Menjadi pesepak bola Muslim dan menjalani Ramadan merupakan salah satu tantangan tersendiri di Australia. Hal ini diceritakan pemain keturunan Australia-Indonesia, Eizar Tanjung.
Eizar bercerita bahwa ia tetap harus menjalani latihan dan pertandingan bersama timnya, Sydney FC, selama Ramadan. Ia juga harus bersaing dengan pemain-pemain lain yang tak menjalankan ibadah puasa.
"Hal tersulit menjadi pemain Muslim di Australia? Pasti bulan yang sedang kami jalani sekarang ini, bulan puasa dan segala hal yang menyertainya. Di Australia, tidak banyak orang yang Muslim," kata Eizar, eksklusif kepada kumparan.
"Bagi mereka yang Muslim, cukup berat bersaing dengan pemain lain yang benar-benar dalam kondisi prima dan sehat. Mereka makan, minum, tetap terhidrasi, dan memenuhi kebutuhan nutrisi dengan baik. Sementara hanya sedikit pemain Muslim di tim saya, misalnya, jadi kami seperti sedikit tertinggal. Tapi tidak apa-apa," lanjutnya.
"Kami tetap datang, tetap bermain, tetap berjuang. Dan biasanya saya justru bermain lebih baik selama bulan Ramadan. Bulan ini benar-benar membantu saya untuk lebih dekat dengan Tuhan dan tampil maksimal, baik di dalam maupun di luar lapangan," dirinya menambahkan.
Beberapa waktu lalu, Eizar menjalani pertandingan bersama Sydney FC. Eizar bercerita, ia berbuka puasa tepat sebelum kick off pertandingan.
"Sebelum pertandingan, tepat sebelum saya berjalan keluar ke lapangan, saya makan kurma, makan pisang, lalu minum gel energi dan Gatorade. Saya benar-benar kenyang. Saya benar-benar menghabiskannya, lalu langsung harus bermain. Saya berjalan keluar dengan perut penuh. Rasanya cukup enak," ujar Eizar.





