Saham PT Indospring Tbk (INDS) menjadi perhatian pelaku pasar setelah terkoreksi tajam dan menyentuh auto rejection bawah (ARB) beruntun.
IDXChannel – Saham produsen pegas kendaraan PT Indospring Tbk (INDS) menjadi perhatian pelaku pasar setelah terkoreksi tajam dan menyentuh auto rejection bawah (ARB) 15 persen secara berturut-turut.
Kondisi tersebut menandai pembalikan arah dari tren reli yang sebelumnya sempat mengangkat harga saham sepanjang Januari hingga pertengahan Februari lalu.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 11.28 WIB saham INDS merosot 14,84 persen ke level Rp1.090 per saham, dengan nilai transaksi mencapai Rp474,5 juta dan volume perdagangan sebanyak 435 ribu saham.
Antrean jual di level ARB terpantau padat, mencapai 342 ribu lot atau setara sekitar Rp37,41 miliar.
Dengan kondisi tersebut, saham INDS tercatat mengalami ARB selama enam hari berturut-turut, setelah sebelumnya sempat melesat dan berulang kali menyentuh auto rejection atas (ARA), bahkan menembus rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di level Rp3.410 per saham pada intraday 19 Februari 2026.
Sebelumnya, Founder WH Project, William Hartanto, menjelaskan bahwa pergerakan saham INDS dinilainya tidak ditopang fondasi yang kuat sejak awal kenaikan.
“Saya sendiri tidak tahu apa daya tarik dari INDS. Yang saya perhatikan sejak kenaikannya sendiri (sebelum ARB) itu tidak ada akumulasinya sama sekali. Sepertinya memang awareness yang dipaksakan ke publik saja untuk menghasilkan kenaikan sementara,” kata William, Selasa (24/2/2026).
William menambahkan, kondisi pasar belakangan ini juga turut memengaruhi perubahan perilaku investor ritel.
“Dan karena sekarang sudah mulai ada berita-berita tentang goreng saham dan influencer yang kena denda, pelaku pasar yang mayoritas ritel ini pun mulai sadar dan saling lomba melepas saham INDS, makanya sekarang ARB,” imbuh dia.
Valuasi Mahal
Saham INDS saat ini diperdagangkan pada valuasi premium, dengan price to earnings ratio (PER) mencapai 121,90 kali dan price to book value (PBV) sebesar 2,37 kali.
Jika ditelaah menggunakan pendekatan arus kas masa depan melalui model Discounted Cash Flow (DCF), harga wajar INDS diperkirakan berada di kisaran Rp59 per saham. Dengan demikian, harga saat ini tergolong sangat mahal atau overvalued dibandingkan nilai intrinsiknya.
Kabar Teranyar
Kabar terbaru, INDS mulai memproduksi secara komersial lini bisnis fastener (U-Bolt) sejak 2025.
Produk tersebut disebut-sebut akan menjadi salah satu sumber pertumbuhan perseroan dalam beberapa tahun ke depan, seiring dengan strategi diversifikasi pasar dan ekspansi ke pasar global.
Direktur INDS Bob Budiono menjelaskan, pada tahap awal perseroan memfokuskan pemasaran fastener ke segmen aftermarket otomotif, sambil tetap membuka peluang investasi lanjutan untuk pengembangan fastener non-otomotif sebagai langkah diversifikasi risiko usaha.
“Tahun ini fokus kami masih aftermarket. Namun, kami juga menyiapkan opsi ekspansi ke fastener non-otomotif. Targetnya, Indospring bisa masuk tiga besar pemain fastener di pasar domestik dan menjadikan lini ini sebagai motor pertumbuhan jangka panjang,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (19/2/2026) lalu.
Menurut Bob, pabrik fastener Indospring kini telah beroperasi penuh, melengkapi portofolio bisnis perseroan yang sebelumnya didominasi oleh pegas daun, pegas keong, serta komponen sistem pengereman.
Dengan kapasitas produksi yang telah stabil, perseroan mulai mengarahkan strategi pada penguatan pasar ekspor.
Untuk 2026, Indospring membidik ekspor ke kawasan Timur Tengah, khususnya UAE dan Uzbekistan, serta pasar Amerika Serikat (AS).
Pemilihan wilayah tersebut didasarkan pada kesamaan spesifikasi kendaraan dengan Indonesia, terutama dominasi truk merek Jepang yang menggunakan model dan standar teknis serupa. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.





