Feri Situmorang (53 tahun) bergantung pada kruk atau tongkat untuk sekadar berdiri, tapi ia tak menyerah dan tetap berupaya mencari rezeki meski hanya menjadi tukang parkir.
Ditemui di area parkir yang dijaganya, yakni di depan sebuah gerai waralaba di Kota Medan, Jumat (27/2), Feri menceritakan asal-muasal tongkat itu.
Pada 2023, Feri ditabrak sebuah sepeda motor saat mengendarai becak motor.
Akibat kecelakaan itu, kaki Feri tidak bisa digerakkan selama dua tahun karena cedera ACL (Anterior Cruciate Ligament).
Saat itu, ia mendapatkan asuransi kecelakaan untuk biaya operasi sehingga kedua kakinya masih bisa digerakkan, meski tidak kembali normal.
Ia pun terpaksa beralih pekerjaan menjadi tukang parkir.
“Diobati waktu kecelakaan, dua tahun baru bisa sembuh tapi enggak sempurna. Itulah karena jalan juga susah,” kata Feri.
Feri memiliki dua anak dan seorang istri yang masih menjadi tanggungannya. Istrinya bekerja sebagai pengupas bawang di pasar, sedangkan anaknya melanjutkan pendidikan. Ia yakin Tuhan akan memberikan rezeki.
Makan Cuma Nasi dan KecapPendapatan Feri dari hasil parkir sekitar Rp 50.000-Rp 60.000 per hari. Uang itu harus ia cukupkan untuk menghidupi keluarganya. Bahkan, ia kerap makan nasi dengan kecap atau ikan asin.
“Kalau dibilang cukup, enggak cukup. Cuma ya dicukup-cukupilah. Karena hidup kan tetap berjalan. Makan pakai kecap, makan pakai ikan asin. Mudah-mudahan Tuhan kasih rezeki,” ucap Feri.
Feri memiliki anak yang sedang menempuh pendidikan kuliah jurusan kesehatan di salah satu universitas di Kota Medan. Ia khawatir pendidikan anaknya terhenti di tengah jalan karena terkendala biaya.
“Baru masuk kuliah. Ada bantuan dari jalur sekolah ke pemerintah. Itu pun enggak tahu bisa lanjut atau enggak karena perlu uang praktik dan ongkos,” kata Feri.
Tak sedikit karakter orang yang ia temui saat memarkirkan kendaraan. Ada yang sombong, ada pula yang memberi uang dengan ikhlas. Feri tidak mempermasalahkan jika ada yang tidak membayar uang parkir.
“Kalau dikasih, kasih. Kalau enggak, enggak apa-apa. Kita kan hanya parkir biasa saja. Saya sudah melihat macam-macam manusia, ada yang sombong, ada yang bilang terima kasih, ‘enggak ada uang receh, terima kasih ya’,” ujar Feri.
Meski harus menggunakan tongkat, Feri berharap kakinya bisa pulih seperti semula dan ia dapat memperoleh pekerjaan yang lebih baik.
BPJS-nya DinonaktifkanFeri sempat memiliki BPJS gratis dari pemerintah. Namun, kini kepesertaannya kemungkinan dinonaktifkan karena pembaruan data penerima.
“Kalau dulu bisa kerja bangunan. Kalau enggak ada kerja bangunan, bisa bawa becak. Tapi sekarang enggak mungkin. Jadi tukang parkir saja dulu. Mudah-mudahan kesehatan lebih baik, bisa cari kerja yang lain,” imbuh Feri.
“BPJS gratis, tapi sekarang enggak. Sudah diperbarui, kemungkinan kita dinonaktifkan,” sambungnya.
Feri tetap melanjutkan hidup sebagai tukang parkir dan berjuang demi keluarganya. Bagi Feri, hidup bukan sekadar kata-kata, melainkan pembuktian.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5515869/original/004607800_1772200609-2549.jpg)

