Langit dan Laut Dipenuhi Mesin Tempur—Apakah Ini Ultimatum Terakhir untuk Teheran?

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Ketika putaran ketiga perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 26 Februari 2026, di Jenewa, Swiss, suhu ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat secara signifikan. Di tengah proses diplomasi yang disebut-sebut sebagai momentum krusial, Washington justru memperlihatkan konsentrasi kekuatan militer dalam skala besar di sekitar Iran.

Laporan Financial Times edisi 24 Februari 2026 mengungkap bahwa Amerika Serikat telah mengerahkan 16 kapal perang, dua kapal pendukung logistik, sekitar 40.000 personel militer, serta ratusan pesawat tempur ke kawasan Timur Tengah. Formasi tersebut membentuk jaringan tempur terpadu yang mencakup laut, darat, dan udara—sebuah konfigurasi yang dinilai banyak analis sebagai kesiapan operasional nyata, bukan sekadar manuver simbolis.

Formasi Tempur Multi-Domain: Laut, Udara, dan Darat

Pengerahan militer ini mencakup penempatan lima skuadron tempur di berbagai pangkalan strategis di kawasan Teluk dan sekitarnya, yakni:

Setiap skuadron diperkirakan terdiri dari sekitar 70 pesawat tempur, termasuk jet generasi kelima dan pesawat dukungan tempur.

Di laut, Amerika Serikat mengoperasikan dua gugus tempur kapal induk:

Masing-masing kapal induk membawa satu skuadron tambahan dan didukung kapal perusak, kapal penjelajah, serta sistem pertahanan rudal terintegrasi. Kehadiran dua carrier strike group secara bersamaan dinilai semakin mempersempit ruang gerak strategis Iran di Teluk Persia dan Laut Arab.

Pangkalan Yordania dan Israel Jadi Titik Sorot

Citra satelit terbaru yang dipublikasikan pada 23–24 Februari 2026 menunjukkan konsentrasi besar pesawat tempur AS di Pangkalan Udara Muwaffaq Al-Salti, Yordania. Sedikitnya 66 pesawat tempur canggih teridentifikasi di lokasi tersebut, termasuk:

Selain itu, jumlah pesawat tempur AS di Arab Saudi juga dilaporkan terus bertambah dalam beberapa hari terakhir.

Perhatian internasional juga tertuju pada pemindahan 12 jet tempur F-22 Raptor dari pangkalan depan di Inggris menuju Pangkalan Udara Ovda, Israel selatan, yang dilaporkan telah mendarat pada awal pekan ini (sekitar 22–23 Februari 2026). F-22 dikenal sebagai jet superioritas udara paling canggih milik AS dan jarang ditempatkan secara terbuka di kawasan tersebut.

Tak hanya itu, sejumlah besar pesawat pengisi bahan bakar udara (air refueling tankers) turut dikerahkan, membuka kemungkinan operasi jarak jauh berkelanjutan tanpa perlu kembali ke pangkalan asal.

Di wilayah Amerika Serikat sendiri, pesawat komando strategis E-4B “Nightwatch”, yang kerap dijuluki “pesawat kiamat” karena fungsinya sebagai pusat komando udara dalam situasi darurat nasional, dilaporkan berada dalam status siaga di Pangkalan Udara Andrews.

Diplomasi di Bawah Bayang-Bayang Militer

Langkah militer ini terjadi hanya beberapa hari sebelum putaran ketiga perundingan nuklir di Jenewa pada 26 Februari 2026. Presiden Donald Trump sebelumnya menegaskan bahwa diplomasi tetap menjadi opsi utama, tetapi opsi militer tetap terbuka apabila kesepakatan tidak tercapai.

Pendekatan yang sering dia sebut sebagai “peace through strength” atau “perdamaian melalui kekuatan” kini secara nyata diterapkan: tekanan militer digunakan sebagai alat tawar dalam negosiasi.

Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai dan berada dalam kerangka hak penggunaan energi nuklir untuk tujuan sipil. Teheran membantah tuduhan pengembangan senjata nuklir.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam pernyataannya di media sosial pada 24 Februari 2026, menyampaikan bahwa selama jalur diplomasi masih menjadi prioritas, peluang kesepakatan tetap terbuka. Namun dia juga memperingatkan bahwa setiap pelanggaran terhadap kedaulatan Iran akan mendapat respons tegas.

Tekanan Eksternal dan Tantangan Internal Iran

Situasi ini bukan hanya soal negosiasi teknis mengenai tingkat pengayaan uranium atau masa moratorium. Sejumlah analis keamanan internasional menilai Iran menghadapi tekanan berlapis.

Secara eksternal, eskalasi dengan Israel dan Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatkan risiko salah kalkulasi. Secara internal, Iran menghadapi:

Kombinasi faktor tersebut mempersempit ruang manuver strategis Teheran dalam mengambil keputusan besar.

Momen Penentuan

Menjelang 26 Februari 2026, dunia menanti apakah perundingan di Jenewa akan menghasilkan terobosan atau justru memperdalam jurang konfrontasi.

Bagi Amerika Serikat, pengerahan militer besar-besaran ini berfungsi ganda: sebagai alat pencegah sekaligus instrumen tekanan dalam diplomasi.

Bagi Iran, pilihan yang tersedia semakin terbatas—menyesuaikan diri dengan tuntutan internasional atau menghadapi risiko eskalasi yang konsekuensinya sulit diprediksi.

Sejarah menunjukkan bahwa bahaya terbesar dalam konflik bukan sekadar kesalahan perhitungan, tetapi kegagalan untuk mengoreksi arah ketika tanda-tanda risiko sudah terlihat jelas.

Kini, semua mata tertuju pada Jenewa. Waktu terus berjalan, dan keputusan yang diambil dalam hitungan hari ke depan berpotensi membentuk lanskap keamanan Timur Tengah untuk tahun-tahun mendatang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hakim Nilai Main Golf Edward Corne dengan Rekanan Rentan Konflik Kepentingan
• 21 jam lalukompas.com
thumb
Sepp Blatter Serang Infantino: FIFA Kini Cuma Milik Satu Orang
• 10 jam laluviva.co.id
thumb
Laba Turun Jadi Rp32,76 Triliun di 2025, Bos Astra (ASII) Ungkap Penyebabnya
• 12 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
BMKG: Sebagian Jakarta Berpotensi Hujan Ringan pada Jumat Siang
• 12 jam lalupantau.com
thumb
Vonis 15 Tahun, Hakim Perintahkan Aset PT OTM Milik Kerry Andrianto Dirampas untuk Negara
• 5 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.