JAKARTA, DISWAY.ID-- Selama ini, ingatan kolektif bangsa Indonesia terpaku pada 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan. Namun, sejarah mencatat bahwa Proklamasi 1945 berkumandang tepat pada 9 Ramadhan 1364 Hijriah.
Momentum sakral yang memadukan semangat patriotisme dan spiritualitas inilah yang dihidupkan kembali oleh Keluarga Besar Thoriqoh Qoodiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) Suryalaya Sirnarasa.
Bertempat di kawasan bersejarah Tugu Proklamasi, Jakarta, ribuan jemaah berkumpul dalam kegiatan "Dzikir & Doa Bersama Pengajian Anti Gempa – Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani", Jumat (27/2).
BACA JUGA:Kemendikdasmen Gandeng BPS Gelar Sensus Pendidikan Nasional
Dipimpin langsung oleh Mursyid TQN Suryalaya Sirnarasa, Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul (Abah Aos), acara ini mengusung misi besar yaitu memperkokoh persatuan demi kejayaan agama, negara, dan peradaban dunia.
Ketua Panitia Pengarah, KH. Budi Rahman Hakim, M.S.W., Ph.D., mengungkapkan bahwa narasi kemerdekaan selama ini sering kali direduksi hanya pada aspek politik dan perjuangan fisik. Padahal, dimensi spiritualitas Islam memiliki peran yang sangat sentral.
"Proklamasi tidak lahir di ruang hampa. Ia hadir di tengah suasana Ramadhan, diiringi ibadah, doa, dan dzikir. Menghidupkan kembali kesadaran 9 Ramadhan adalah upaya kita agar bangsa ini tidak tercerabut dari akar nilai keimanan," tegas Kiai Budi.
Dzikir kebangsaan dan Doa Bersama di Tugu Proklamasi, Jakarta -ist-
Bagi penyelenggara, 17 Agustus dan 9 Ramadhan bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dua lapisan yang saling melengkapi. Satu sebagai identitas kenegaraan secara administratif, dan satu lagi sebagai fondasi spiritualitas yang mendalam.
Kegiatan yang dimulai sejak dini hari ini melibatkan rangkaian khataman Al-Qur'an, manaqib, hingga khidmah ilmiah.
BACA JUGA:Rencana Induk Pemerintah Digital 2025–2045, Perkuat Tata Kelola dan Layanan Publik Berbasis Data
Menariknya, dzikir dalam forum ini tidak hanya dipandang sebagai praktik individual (kesalehan pribadi), melainkan ditempatkan sebagai energi sosial kolektif.
Dzikir dipahami sebagai mekanisme pembentukan karakter batin yang berdampak pada stabilitas nasional.
Dengan dzikir, lahir sikap rendah hati, empati, dan kemampuan menahan konflik di tengah polarisasi sosial yang kerap melanda negeri.
Dalam momen ini pula, diperkenalkan konsep Penghulu Pesantren Ketahanan Nasional (PPKN). Sebuah model integratif yang memposisikan pesantren dan tarekat bukan sekadar pusat pendidikan agama, melainkan institusi sosial yang menjaga stabilitas dan karakter bangsa secara konkret.
- 1
- 2
- »





