Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tiba-tiba berakhir stagnan pada perdagangan hari ini, Jumat (27/2/2026), setelah tertekan dalam sepanjang hari.
IHSG yang sempat tercatat turun 1,47% mampu memangkas koreksi secara signifikan dan berakhir menguat tipis. Pada akhir perdagangan sesi kedua IHSG stagnan atau naik 0,22 poin ke level 8.235,48.
Dari sisi likuiditas, nilai transaksi tercatat mencapai Rp38,25 triliun dengan volume 47,64 miliar saham dalam 2,53 juta kali transaksi. Sebanyak 315 saham melemah, 341 saham menguat, sementara 163 stagnan.
Mengutip data Refinitiv, kinerja suboptimal IHSG hari ini terutama disebabkan oleh koreksi saham-saham berkapitalisasi jumbo (big caps) yang memiliki bobot besar terhadap indeks.
Berikut 10 emiten yang menjadi penekan utama berdasarkan kontribusi penurunan indeks (index points) antara lain:
- Dian Swastatika Sentosa (DSSA): -14,42 poin
- Bank Central Asia (BBCA): -11,84poin
- Telkom Indonesia (TLKM): -11,57 poin
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI): -6,26 poin
- United Tractors (UNTR): -4,31 poin
- Chandra Asri Pacific (TPIA): -5,19 poin
- Bank Mandiri (BMRI): -3,88 poin
- Indofood Sukses Makmur (INDF): -2,52 poin
- Bank Mega (MEGA): -2,33 poin
- Astra International (ASII): -2,05 poin
Terlihat bahwa tekanan terbesar berasal dari kelompok saham energi dan konglomerasi (BREN, DSSA, TPIA), serta perbankan besar (BBCA dan BBRI) yang memiliki bobot signifikan dalam struktur indeks.
Adapun pada perdagangan Jumat ini pergerakan pasar saham berpotensi bergerak cenderung sideways dengan potensi melemah. Ruang koreksi terbuka setelah pada perdagangan Kamis kemarin pelaku pasar mulai melakukan aksi ambil untung atau taking profit.
Dari sisi teknikal, pelemahan IHSG pada Kamis kemarin juga membuat sinyal koreksi lanjutan kian terlihat. Indikasinya muncul lewat terbentuknya pola Bearish Rising Wedge, yakni pola kenaikan harga yang terjadi dalam rentang pergerakan yang makin menyempit. Kondisi ini kerap dibaca sebagai tanda penguatan yang mulai kehilangan tenaga dan rawan berbalik arah.
Pola tersebut muncul setelah IHSG sempat anjlok pada akhir Januari kemarin, lalu perlahan menanjak. Namun, indeks beberapa kali gagal menembus level psikologis 8.400. Gagalnya penguatan di area itu kemudian diikuti pembentukan wedge, yang secara teori sering berakhir dengan penembusan ke bawah dan memicu koreksi lanjutan.
Jika skenario Bearish Rising Wedge ini terkonfirmasi, IHSG setidaknya berpotensi menguji area support di kisaran 7.900 hingga 7.800, atau membuka ruang penurunan sekitar 4%.
(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google




