REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim atau yang akrab disapa Bang ‘Imad lahir pada 21 April 1931 di Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Kalangan Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat, menjulukinya sesepuh Departemen Teknik Elektro. Namanya dikenang tidak hanya sebagai akademisi, tetapi juga mubaligh nasional.
Bang 'Imad merupakan seorang pendiri Masjid Salman ITB. Dia keturunan alim ulama. Ayahandanya, Haji ‘Abdulrahim Abdullah, merupakan alumnus Universitas al-Azhar (Mesir). Sukunya, Minangkabau. Sang ayah juga aktif di dunia politik sebagai anggota Konstituante dari Partai Masyumi. Ibundanya, Syaifatul Akmal, adalah keturunan bangsawan Kesultanan Langkat.
- Kemenhut Periksa Legalitas Rakit Kayu di Sungai Kapuas
- Perpustakaan Ramai, Tapi Buku Masih Sepi? Saatnya Mahasiswa Klik Otak, Bukan Hanya Wi-Fi
- Jadwal Buka Puasa Hari Ini: 27 Februari 2026 di Yogyakarta
Cerita tentang sang ayah yang pernah menimba ilmu di Mesir tidak lepas dari peran Kesultanan Langkat. Bapaknya (kakek dari Bang 'Imad) adalah pengurus masjid kerajaan tersebut sejak 1870-an. Anaknya ('Abdulrahim) lantas dititipkan kepada mufti Kesultanan Langkat, Haji Majjadah, untuk menjadi santri. Sesudah menikah, pasangan 'Abdulrahim dan Syaifatul Akmal berangkat ke Tanah Suci, lalu lanjut ke Kairo.
Semasa di Mesir, pasangan tersebut dikaruniai anak pertama, Abdulrahman, tetapi buah hati mereka itu wafat tidak lama kemudian. Sesudahnya, mereka memeroleh keturunan lagi, yakni dua orang putri. Sekembalinya di Tanah Air, lahirlah putra mereka, Muhammad ‘Imaduddin. Lima tahun kemudian, lahir ‘anaknya yang lain, Abdullah.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Masa kecilnya
Rifki Rosyad dalam A Quest for True Islam (1995), memaparkan masa kecil ‘Imaduddin Abdulrahim. Orang tuanya mengajarkan kepadanya dasar-dasar agama Islam. Selain itu, sang ayah juga kerap menuturkan kisah-kisah heroik nan inspiratif tentang perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat.
Di rumahnya, ‘Imaduddin dan para saudara ditempa secara disiplin. Tidak ada waktu terbuang sia-sia. Misalnya, lima shalat wajib harus di awal waktu. Harus rutin mengaji.
Di luar rumah, ‘Imaduddin menempuh pendidikan dasar di sekolah Belanda, Hollandsch Inlandsche School (HIS). Masa kecilnya tidak lepas dari suasana perjuangan bangsa Indonesia mengusir penjajah.



