Pengguna media sosial di Kalimantan Timur sempat membicarakan menu Makan Bergizi Gratis atau MBG yang tidak umum digunakan. Pada Kamis (5/2/2026), beredar video siswa mengantre untuk mendapatkan plastik bening berisi kelapa muda utuh.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dapur Gas Alam Badak 1 menyatakan, video tersebut adalah dokumentasi pembagian menu MBG di SDN 001 Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara.
”Ketidaklengkapan narasi visual dalam unggahan awal menjadi faktor utama yang membuat informasi berkembang tidak sesuai dengan fakta di lapangan,” kata Kepala SPPG Dapur Gas Alam Badak 1 Abdi Nolima melalui video keterangan yang diterima Kompas, Jumat (27/2/2026).
Video berdurasi 17 detik tersebut hanya merekam pembagian kelapa muda utuh kepada siswa. Dalam video, siswa kemudian beranjak pulang membawa buah tersebut. Beberapa siswa berjingkrak terlihat senang.
Namun, Abdi melihat narasi di media sosial berkembang ke mana-mana. Beberapa salah sangka bahwa menu MBG hanya berupa kelapa muda utuh.
Abdi mengatakan, para siswa pada hari itu menerima paket gizi lengkap yang terdiri dari dua jenis menu. ”Menu kering berupa kelapa muda, roti abon, telur, dan susu,” katanya.
Adapun menu kedua berupa menu basah yang terdiri dari nasi putih, telur kecap, tahu goreng tepung, tumis wortel jagung, dan potongan buah semangka.
Kepala Seksi Humas Polres Bontang Ajun Komisaris Dany mengatakan, kepolisian turut mengecek kabar yang simpang siur tersebut. Menu kering yang di dalamnya terdapat kelapa muda, kata Dany, dibagikan sebagai kompensasi hari libur saat kegiatan bimbingan teknis guru.
Dani mengatakan, stok buah jeruk yang ada tidak diberikan kepada siswa karena khawatir menimbulkan dampak kesehatan tertentu bagi beberapa anak jika dikonsumsi bersamaan dengan susu.
”Penggunaan kelapa muda telah dikoordinasikan dengan pihak sekolah dan telah diterima oleh 262 siswa,” kata Dany.
Abdi mengakui, penggunaan kelapa muda utuh bukan sajian yang umum diberikan dalam program MBG. Hal ini memicu spekulasi di medsos karena tidak ada penjelasan rinci.
Ia mengatakan, pihaknya berkomitmen melakukan evaluasi terhadap sistem perencanaan menu. ”Agar variasi makanan yang disajikan lebih mudah dipahami dan tidak memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat,” ujar Abdi.
Kelapa utuh dalam menu MBG juga ada di Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Mengutip Kompas.com, hal itu terjadi di SPPG BUMdes Sejahtera, Desa Rek Kerrek, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, Kamis (12/2/2026). Selain kelapa, diberikan juga roti, telur, dan susu.
Kepala SPPG BUMDes Sejahtera Hairul Hafid mengatakan, kelapa utuh diberikan karena petugas tidak memiliki cukup waktu untuk mengupasnya. Dia beralasan, hal itu hanya percobaan di bulan Ramadhan.
Koordinator MBG Pamekasan, Hariyanto Tri Arif, mengatakan, kelapa utuh bukan makanan siap santap. Sesuai aturan, hanya makanan siap santap yang bisa diberikan. ”Semua SPPG sudah sering diingatkan tentang aturan itu,” katanya.
Di Kota Malang, pemberian buah pisang yang tidak ideal dikeluhkan warga. Salah satu warga Blimbing menyebut, pisang dalam menu kering MBG tidak layak konsumsi. Jagungnya juga dinilai terlalu kering.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Malang Slamet Husnan mengatakan, semua makanan yang disajikan di MBG sudah memenuhi srandar gizi. Namun, ia berjanji menelusuri kasus ini.
Namun, tidak semua pemberian buah utuh menyalahi aturan atau buruk kualitasnya. Pernah terjadi kontroversi menu MBG akibat minimnya sosialisasi.
Salah satunya terjadi di Gunung Sindur, Pengasinan 1, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. SPPG Gunung Sindur membagikan buah kecapi dalam menu MBG, Senin (19/1/2026).
Hal itu menuai protes warga. Ujungnya, pengelola SPPG Gunung Sindur meminta maaf sehari kemudian.
Dokter dan ahli gizi masyarakat, Tan Shot Yen, mengatakan, buah kecapi sebenarnya mengandung nilai gizi cukup untuk anak-anak. Artinya, tidak ada salahnya memasukkan buah tersebut ke dalam menu MBG.
Namun, tampaknya buah tersebut tidak familiar di kalangan masyarakat. Akibatnya, hal itu mendapat penolakan. Ke depan, dia menilai, ahli gizi perlu melakukan edukasi untuk memperkenalkan makanan, terutama yang berasal dari kearifan lokal.





