TABLOIDBINTANG.COM - Tren perawatan wajah tanpa operasi makin diminati. Salah satu prosedur yang paling populer adalah penyuntikan toksin botulinum atau yang lebih dikenal sebagai botox. Tapi sebenarnya, seberapa aman tindakan ini? Dan bagaimana cara kerjanya di dalam tubuh?
Menurut dr. Raynald Agus Setiawan, toksin botulinum dalam dunia medis sudah lama digunakan, terutama untuk menangani kerutan dinamis yakni kerutan yang muncul akibat pergerakan otot ekspresi seperti saat tersenyum atau mengernyit.
“Secara medis kita mengenal kerutan dinamis dan statis. Toksin umumnya digunakan untuk kerutan dinamis, tapi sekarang juga bisa untuk contouring hingga mengurangi keringat berlebih,” jelasnya.
Cara Kerja: Melemahkan Otot Ekspresi
Toksin botulinum adalah protein biologis yang bekerja dengan cara melemahkan aktivitas otot, terutama otot ekspresi di area wajah bagian luar.
Ketika otot dilemahkan dr. Raynald menjelaskan kontraksi berkurang, sehingga garis-garis halus dan kerutan tampak lebih samar bahkan hilang.
Tak hanya untuk dahi atau area sekitar mata (upper face), toksin juga bisa digunakan untuk mengecilkan otot rahang. Hasilnya, wajah terlihat lebih tirus dan simetris.
“Pada pasien dengan otot rahang besar, penyuntikan toksin bisa membuat wajah tampak lebih kecil,” tambahnya ditemui di sebuah klinik kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (26/2) siang.
Secara umum menurut dr. Raynald tindakan ini cocok untuk berbagai jenis kulit, baik berminyak maupun kering. Namun faktor usia tetap menjadi pertimbangan.
Pada usia 20–30 tahun, toksin sering digunakan sebagai tindakan preventif agar kerutan tidak berkembang. Sementara pada usia lanjut di atas 65 tahun, perlu analisis medis terlebih dahulu untuk memastikan pasien kandidat yang tepat.
"Pernah saya dapat pasien lansia. Biasanya karena beliau sejak muda sudah rutin melakukan penyuntikan toksin. Namun kembali lagi, semua tergantung teknik dokter dan dosis yang harus benar-benar disesuaikan dengan kondisi pasien," jelas dr. Raynald yang sudah 12 tahun berpraktik.
"Jika toksin disuntikkan terlalu banyak, hasilnya justru bisa kurang baik. Pasien yang berharap terlihat lebih cantik malah bisa mendapatkan efek yang tidak natural," lanjutnya.
3-6 Bulan Sekali
Salah satu alasan tindakan ini digemari adalah downtime yang sangat minimal. Namun tetap ada kemungkinan reaksi ringan seperti pusing ringan, bengkak kecil di area suntikan hingga kemerahan sementara.
“Respons setiap orang berbeda. Karena itu edukasi sebelum tindakan sangat penting agar pasien punya ekspektasi realistis,” tegasnya.
Efek maksimal biasanya terlihat dalam 3–14 hari setelah penyuntikan. Artinya, wajah tidak langsung ‘kencang’ keesokan harinya seperti yang sering dibayangkan.
Menurut dr. Raynald, kunci keberhasilan bukan hanya pada produk, tapi juga teknik dan dosis.
Jika disuntik terlalu banyak, hasilnya bisa terlihat tidak natural. Karena itu konsultasi awal sangat penting untuk menyamakan goals antara dokter dan pasien.
“Kalau secara medis bisa dilakukan dan hasilnya realistis, kita kerjakan. Kalau tidak memungkinkan, harus disampaikan dengan jujur.”
Umumnya perawatan dilakukan setiap 3–6 bulan sekali. Idealnya dua kali dalam setahun. Namun jadwal bisa berbeda tergantung respons tubuh masing-masing pasien.
Menariknya, setelah penyuntikan pertama, biasanya garis kerutan akan semakin halus di sesi berikutnya. Karena itu banyak pasien merasa puas dan melanjutkan treatment sebagai bagian dari perawatan kecantikan jangka panjang.




