengan pasangan menurutnya juga sebaiknya dilakukan untuk mengurangi hambatan atau menyelesaikan persoalan yang dialami oleh orang tua sehingga tidak ditanggung sendirian, serta membicarakan mengenai peran-peran yang misalnya tidak seimbang dalam rumah tangga sehingga dapat menghadirkan jalan tengah yang tepat.
"Jadi setiap anggota keluarga hendaknya punya peran yang sama dan setara sesuai dengan kapasitasnya masing-masing," tutup Nena.
Baca juga: Psikolog ingatkan masyarakat pentingnya melatih regulasi emosi
Baca juga: Kenali tahapan anak ekspresikan emosi sesuai usianya
"Biasanya dalam kondisi lapar, marah, kesepian kemudian kita merasa capek, emosi kita jadi mudah terpancing. Nah caranya adalah dengan berjeda dan tetap menyadari emosi kita itu bentuknya yang mana," katanya saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Jumat.
Menurutnya, kondisi emosi yang dirasakan orang tua bisa terjadi karena berbagai hal seperti lapar, marah, sendiri dan lelah atau hungry, angry, lonely, tired (HALT).
Baca juga: Psikolog: Uang kerap digunakan jadi alat regulasi emosi
Terlebih saat ini umat Islam tengah menjalankan ibadah puasa, kondisi ini kerap menyebabkan gula darah menurun sehingga lemas. "Kita harus menahan lah emosi, emosional kita, belum lagi sibuk masak dan energi kita habis," jelasnya lagi.
Dengan menyadari kondisi yang dialami, maka diharapkan untuk mengambil tindakan seperti jeda, agar tindakan impulsif yang berpotensi melakukan tindakan yang akan disesali dalam waktu mendatang tidak terjadi.
"Jadi nggak apa-apa untuk mengatakan mama sedang capek, bisa nggak kita ngobrolnya nanti atau misalnya lihat gambarnya ya pada saat sudah istirahat dan lain sebagainya sehingga kita bisa menghindari tindakan impulsif," katanya.
Baca juga: Jeda akses informasi bisa bantu kurangi kecemasan
Hal lain yang juga dibutuhkan oleh orang tua agar mendapatkan dukungan dalam mengasuh anak adalah dukungan emosional dan berbagi peran, sehingga tidak hanya ibu saja yang berperan dalam mengasuh anak.
Berdialog dengan pasangan menurutnya juga sebaiknya dilakukan untuk mengurangi hambatan atau menyelesaikan persoalan yang dialami oleh orang tua sehingga tidak ditanggung sendirian, serta membicarakan mengenai peran-peran yang misalnya tidak seimbang dalam rumah tangga sehingga dapat menghadirkan jalan tengah yang tepat.
"Jadi setiap anggota keluarga hendaknya punya peran yang sama dan setara sesuai dengan kapasitasnya masing-masing," tutup Nena.
Baca juga: Psikolog ingatkan masyarakat pentingnya melatih regulasi emosi
Baca juga: Kenali tahapan anak ekspresikan emosi sesuai usianya





