Stunting masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stunting nasional berada pada angka 21,5 persen, yang berarti satu dari lima balita di Indonesia mengalami gangguan pertumbuhan.
Pemerintah menargetkan penurunan angka stunting hingga 14 persen sebagai bagian dari agenda prioritas pembangunan kesehatan. Tantangan tersebut tidak hanya memerlukan intervensi nutrisi yang tepat, tetapi juga sistem pendataan yang akurat dan terintegrasi agar setiap upaya yang dilakukan dapat terukur dan berkelanjutan.
Merespons tantangan tersebut, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mengambil langkah konkret dalam mendukung percepatan penurunan angka stunting melalui program intervensi gizi terpadu. Sebagai perusahaan digital telco terdepan, Telkom memadukan pendekatan bantuan fisik dengan pemanfaatan teknologi melalui kehadiran platform digital Stunting Action Hub.
Platform tersebut memungkinkan pencatatan dan pemantauan parameter pertumbuhan seperti tinggi badan, berat badan, serta status gizi anak secara terstruktur dan berkelanjutan, sehingga proses evaluasi intervensi dapat dilakukan secara lebih presisi.
Data Penanganan Stunting yang Terintegrasi
Program intervensi gizi terpadu ini dilaksanakan sepanjang Januari–Desember 2025 di sembilan provinsi di Indonesia yakni Lampung, Sumatera Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Sulawesi Selatan.
Sebanyak 3.169 anak telah menjadi penerima manfaat dari program ini, dan 1.231 anak di antaranya telah terintegrasi ke dalam sistem digital Stunting Action Hub. Program ini menjadi bagian dari kontribusi Telkom terhadap target nasional penurunan stunting, sekaligus memperkuat fondasi kualitas sumber daya manusia menuju visi Indonesia Emas 2045.
Pelaksanaan program dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan di tingkat daerah guna memastikan distribusi bantuan nutrisi dan pendampingan berjalan efektif serta tepat sasaran.
SGM Social Responsibility Telkom, Hery Susanto, menyampaikan bahwa pendekatan berbasis data menjadi elemen penting dalam memastikan keberhasilan program intervensi gizi terpadu. Pihaknya memandang bahwa penanganan stunting tidak hanya memerlukan bantuan logistik, tetapi juga penguatan ekosistem data yang terintegrasi.
“Melalui Stunting Action Hub, kami berupaya memastikan setiap intervensi yang diberikan dapat terpantau secara terukur dan real-time,” ujarnya.
Dia menambahkan sinergi antara bantuan fisik dan inovasi digital ini merupakan kunci untuk menciptakan dampak yang berkelanjutan, sekaligus menunjukkan komitmen Telkom bahwa teknologi harus hadir untuk menyelesaikan masalah kemanusiaan yang paling mendasar.
Adapun, program ini merupakan bagian dari implementasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Telkom yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) poin ke-3, yakni Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being).
Melalui sinergi intervensi gizi dan digitalisasi data kesehatan, Telkom terus mendorong praktik penanggulangan stunting yang lebih efektif, transparan, dan berkelanjutan sebagai kontribusi nyata dalam membangun generasi masa depan Indonesia yang sehat dan berdaya saing.




