Banyak orang tua langsung waspada saat anak atau anggota keluarga mengalami demam tinggi karena takut demam berdarah (DBD). Namun tahukah, ada penyakit lain akibat gigitan nyamuk yang tak kalah berbahaya dan dapat menyebabkan penderitanya sulit berjalan?
Hal ini dialami seorang ibu dua anak, Kezia Saputri, yang membagikan kisahnya melalui Instagram @keziasaputri. Awalnya, ia hanya mengalami demam tinggi seperti infeksi virus pada umumnya.
Beberapa hari kemudian, sendi-sendi tubuhnya terasa sangat nyeri hingga sulit melangkah. Ia juga mengalami penurunan trombosit, mual, tidak nafsu makan, dan badan terasa sangat sakit. Sekilas memang menyerupai DBD, tetapi ternyata ia didiagnosis chikungunya.
Apa Bedanya Demam Berdarah Dengue dan Chikungunya?Menurut Dokter Spesialis Anak, dr. Aisya Fikritama, Sp.A, chikungunya dan DBD sama-sama penyakit infeksi yang ditularkan melalui gigitan nyamuk.
“Penyakit ini tidak menular langsung dari orang ke orang. Tapi penularannya terjadi melalui gigitan nyamuk yang sebelumnya telah terinfeksi virus chikungunya,” ujar dr. Aisya pada kumparanMOM, Kamis (26/2).
Nyamuk penularnya adalah Aedes aegypti dan Aedes albopictus, jenis yang sama dengan penular DBD. Nyamuk ini aktif menggigit pada pagi dan sore hari, hidup di sekitar rumah, serta berkembang biak di tempat bersih yang tergenang air.
Meski tampak mirip, keduanya memiliki perbedaan utama. Pada DBD, risiko terbesar adalah perdarahan dan syok akibat turunnya trombosit secara drastis.
“Sementara pada chikungunya, keluhan paling khas adalah nyeri sendi hebat yang bisa menetap lama, bahkan hingga enam bulan atau lebih dalam kondisi yang dikenal sebagai post-chikungunya,” jelas dr. Aisya.
Gejala chikungunya biasanya muncul 2–7 hari setelah gigitan nyamuk, meliputi:
Demam tinggi mendadak
Nyeri sendi (terutama pergelangan tangan, kaki, dan lutut)
Pembengkakan sendi
Nyeri otot dan lemas berat
Ruam kemerahan pada sebagian kasus
“Penyakit ini menjangkit semua kelompok usia tetapi bayi, anak kecil, dan penderita penyakit seperti jantung dan diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi berat,” tambahnya.
Chikungunya umumnya jarang menyebabkan kematian, tetapi tetap berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa (KLB), terutama di wilayah padat penduduk dengan banyak genangan air.
Bisakah Chikungunya Dicegah?Hingga kini belum ada obat antivirus spesifik untuk chikungunya. Penanganan bersifat suportif, seperti:
Istirahat cukup
Mencukupi kebutuhan cairan
Pemberian obat penurun panas dan pereda nyeri sesuai anjuran dokter
Karena itu, pencegahan menjadi langkah utama. Gerakan 3M Plus (menguras, menutup, dan mendaur ulang/mengubur barang bekas) tetap menjadi cara sederhana namun efektif untuk melindungi keluarga dari gigitan nyamuk.




